
“Ada apa? Kau masih memikirkan tentang Henry?” Axel yang baru keluar dari kamar mandi melangkah mendekatiku yang setengah terbaring di ranjang dengan pandangan kosong.
Aku pun tersentak detik itu juga, “Tidak! Bukankah kau tahu aku sedang menonton televisi? aku beralasan dengan senyuman yang mungkin terlihat aneh bagi Axel.
“Kau pikir aku bodoh, Honey? Pandanganmu itu kosong menatap televisi.” Axel mengangkat sudut bibirnya membuatku semakin terlihat bodoh di matanya sekarang.
“Maaf, aku..., bukan maksudku-“ Ucapanku terhenti ketika tanpa disangka Axel justru mengunci bibirku dengan ciumannya hingga aku membelalakkan kedua mataku merasa kaget dengan reaksinya yang di luar dugaan itu.
“Tak perlu mengucapkannya. Tanpa kau berkata apa pun, aku sudah tahu apa yang kau pikirkan.” Axel melepas ciumannya yang singkat padaku dan menatapku dalam. Jujur tatapannya itu membuatku semakin tak berdaya sekaligus merasa bersalah padanya.
“Aku hanya takut Henry akan tahu tentang Andrew, itu saja.” Aku berpaling menghindar dari pandangan matanya padaku.
Axel menarik daguku agar menghadapnya kembali lalu berkata, “Andrew adalah putraku, apa yang kau takutkan?”
“Aku tahu. Namun, bagaimana pun Henry adalah ayah biologis dari Andrew. Henry pasti tidak akan tinggal diam jika tahu akan hal itu,” ujarku cemas.
“Hanya karena itu? Bukan karena hal lain?” Kedua alis tebal Axel saling bertaut menatapku. Melihat reaksinya yang seperti itu, jelas terlihat jika ia memang ragu denganku sekarang.
“Ya, hanya itu. Tidak ada yang lain,” jawabku meyakinkan.
“Tetapi kenapa aku merasa kau sedang berbohong padaku sekarang, Angelina?” Tampak keraguan itu semakin terlihat jelas dalam sorot mata Axel.
__ADS_1
“Aku mohon, Axel. Berhentilah mencurigaiku. Ini sudah larut malam. Ayo, kita tidur. Kau besok berangkat bekerja ‘kan?”
Tak mau memperpanjangnya lagi, aku menarik selimut dan lebih memilih menghindari sikap posesif Axel dengan memposisikan tubuhku terbaring bersiap untuk tidur.
“Tidak! Malam ini aku tidak akan membiarkanmu tidur begitu saja!” Secara mengejutkan Axel membuang selimut yang menutupi tubuhku kemudian menarik tubuhku hingga posisinya kini ada di atas tubuhku.
“Axel, apa yang kau lakukan?!” aku menatapnya bingung, merasa terkejut melihat sikapnya yang tak biasa.
“Tentu saja memakanmu! Agar tak ada nama mantan suamimu yang kau ingat lagi dalam pikiranmu itu!” tukasnya seraya melepas kasar gaun tidur tipis yang aku kenakan sekarang.
“Tidak, Axel. Aku sedang tak ingin bercinta malam ini, aku mohon!” aku mulai panik saat Axel mulai menyentuhku dengan cenderung kasar, bahkan sedikit brutal.
“Kau adalah istriku, Angelina. Jadi ingat, dilarang keras kau mengingat atau memikirkan nama pria lain dalam hati dan pikiranmu!” Geram Axel dengan mulai memposisikan tubuhnya yang sudah menegang di dalam pusat tubuhku yang kini sudah sepenuhnya terbuka tanpa penghalang.
“Liar!! I know you're lying, Angelina!” geramnya seraya menyentakkan pinggulnya kuat-kuat hingga tubuhku tersentak terdorong ke kepala ranjang.
Kepalaku menggeleng berkali-kali, mencoba menepis prasangka buruk Axel padaku tentang Henry. Aku sungguh tak menyangka jika sikapnya berubah hanya karena rasa cemburunya berlebihan. Selama empat tahun menjadi istrinya dan bercinta sebagai suami istri dengan Axel Campbell, ini adalah untuk yang pertama kalinya Axel memperlakukanku dengan kasar. Sentuhan dan perlakuannya yang seperti ini justru mengingatkanku pada Henry yang selalu menyentuhku dengan kasar ketika dulu menginginkan haknya sebagai suami.
“Axel, aku mohon...! Sudah! Hentikan!” isakku memohon, tanpa sadar air mata keluar deras dari pelupuk mataku.
Seperti tak mendengar permohonanku, Axel semakin mempercepat tusukannya di dalam tubuhku. Dalam pandangan mataku yang terlihat sedikit kabur karena air mata, aku bisa melihat kilat matanya yang tampak mengerikan. Melihat sosoknya yang sekarang membuatku seperti melihat Axel dalam sisi yang lain. Apakah ini sisi gelap Axel Campbell, suamiku sendiri? Ya, Tuhan. Apa rasa cemburu itu begitu besar dalam hatinya, hingga suamiku bersikap seperti orang lain yang tak aku kenal??
__ADS_1
Tak ada kenikmatan, namun justru rasa sakit dan juga isak tangis yang keluar, di antara suara ******* nafas Axel yang berat saat menyentuh seluruh tubuhku untuk mendaki puncak kepuasan yang ia inginkan saat ini. Perlakuan kasarnya membuat trauma itu kembali membayangiku. Ingatan itu, kenangan buruk yang sempat ada dalam hidupku kini kembali datang bersamaan cara Axel menyentuh tubuhku untuk meminta haknya sebagai suami padaku malam ini.
“Hentikan! Aku mohon! Lepaskan aku!!” aku berteriak keras, detik itu juga sentuhan kasar itu berhenti.
Hening.
Axel menghentikan pompaannya yang kasar dalam tubuhku. Kami sama-sama terpaku dalam diam. Suasana kamar menjadi hening, hanya ada suara isak tangis keras yang keluar dari bibirku saat ini. Namun, beberapa saat kemudian tanpa berkata apa pun, Axel melepas penyatuannya di dalam tubuhku dan bangkit dari ranjang. Setelah itu masih dengan ketelanjangannya ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu dengan kasar.
Brakk!!
Aku tersentak kaget, suara pintu yang dibanting keras itu seolah menyadarkanku pada kenyataan. Ya, Tuhan. Apakah yang sebenarnya terjadi? Apakah aku salah? Hingga membuat suamiku kini benar-benar marah padaku? Entah berapa lama Axel berada di dalam kamar mandi, ia tak kunjung keluar. Masih dalam tangis dan rasa lelahku, tanpa sadar aku pun akhirnya terlelap.
***
Seorang pria dengan tubuh polosnya yang mengagumkan tampak bersolo karir di antara guyuran air shower yang membasahi tubuhnya yang terlihat jantan. Pria berparas tampan yang tak lain adalah Axel Campbell itu terlihat sibuk memainkan sendiri rudalnya yang tampak keras dan tegang. Ekspresi wajahnya terlihat kaku serta begitu tersiksa, kepalanya menunduk hingga menempel tembok kamar mandi. Cukup lama ia bermain dalam permainannya sendiri yang seharusnya ia bisa dapatkan dari tubuh istrinya. Hingga akhirnya gelombang itu datang.
“Ohhggttt!!!!”
Axel menggeram keras. Walau tak senikmat di dalam tubuh istrinya, namun setidaknya dengan cara ini ia bisa mengeluarkan hasratnya yang terlanjur sudah sampai di ubun-ubunnya.
Setelah selesai mengeluarkan semua benihnya, Axel membersihkan diri. Tak ia pedulikan guyuran air dingin yang membasahi tubuhnya malam ini. Baginya suasana hatinya yang sedang panas sekarang membutuhkan air dingin agar tubuhnya sekaligus suasana hatinya kembali membaik.
__ADS_1
Hatinya memang panas, lebih tepatnya ia marah kala mengingat tatapan Henry saat saudara tirinya itu menatap Angelina, wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Meskipun Axel berhasil menahannya tadi di pelelangan. Namun, hatinya kembali memanas saat melihat reaksi Angelina malam ini. Axel bukanlah pria yang bodoh. Ia bisa melihat jika cinta itu masih ada dalam hati Angelina. Ya, Angelina memang masih mencintai Henry Bastian Campbell. Saudara tiri sekaligus orang yang paling Axel benci selama ini. Itulah sebabnya ia ingin memiliki Angelina. Awalnya perasaannya pada Angelina memang hanyalah semu belaka. Namun, seiring dengan berjalannya waktu ia justru semakin haus ingin memiliki Angelina sepenuhnya.
“Semua milikmu sudah seharusnya adalah milikku, Henry! Maka akan aku pastikan, kau tak akan memiliki apa pun nanti, sekali pun itu adalah Angelina!” geram Axel penuh dendam.