
"Maaf Mr. Jones. Lain kali saja. Saya akan naik taksi karena bagaimana pun saya masih baru bekerja di perusahaan ini. Akan tidak baik jika ada yang melihat saya nanti satu mobil bersama dengan Anda nanti.” Aku beralasan agar penolakanku terdengar logis, dan aku harap Alan Jones tidak tersinggung dengan penolakanku.
Tak seperti dugaan, pria itu justru tersenyum dan berkata, “Baiklah aku bisa mengerti itu. Tapi untuk lain hari, aku harap kau tidak menolaknya, Miss. Angelina Louis.”
“Tentu, Mr. Jones,” sahutku seraya tersenyum.
“Baiklah, sampai bertemu besok, Angelina.” Setelah itu mobil Alan Jones pun melaju meninggalkanku.
Aku sudah memutuskan kembali ke rumah dengan menggunakan taksi, dan setelah sekitar tiga puluh menit perjalanan pulang aku terkejut ketika melihat mobil Henry terparkir di halaman rumah bergaya Eropa yang sudah aku tinggali selama menjadi istri dari Henry Bastian Campbell. Kenapa pria itu pulang kembali ke rumah ini? Apakah dia menungguku sejak tadi untuk memastikan aku pulang atau tidak? Pikiranku berkecamuk saat ini. Dengan langkahku yang terasa berat aku pun berjalan masuk ke dalam rumah, dan betapa terkejutnya aku di depan pintu sudah berdiri Henry dengan ekspresi wajah dinginnya yang terlihat menakutkan.
“Jadi itu alasanmu menginginkan kebebasan? Agar bisa tebar pesona pada pria di luar sana untuk kau rayu?” ucapnya tajam dan sinis.
“Aku tidak merayu siapa pun!” tukasku tak terima.
“Oya? Lalu kau pikir aku bodoh begitu?” Kilat matanya semakin tajam menatapku.
“Apa yang kau lihat tidak seperti yang kau kira, aku dan Alan Jones hanya berbincang saling menyapa apa itu salah?” aku mencoba menyangkal, membela diri.
“Apa pun itu alasannya bagiku kau terlihat murahan, Angelina Louis! Ini masih sebuah peringatan, jika sekali lagi aku melihatmu bersikap sok akrab di depan pria mana pun, bersiaplah mendapatkan hukuman dariku!” Henry mencengkeram tanganku dengan kasar lalu menariknya, “Ingat Angelina! Kali ini aku tak main-main dengan ucapanku!!” Setelah mengucapkan kalimat bernada ancaman itu Henry menghempaskan tubuhku hingga tubuhku terhuyung ke belakang hampir jatuh karena perlakuan kasarnya.
Brak!!
Bunyi pintu di tutup keras memekakkan telingaku. Pria itu, Henry Bastian Campbell pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat kasar dan ancaman padaku. Aku mendengus pahit, merasa heran dengan sikap Henry yang bagiku sangat tidak masuk akal. Pria bergelar suami itu benar-benar egois dan aneh!
__ADS_1
***
Campbell Corporation
“Bisa kau antarkan dokumen ini kepada Kepala Manager, Mr. Benyamin Larkin di bagian tim keuangan, Angelina?” Nickollas Franklin sebagai kepala tim pemasaran memerintahku.
“Baik, Sir.” Dengan patuh aku pun melakukan apa yang ia perintahkan dan menuju ke ruangan Mr. Benyamin Larkin, selaku kepala manager keuangan Campbell Corporation.
Sebelum aku masuk ke ruangan kepala manager yang ada di lantai yang berbeda dari ruanganku, aku pun mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Ya, masuk!” Sebuah suara menyahut cukup keras dari dalam ruangan.
“Permisi, Sir. Saya Angelina Louis dari tim pemasaran ingin memberikan dokumen ini kepada Anda.”
“Kau? Apakah kau karyawan magang dari tim pemasaran itu?” Pria itu bertanya memastikan, ia bangkit dan melangkah mendekatiku. Aku merasa pandangan matanya seolah tak berkedip saat melihatku.
Aku mengangguk dan menjawab, “Benar, Sir. Mr. Nickollas Franklyn yang memerintah saya untuk memberikan dokumen ini pada Anda.”
“Siapa yang merekomendasikanmu bekerja di perusahaan ini, Miss. Louis? Apakah Nickollas Franklyn?” Benyamin Larkin menebak.
“Bukan, Sir. Saya sendiri yang masuk dan mendaftarkan diri menjadi karyawan di sini,” jawabku dusta.
“Benarkah? Setahuku sudah cukup lama perusahaan ini tidak memperkerjakan karyawan baru, apalagi itu adalah karyawan magang yang mungkin tak memiliki pengalaman bekerja sepertimu.” Selidik Benyamin Larkin, sudut bibirnya terangkat sedikit dengan pandangan meragukan menatapku.
__ADS_1
“Itu berarti sebuah keberuntungan bagi saya bisa diterima untuk bekerja di perusahaan besar ini, Sir,” ucapku dengan sikap tenang meskipun jujur pandangan mata pria di depanku ini sungguh membuatku tidak nyaman.
“Bagus, aku suka rasa percaya dirimu itu, Miss. Louis.” Benyamin mendekatkan wajahnya dan berkata, “Jika kau mau, aku akan merekomendasikanmu sebagai karyawan tetap di perusahaan ini, Angelina Louis. Tentu itu adalah hal yang mudah untukku. Bagaimana, apakah kau tertarik?” sambungnya cukup mengejutkanku.
“Apa maksud Anda, Sir?” Aku memberanikan diri menatap pria berambut coklat yang kini tersenyum penuh percaya diri padaku.
“Aku yakin kau cukup cerdas untuk mengetahui apa maksud ucapanku, Miss. Louis,” ujarnya yakin.
Sadar jika hal itu tidak benar dan membuatku semakin merasa tak nyaman, aku pun cepat-cepat mengalihkan pembicaraan sebelum suasana ruangan menjadi terasa panas.
“Maaf sebelumnya, Sir. Saya belum berpikiran untuk hal itu. Karena tugas saya sudah selesai di sini, saya pamit undur diri sekarang. Selamat siang, Sir.” Aku berbalik dan langsung keluar dengan langkah cepat meninggalkan ruangan Benyamin Larkin.
Di dalam lift menuju ke ruang kerjaku kembali, aku berkali-kali mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa pria bernama Benyamin Larkin itu berkata seperti itu padaku? Apa maksudnya sebenarnya? Apalagi pandangan matanya sungguh membuatku merasa tak nyaman. Apa pria itu mencurigaiku karena aku bisa bekerja di perusahaan ini dengan begitu mudah? Entahlah, aku tak ingin mencoba memikirkannya lebih jauh lagi.
“Angelina, apa kau baik-baik saja?” Tak berapa lama kemudian Sandra tiba-tiba menghampiri meja kerjaku.
“Aku baik-baik saja, Sandra. Memang kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu padaku?” aku bertanya menatapnya bingung.
“Kau perlu tahu, Angelina. Jika lain kali kau harus berhati-hati dengan Mr. Larkin.” Sandra memperingati memasang ekspresi wajah serius.
“Berhati-hati? Memangnya kenapa?” sahutku semakin merasa penasaran.
“Beliau adalah orang yang cukup memiliki kuasa di Campbell Corporation itulah sebabnya dia bersikap diktaktor pada bawahannya. Selain itu Benyamin Larkin dikenal juga sebagai pria mesum, jadi kau harus lebih berhati-hati jika bertemu dengannya lagi,” terang Sandra dengan suara rendah.
__ADS_1
“Apa kau bilang, pria mesum??”