ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG

ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG
Tamu tak diundang


__ADS_3

Usai mencapai puncak dan melampiaskan emosinya pada Angelina, Henry menatap lekat-lekat wanita yang terbaring dalam keadaan menyedihkan dengan posisi telungkup. Tubuh mulusnya yang putih, kini penuh dengan luka bekas cambukkan. Hari ini moodnya sangat buruk. Selain karena kehadiran Axel Campbell di perusahaan, ia mendengar kabar jika Angelina terlibat hubungan dengan seseorang. Tak hanya itu, ia juga berkali-kali melihat dengan mata kepalanya sendiri baik itu Alan Jones begitu juga karyawan pria lainnya selalu mendekati istri kontraknya itu.


Egonya sebagai pria tentu merasa terluka. Ia tak bisa menerima semua penghinaan dengan cara seperti ini. Oleh sebab itulah Henry memberikan Angelina hukuman. Awalnya Henry tak ingin menyentuh istrinya itu, ia hanya ingin memberikan Angelina pelajaran, namun melihat tubuh indah Angelina yang hanya berbalut kimono mandi, hasrat laki-lakinya bangkit. Ia tak bisa menahan diri jika selalu berdekatan dengan Angelina. Tubuhnya selalu bereaksi apabila selalu berdekatan, apalagi jika sampai melihat tubuh polos yang selalu membuatnya berdenyut nikmat dan memberikannya kenikmatan itu terpampang nyata di depan matanya. Tentu Henry sudah tak bisa menahan dirinya lagi untuk tak menyentuhnya.


Henry mengatur nafasnya dan berbaring di sebelah Angelina yang masih tak bergerak pingsan. Dipandangi sekali lagi tubuh penuh luka itu yang masih tak sadarkan diri, ada sebersit rasa sesal di hatinya. Namun, ego dan logikanya menolak untuk mengakuinya. Ia benci dengan Angelina Louis, segala hal dari wanita itu, Henry membencinya. Namun, tidak dengan tubuhnya. Kecuali satu hal itu, Henry akui jika Angelina selalu memberikannya kenikmatan meskipun wanita yang berstatus istrinya itu pasif jika dalam melayaninya di atas ranjang. Berbeda dengan sang pujaan hati, Carla Queen Baker.


Dua wanita yang bagaikan bumi dan langit. Namun, sikap posesif Carla telah membuatnya merasa kesal. Sejak pertengkarannya dengan Carla di mobil beberapa waktu lalu, komunikasi mereka berdua menjadi buruk. Di tambah dengan kepulangan saudara tirinya, Axel Campbell. Semua hal itulah yang membuat moodnya buruk akhir-akhir ini.


Tak berapa lama ponsel Henry bergetar. Awalnya Henry enggan mengangkatnya, akan tetapi ponsel itu terus bergetar tanpa henti, mau tak mau Henry mengambilnya dari meja nakas samping ranjang. Seperti dugaannya tadi jika telepon itu dari Carla, kekasihnya sendiri.


“Ada apa?” Henry bertanya dengan nada ketus dan dingin.


“Henry, akan sampai kapan kau mendiamkan aku dan bersikap cuek padaku?! Aku kekasihmu, Henry. Apa kau kini sudah melupakan aku?!”


“Moodku sedang buruk, Carla. Jika kau menelepon hanya untuk bertengkar lebih baik jangan meneleponku!”


“Baik, baik. Aku mohon jangan menutupnya Henry. Aku mohon maafkan aku. Aku salah bicara waktu itu. Aku percaya padamu, jika hatimu masih untukku. Aku berjanji tidak akan salah paham lagi padamu, Henry.”

__ADS_1


“Itu lebih baik. Katakan apa yang kau inginkan sekarang?”


“Aku ingin bertemu, Sayang. Tidakkah kau merindukan aku?”


“Besok malam aku akan datang ke apartemenmu,” Henry menjawab dengan lugas.


“Baiklah sayang, aku tunggu kau besok malam. Kalau begitu selamat malam, Sayang. Aku mencintaimu.”


Tanpa membalas ucapan Carla, Henry langsung menutup sambungan teleponnya begitu saja.


***


Aku melenguh merasakan sakit di sekujur tubuhku. Bayangan penyiksaan itu terlintas kembali dalam pikiranku. Sampai kapan aku akan hidup seperti ini? Apakah aku akan bertahan hidup dalam penyiksaan dan direndahkan seperti ini?


Di saat aku mulai sadar sepenuhnya, aku baru tahu jika tanganku yang terikat sudah dilepaskan. Kini aku terbaring dengan selimut yang menutupi tubuh polosku. Pandanganku beredar mengelilingi ruangan. Tak ada Henry di kamar ini, pria kejam itu sudah pergi seperti biasa dengan meninggalkan luka yang semakin besar di dalam jiwa dan juga ragaku.


Hingga tak terasa bulir air mata jatuh dari sudut mataku. Dadaku sesak mengingat kejadian semalam. Tuhan, adilkah ini untuk diriku? Menjadi istri seorang pria kejam yang selalu menyakiti baik jiwa dan ragaku? Aku pikir hubungan kami sudah lebih baik sejak malam panas itu, namun ternyata aku terlalu naif untuk menyikapinya. Tangisku tak bisa kutahan lagi, aku terisak dan menangis meluapkan beban yang aku rasakan. Kenapa rasanya sesakit ini? Kenapa hati ini terasa begitu sakit dan juga sesak? Padahal aku tahu sejak awal hubunganku dengan Henry memang hanyalah sebatas kontrak. Pria itu menikahiku hanya sebagai pelampiasan. Namun, sejak malam panas yang kami lewati waktu itu, telah mengubah pikiran dan perasaanku. Kini aku sadar jika aku memang terlalu naif untuk menyikapi semuanya.

__ADS_1


Tak berapa lama, Miranda masuk ke dalam kamar dengan membawa obat-obatan.


“Selamat pagi, Nyonya. Maaf saya masuk ke dalam kamar Anda karena Tuan Henry memerintahkan saya untuk mengobati luka di tubuh Anda.” Miranda mendekatiku dan menaruh obat-obatan itu di meja nakas samping ranjang, “Mari Nyonya, saya bantu Anda untuk membersihkan diri sebelum luka Anda di obati,” ucap Miranda kembali.


“Dialah yang melukaiku dan membuatku menjadi wanita menyedihkan seperti ini. Tapi sekarang dia sendiri yang memerintahmu untuk mengobati luka yang dibuat karena ulahnya. Sangat lucu sekali.” Aku tersenyum kecut menanggapinya.


“Percayalah, Nyonya. Pasti selalu ada alasan dibalik setiap tindakan. Saya memang tak terlalu mengenal Tuan Henry, namun saya hanya yakin jika seburuk-buruknya manusia tetap ada sisi baik di hatinya.”


Ucapan Miranda tentu membuatku tersadar dan membuat pikiranku terbuka. Namun, sampai saat ini aku belum tahu kesalahan apa yang sebenarnya aku lakukan hingga Henry gelap mata memberikanku hukuman? Mungkinkah ini karena rumor itu?


Suara ketukan pintu terdengar, Luke, seorang penjaga rumah mengejutkan kami pagi itu.


“Permisi, Nyonya. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda sekarang,” Luke memberitahu dari balik pintu kamar yang masih tertutup.


“Siapa?” tanyaku merasa penasaran, karena ini untuk pertama kalinya aku kedatangan tamu di rumah ini.


“Tuan Axel Campbell. Beliau ingin menemui Anda sekarang.”

__ADS_1


__ADS_2