
Seorang pria gagah berparas rupawan dengan tubuh proporsionalnya yang tinggi dan tegap mampu mencuri perhatian setiap orang yang melihatnya, saat pria itu berjalan dengan langkah kokohnya yang panjang dan mantap keluar dari bandara. Perjalanan dari Milan menuju ke New York City yang cukup melelahkan tak membuat penampilannya buruk. Wajah maskulinnya yang tampan tetap terlihat tanpa cacat, meskipun gaya berpakaian sang pria terlihat santai dan kasual, namun semua itu tak membuat pesona sang pria berkurang.
Pandangan matanya berhenti pada seorang pria dengan setelan jas lengkap yang berdiri di salah satu sisi mobil sport limited edition yang cukup mencolok mata. Seakan tahu satu sama lain, pria berjas rapi itu mendekati sang pria dan menyapa.
“Apakah Anda Tuan Axel Campbell?” tanya pria berjas itu memastikan.
“Jadi kau yang bertugas menjemputku?” Pria yang ternyata bernama Axel Campbell itu menyahut.
“Anda benar, Tuan. Perkenalkan saya Felix, orang yang ditugaskan Tuan besar untuk menjemput dan mendampingi Anda selama Anda berada di sini,” Pria bernama Felix itu memperkenalkan diri.
“Tak kusangka pria tua itu akan memberikan sambutan selamat datang padaku seperti ini.” Pria berumur awal tiga puluhan itu tersenyum miring penuh arti.
“Saya akan mengantarkan Anda ke mansion Tuan besar sekarang,” ucap Felix.
“Tidak, antar aku ke hotel terbaik di kota ini. Aku menolak keras untuk tinggal di mansion, di mana tempat itu membuatku mengingat kenangan yang sudah aku lupakan,” tegas Axel tanpa basa-basi.
“Ta-pi, jika Tuan besar...?” Felix tak sempat melanjutkan ucapannya karena Axel memotongnya dengan cepat.
__ADS_1
“Bukankah aku adalah Tuanmu sekarang? Maka lakukan saja apa yang aku perintahkan!” tukas Axel dengan gayanya yang penuh wibawa.
“Baik, Tuan. Saya mengerti. Saya akan mengantarkan Anda ke hotel terbaik seperti yang Anda minta,” Axel berkata patuh.
“Bagus.”
Bagi Axel Campbell ini adalah untuk pertama kalinya ia kembali ke kota asal kelahirannya setelah kurang lebih tujuh belas tahun lamanya ia pergi dari New York bersama dengan mendiang ibunya yang telah meninggal satu tahun yang lalu, karena penyakit kanker yang dideritanya. Selama itu pun sang ayah kandung selalu membujuknya dengan berbagai cara agar Axel mau kembali pulang ke New York, namun baru kali ini akhirnya Axel mau untuk kembali ke New York City.
Axel bukanlah pria naif yang pemaaf. Tentu ia mau menyanggupi permintaan Arthur Campbell sebagai ayah kandungnya, bukan tanpa alasan atau yang lebih tepatnya dengan sebuah syarat. Sang ayah telah menyanggupi syarat yang telah Axel minta, oleh sebab itu akhirnya Axel Campbell mau kembali ke kota yang sudah lama ia tinggalkan selama bertahun-tahun dengan meninggalkan kepedihan dan juga rasa sakit hati di masa lalu.
***
Sepulang bekerja, aku sengaja mampir di sebuah supermarket yang letaknya hanya beberapa blok dari rumah untuk membeli kebutuhan bulanan. Masih dengan pakaian kantorku, aku sibuk memilih barang apa yang aku cari. Hingga ketika aku hendak mengambil satu barang yang menyita perhatianku, di saat yang sama itu pula sebuah tangan menyentuh barang yang ingin aku ambil. Aku pun tersentak dan seketika itu juga aku berpaling pada si pemilik tangan di sebelahku.
“Maaf.”
Tampak sepasang mata tajam menatapku dengan ekspresi sama halnya sepertiku, sama-sama terkejut.
__ADS_1
“Kau bisa mengambilnya, Miss,” ucap pria itu dengan senyuman diagonalnya yang nyaris tak kentara.
“Terima kasih, tapi apakah tidak apa? Karena sepertinya Anda yang lebih dulu menyentuhnya,” aku menyahut tak enak hati.
“Tidak, aku bisa mengambil barang yang lain,” ujar pria berambut gelap itu. Melihat wajah tampannya entah kenapa mengingatkanku pada seseorang.
“Kalau begitu terima kasih.” Aku menjawab seraya tersenyum tipis. Tak mau terlibat perbincangan lebih lama, setelah itu aku berbalik melangkah menuju kasir untuk segera membayar semua barang-barang yang aku butuhkan. Kemudian berjalan kaki pulang ke rumah. Letaknya yang tidak terlalu jauh dari rumah membuatku lebih nyaman untuk berbelanja di supermarket tadi. Beberapa menit aku berjalan, sebuah mobil sport dengan tiba-tiba berhenti tepat di sampingku dan menepi di pinggir trotoar. Secara refleks aku menoleh dan menghentikan langkahku. Siapa? Secara mengejutkan seorang pria keluar dari dalam mobil, pria tampan yang aku temui tadi di supermarket. Ya, pria yang sama.
“Kau meninggalkan sesuatu yang penting tadi, Miss.” Ucap pria itu seraya memberikan sesuatu padaku, membuatku melongo menatapnya bingung.
Sebuah kartu tanda pengenal kerjaku di perusahaan. Astaga! Bagaimana bisa aku menjatuhkannya tadi?!
“Ah, terima kasih, Tuan. Cerobohnya aku sampai menjatuhkannya tadi,” makiku pada diri sendiri.
“Lain kali kau harus berhati-hati jangan sampai menjatuhkannya sembarangan, Miss. Akan berbahaya jika sampai ada orang jahat yang menemukannya,” ucap pria itu mengingatkan, “Baiklah, sampai jumpa lagi, Miss. Angelina Louis.” Sambungnya seraya tersenyum penuh arti.
Entah kenapa aku hanya bisa diam terpaku saat pria asing itu masuk ke dalam ke mobilnya kembali hingga menghilang dari pandanganku. Apa hanya perasaanku saja, jika ucapan pria tadi seperti mengartikan sesuatu? Kenapa pria itu berkata seperti tadi? Apa maksudnya? Tak mau semakin berpikir panjang, aku pun segera mempercepat langkahku untuk segera pulang ke rumah.
__ADS_1