
Hari ini adalah hari pertama aku bekerja sebagai staf tim pemasaran Campbell Corporation. Bersama dengan Sandra yang membimbingku dan membantuku untuk melakukan tugas apa saja yang harus aku lakukan, aku telah bertekad akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Aku akan membuktikan jika aku mampu melakukan pekerjaanku dengan baik agar pria bernama Henry Bastian Campbell itu tak meremehkanku lagi.
“Kau sudah mengerti apa saja yang harus dilakukan sampai sejauh ini, Angelin?” Sandra bertanya memastikan setelah ia selesai menjelaskan apa saja tugasku.
Aku mengangguk dan menjawab, “Aku mengerti, Sandra. Terima kasih atas bantuanmu.”
“Tak perlu sungkan, katakan saja jika masih ada yang belum kau pahami.” Sandra mengulas senyum tulusnya padaku.
“Kau lihat itu, Mr. Campbell sudah datang.”
“Tak biasanya ia berangkat siang seperti ini, ada apa?”
“Siapa yang tahu, seorang CEO sempurna seperti dia, bebas melakukan apa pun.”
Bisik-bisik dari beberapa staf terdengar olehku. Semua mata tertuju pada sosok bertubuh atletis dengan paras rupawan terlihat melangkah dengan penuh wibawa berjalan menuju ke ruangan CEO yang letaknya hanya beberapa meter dari meja kerjaku. Siapa lagi jika bukan Henry Bastian Campbell?
“Selamat siang, Sir.”
Semua orang di ruangan itu tampak menyapa dan menunjukkan senyuman terbaiknya pada pria yang terlihat seolah seperti malaikat, namun tidak di mataku. Aku yang tetap cuek dengan pekerjaanku, tersentak saat Sandra menyikut tangannya padaku.
“Tersenyumlah menyapa CEO kita, Angelina,” bisiknya tanpa mengalihkan pandangannya pada Henry yang berjalan melewati meja kerjaku.
“Ah, maaf. Aku tidak tahu,” aku beralasan.
__ADS_1
“Lain kali kau harus menyapanya, jika kau tak ingin dipecat, Angelina. Mr. Henry Bastian Campbell adalah orang yang paling berkuasa di Campbell Corporation. Dia adalah sosok gambaran CEO sempurna impian setiap orang,” ucap Sandra penuh semangat.
“Oh, ya.” Aku menyahut dengan senyuman dipaksakan. Jangankan mendengar ceritanya, menyebut namanya saja aku merasa enggan.
“Dan kau tahu, Angelina. Kami para wanita yang mengaguminya merasa patah hati karena ternyata dia sudah memiliki pasangan.”
Aku langsung tercekat saat Sandra mengucapkan hal itu padaku, dengan gugup aku pun berkata, “Apa maksudmu, Sandra?”
“Astaga, Angelina. Apa kau tidak melihat ataupun mendengar berita apa pun yang sedang ramai menjadi pembicaraan? Jika Mr. Campbell sudah memiliki kekasih, dan wanita itu adalah Carla Queen Baker. Seorang supermodel terkenal. Sungguh wanita berkelas atas yang sulit untuk dijadikan saingan.”
Aku mendengus, merasa lega ternyata wanita bernama Carla lah yang dimaksud oleh Sandra.
“Ada apa denganmu, Angelina? Sepertinya kau sama sekali tidak tertarik?” Sandra menatap penuh tanya padaku yang terlihat pasif dan datar.
“Benarkah?? Apa kau memiliki pengalaman buruk dengan pria tampan yang membuatmu trauma, Angelina? Ah, sungguh disayangkan. Padahal kau sudah cantik seperti ini masih saja diperlakukan tidak adil oleh pria.” Sandra menatapku dengan simpati dan aku hanya tersenyum tipis seakan mengiyakan.
“Baiklah, aku mengerti. Tetaplah semangat, Angelina. Jika ada pria jahat yang berusaha mengganggumu lagi, kau jangan sungkan menceritakannya padaku agar aku bisa membantumu,” ucap Sandra, dapat kulihat ketulusan di matanya.
“Terima kasih, Sandra,” aku menyahut seraya tersenyum.
“Sekarang kembalilah bekerja. Nanti saat waktu istirahat aku akan memperlihatkan setiap bagian gedung ini dan memperkenalkan beberapa temanku dari tim yang lain,” sambung Sandra kembali.
...
__ADS_1
Sepulang bekerja aku merasa cukup lelah, pekerjaan sebagai staf magang di Campbell Corporation ternyata cukup berat di hari pertama aku bekerja. Meskipun tubuhku lelah, namun hatiku sangat senang karena bagaimana pun ini adalah pengalamanku bekerja. Aku masih berada di Inggris untuk menempuh pendidikan di salah satu universitas terbaik di dunia di sana, ketika aku mendapatkan kabar jika ayah mengalami serangan jantung hingga akhirnya meninggal dunia beberapa bulan yang lalu. Itulah sebabnya aku belum pernah memiliki pengalaman bekerja di mana pun selama ini.
Namun, sepertinya keputusanku untuk bekerja adalah keputusan yang terbaik. Aku merasa beruntung di antara kemalanganku kini aku mendapatkan teman baru yang baik hati seperti Sandra dan beberapa rekan kerja yang lain. Meskipun aku harus muak karena setiap hari pasti akan mendengar banyak cerita tentang Henry yang bagiku terdengar berlebihan. Banyak dari para wanita di perusahaan yang begitu menyanjung pria iblis berparas malaikat itu. Seberapa besar mereka menyanjung, aku akan tetap mencoba bersikap buta dan tuli. Aku tak peduli dengan apa pun tentang Henry Bastian Campbell.
Malam itu aku yang baru saja selesai mandi dan hendak berpakaian dikejutkan oleh seseorang yang dengan tiba-tiba membuka pintu kamar. Sontak aku pun memekik, di saat yang sama itu juga sosok itu muncul kembali dengan ekspresi dinginnya yang datar.
“Bagaimana bisa kau datang dengan tiba-tiba seperti itu, Henry?!” protesku dengan segera memakai gaun malam untuk menutupi tubuh polosku.
“Ini rumahku. Apa itu menjadi masalah untukmu?” Pria yang masih memakai setelan jas kerja yang sama aku lihat pagi tadi menyahut datar seakan tanpa dosa.
Aku tersenyum kecut, dan mendengus merasa kesal. Kemudian beranjak ke ranjang untuk merebahkan diri seolah tak menganggap ada seseorang di dalam kamar, hingga aku cukup terkejut saat suara keras menegur sikapku yang terkesan cuek.
“Apa begitu sikapmu menyambut suamimu saat pulang bekerja, Angelina Louis?!” Aku bisa melihat kilat kemarahan di manik matanya sekarang.
“Astaga, maaf. Aku lupa jika aku sudah memiliki suami.” Aku bangkit dan menghampiri pria yang masih berdiri menatap tajam padaku, “Apa yang kau inginkan, Sayang? Apa kau ingin aku membuatkanmu minum atau melepas jas kerjamu ini?” Aku sengaja menampilkan senyum terbaikku di depannya.
“Berhenti bersikap memuakkan, Angelin! Apa kau lupa bahwa aku yang telah memberikan kebebasan padamu?” Henry mencengkeram lenganku dengan kasar.
“Tentu aku tidak lupa, Henry. Aku hanya bersikap seperti apa yang telah kau ajarkan padaku. Hubungan suami istri kita hanya sebatas hubungan kontrak. Jadi aku pikir aku tak perlu melakukan kewajibanku seperti istri yang sesungguhnya,” ucapku dengan sikap tenang.
Rahang Henry mengatup rapat, tatapannya semakin tajam menatapku, aku menyiapkan diri jika dia akan menamparku atau bahkan memperlakukanku dengan kasar lagi seperti waktu itu. Namun, yang terjadi sungguh di luar dugaan, Henry justru melenggang pergi keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun padaku.
Aku mengerjapkan kedua mataku berulang kali, merasa bingung dan terkejut dengan sikapnya yang tak seperti biasa. Ada apa dengannya? Mungkinkah dia sudah kehilangan kata-kata lagi untuk memakiku seperti yang biasa ia lakukan selama ini? Atau jangan-jangan Henry sedang merencanakan sesuatu yang buruk untuk membalas sikapku padanya tadi?
__ADS_1