
“Apa yang aku lihat tadi, Henry?! Jelaskan padaku sekarang!” Carla berseru keras di dalam mobil saat mereka berdua keluar dari Campbell Corporation.
Masih dengan ekspresi wajah datarnya, Henry tetap fokus menyetir mobil kali ini tanpa sopir pribadinya.
“Tak perlu aku jelaskan padamu, kau bisa melihatnya sendiri tadi, bukan?” Henry menyahut acuh.
“Jadi begitu sikapmu di belakangku, Henry? Diam-diam membawa wanita yang kau nikahi itu satu kantor bersamamu! Astaga! Apa maksudmu melakukannya?!”
“Bisa kau pelankan suaramu itu, Carla? Kau tahu dengan jelas jika aku tak suka dengan wanita yang berteriak keras di depanku sepertimu sekarang!” tegas Henry tajam membuat Carla terdiam detik itu juga. Namun, sangat jelas terlihat Carla menahan kedongkolan di raut wajahnya.
“Sekarang aku tahu, apa yang membuat sikapmu itu berubah akhir-akhir ini.” Carla berkata lirih mencoba menahan emosi di dadanya.
Hening.
Henry tak menjawab ataupun menyangkalnya, sikap Henry yang demikian tentu membuat Carla semakin meradang.
“Mungkinkah benar kau kini sudah mulai memiliki hati dengan wanita bernama Angelina Louis yang kau anggap anak dari musuhmu itu, Henry?”
Ciiiiittttt!!!
Detik itu juga Henry mendadak mengerem mobilnya hingga membuat tubuh Carla tersentak ke depan, “Henry! Apa yang kau lakukan?!” pekik Carla cukup syok.
__ADS_1
“Turun!” ucap Henry lantang.
“A-apa??” Kedua mata Carla membulat tak percaya, memastikan jika dirinya salah mendengar apa yang baru saja diucapkan Henry tadi.
“Aku bilang turun sekarang!” perintah Henry kali ini dengan suara lebih keras. Ekspresi wajahnya terlihat begitu menakutkan.
Carla terpaku dengan tatapan tak percaya. Selama ia mengenal Henry baru kali ini ia melihat kekasihnya itu tampak menakutkan seperti sekarang.
“Jangan sampai aku mengulangi lagi ucapanku, Carla!” ucap Henry sekali lagi.
Merasa tak memiliki pilihan dan takut dengan sikap Henry yang tak biasa, membuat Carla tak bisa berkutik selain terpaksa mengikuti apa yang Henry katakan padanya. Dengan menahan rasa dongkol dan juga emosi, Carla akhirnya pun turun dari mobil di mana Henry menghentikan mobilnya di pinggir jalan raya. Setelah memastikan Carla turun, Henry langsung tancap gas melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sementara itu Carla hanya bisa terpaku melihat mobil Henry pergi dan menghilang dari pandangannya.
“Tega sekali kau berbuat seperti ini padaku hanya karena wanita jal*ng itu, Henry!!” seru Carla dengan emosi besar.
“Tidak akan aku lepaskan! Aku bersumpah tidak akan melepaskan wanita jal*ng itu sampai kapan pun! Kau telah berani merebut Henry’ku maka kini kau harus bersiap menerima pelajaran dariku, Angelina Louis!” umpat Carla dalam hati.
***
Di dalam perjalanan Henry melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikiran dan hatinya saat ini penuh dengan Angelina Louis. Tidak! Bukan hanya untuk saat ini saja, namun sejak wanita itu hadir dalam hidupnya. Lebih tepatnya sejak putri kedua dari Gary Louis itu menjadi istrinya, walaupun hanya sebatas istri kontrak tetapi entah apa yang membuat wanita itu semakin hari seperti membuat Henry merasa gila dan bahkan hilang akal.
“Sialan! Sebenarnya apa yang terjadi denganku? Bagaimana bisa aku menjadi seperti ini?!” Henry berkali-kali memukul stir mobil sebagai pelampiasan rasa kesalnya.
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian, dering ponsel miliknya berbunyi. Akan tetapi, Henry tak memperdulikannya. Siang itu ia sengaja kembali ke mansionnya lebih cepat, karena suasana hatinya saat ini sedang buruk. Kehadiran Carla di perusahaannya yang selalu tiba-tiba, dan keberadaan Angelina di perusahaan selalu membuatnya merasa frustasi setiap waktu. Apalagi jika harus bertemu tatap muka secara langsung seperti tadi. Entah kenapa sungguh membuatnya merasa kesal.
“Anda pulang lebih cepat dari biasanya, Tuan. Sangat kebetulan Anda pulang cepat hari ini.” Seorang kepala pelayan bernama Paul menyambut Henry di muka pintu mansion.
“Ada apa? Apa ada masalah?” Henry menyempitkan pandangannya penuh tanya.
“Tuan besar baru saja memberitahu jika Tuan Axel dalam perjalanan pulang, dan akan sampai di New York malam ini,” Paul memberitahu dengan sikapnya yang formal.
“Apa?? Axel pulang ke New York hari ini?!” Henry terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Benar, Tuan.”
“Kenapa mendadak sekali? Dan bagaimana bisa Dad tak memberitahuku terlebih dahulu tapi justru memberitahumu.” Henry tertawa sinis menanggapi.
“Tuan besar hanya ingin membuat kejutan untuk Anda, Tuan. Itu yang beliau sampaikan kepada saya.”
“Kejutan? Yang benar saja. Aku yakin mereka berdua pasti merencanakan sesuatu di luar sepengetahuanku,” Henry menebak.
Semakin merasa suasana hatinya bertambah buruk, Henry lebih memilih masuk ke dalam kamarnya dan meminum minuman beralkohol sebagai pelampiasannya. Ini adalah hari terburuk yang membuat moodnya hancur. Bagi Henry kembalinya Axel Campbell adalah sesuatu yang paling ia benci dalam hidupnya. Pria yang tak lain adalah kakak tertuanya itu adalah sosok yang paling dibencinya selama ini. Walaupun memiliki hubungan darah, akan tetapi hubungan dua bersaudara Campbell berbeda ibu itu tidaklah baik sejak dulu.
Keluarga Campbell yang terlihat sempurna di mata dunia, namun tidak untuk kenyataannya. Keluarga mereka tercerai berai sejak Arthur Campbell, yang tak lain adalah ayah dari Henry memutuskan untuk menceraikan istri pertamanya. Axel Campbell yang tak lain adalah putra dari istri pertama Arthur Campbell, lebih memilih hidup dengan sang ibu kandung dan pergi. Adanya konflik internal di masa lalu membuat hubungan dua bersaudara, Axel dan Henry renggang, bahkan penuh kebencian.
__ADS_1
Kini setelah belasan tahun Axel Campbell pergi, pria itu kembali ke New York. Henry yakin kembalinya Axel pasti bukanlah tanpa alasan. Pria itu pasti merencanakan sesuatu, dan Campbell Corporation yang kini ada di bawah kekuasaannya terancam. Mungkinkah Axel akan merebut kepimpinannya di Campbell Corporation? Karena secara hukum, baik itu Henry ataupun Axel memiliki kedudukan yang kuat sebagai pewaris tahta dari perusahaan besar ayah mereka, Arthur Campbell.
Yang pasti apa pun alasannya saudara tiri sekaligus rivalnya itu kembali, Henry tak akan diam saja jika Axel berani mengusik hidupnya seperti yang pernah terjadi dahulu. Tidak akan! Henry bersumpah akan berjuang sekuat tenaga agar Campbell Corporation tidak akan direbut dari tangannya.