
Setelah aku keluar dari ruangan Mr. Nickollas Franklyn, aku masih seperti tak percaya jika aku akan dipindah divisi di bagian keuangan. Harusnya itu bagus, bukan? Tapi entah kenapa aku merasa jika kepindahanku ini terasa seperti sebuah kesengajaan. Entah apa pun alasannya, aku merasa jika semua ini masih terlalu cepat dan aneh. Mungkinkah ini bagian dari rencana Henry sendiri, agar pekerjaanku semakin berat?
“Kau akan dipindah tugaskan di bagian keuangan bersama dengan Mr. Benyamin Larkin?!” Sandra tampak terkejut mendengarnya.
“Iya, mulai besok, Sandra,” aku menyahut lirih.
“Secepat itu? Astaga, kenapa aku merasa itu sedikit aneh?” ujar Sandra.
“Aku juga berpikir seperti itu, namun mau bagaimana lagi. Aku tak bisa berbuat apa-apa.” Aku berusaha tetap tersenyum meskipun masih terasa berat karena harus berpisah dengan teman baikku seperti Sandra.
“Aku akan kehilanganmu, Angelina. Itu berarti kita bukan rekan kerja lagi mulai besok.” Sandra berkata lirih menatapku sendu.
“Namun, kita masih tetap bisa bertemu ‘kan?” Aku tersenyum tipis membalasnya.
“Tentu saja, itu pasti Angelina,” balas Sandra menyentuh tanganku memberikanku semangat.
...
Esoknya, aku pun berangkat bekerja dengan perasaan yang tak menentu karena ini adalah hari pertamaku mulai bekerja sebagai salah satu staf magang bagian keuangan, bersama dengan Mr. Benyamin Larkin yang entah kenapa selalu membuatku kurang nyaman jika bertatap muka dengannya. Di lobi perusahaan secara kebetulan aku bertemu dengan Alan Jones.
“Hallo, Miss. Louis. Bagaimana kabarmu? Aku dengar kau dipindah tugaskan di bagian keuangan mulai hari ini?” Alan Jones menyapaku, memamerkan senyuman cerahnya pagi itu.
“Benar, Mr. Jones.” Balasku tersenyum tipis.
“Semoga kau betah, Miss. Louis. Aku percaya kau pasti bisa melakukan yang terbaik.” Alan Jones berkata memberikanku semangat.
“Terima kasih, Mr. Jones.”
__ADS_1
“Bagaimana kalau nanti malam aku mengajakmu makan malam untuk merayakannya?” ajak Alan Jones.
Sebelum aku sempat menjawab, seseorang tiba-tiba menyelaku dari belakang, “Miss. Louis akan bekerja lembur karena ini adalah hari pertamanya bekerja di bagian keuangan jadi tidak ada waktu untuk bersantai apalagi makan malam, Manager Jones.”
“Mr. Benyamin Larkin?”
Aku dan Alan Jones tampak terkejut dengan kedatangan Benyamin Larkin yang secara tiba-tiba di belakang kami begitu saja.
“Maaf, Mr. Larkin bukankah setahu saya jika karyawan magang tidak diperbolehkan untuk lembur?” Alan Jones berpendapat.
“Itu tidak berlaku untuk perusahaan besar seperti Campbell Corporation. Jika Miss. Angelina Louis ingin cepat mendapatkan rekomendasi menjadi karyawan tetap di perusahaan ini, dia harus bisa cepat menyesuaikan diri dengan bekerja sesuai dengan sistem yang sudah berlaku di perusahaan kita,” terang Benyamin Larkin dengan sikapnya yang terlihat angkuh.
Alan Louis hendak membalas kembali perkataan Benyamin Larkin, namun dengan cepat aku menyelanya untuk menghindari agar situasi tidak menjadi memanas.
“Saya bisa mengerti itu, Mr. Larkin. Mohon bimbingannya karena saya masih perlu banyak belajar dari Anda,” ucapku merendah.
“Bagus, itu adalah salah satu etikad baik seorang karyawan magang sepertimu yang memang harus patuh dengan perintah atasannya.” Pria berumur empat puluhan itu berkata masih dengan sikap angkuhnya.
Seperti yang dikatakan Benyamin Larkin jika hari itu juga dia memberikan aku pekerjaan yang menumpuk. Aku menghela nafas panjang ketika melihat tumpukan dokumen dan beberapa file yang harus aku pelajari. Benar seperti yang dikatakan para karyawan di sini, jika Benyamin Larkin adalah seorang yang diktator. Aku tak boleh mengeluh, aku harus menyelesaikan tugasku dengan baik. Aku terus berkali-kali memberikan semangat pada diriku sendiri sepanjang hari itu. Hari sudah menjelang malam, beberapa karyawan sudah terlihat pulang satu persatu. Saat aku masih sibuk dengan pekerjaanku, Mr. Larkin memanggilku untuk menuju ke ruangannya.
“Ada yang bisa saya bantu, Sir?” tanyaku formal.
“Duduklah di sini, aku ingin bicara denganmu.” Benyamin Larkin memberikan kode agar aku duduk di depannya. Perintahnya tentu membuatku bingung.
Seolah tahu keraguanku, Benyamin Larkin berkata kembali, “Kau mau menolak perintahku?” ucapnya seakan menyudutkanku. Membuatku tak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa patuh.
“Apa kau punya kekasih, Angelina louis?” tanyanya frontal setelah aku duduk di hadapannya.
__ADS_1
Secara spontan aku mendongakkan kepala, “A-apa?? Apa maksud Anda bertanya hal pribadi seperti itu, Mr. Larkin?”
“Apa itu menjadi masalah? Aku perlu tahu banyak hal apa pun itu tentang karyawanku termasuk kehidupan pribadinya,” ujarnya santai.
“Menurut saya pertanyaan itu tidak etis ditanyakan oleh pimpinan seperti Anda, Mr. Larkin.” Aku memberanikan diri menolak.
Benyamin Larkin berdiri, ia melangkah mendekat dan menatapku dengan pandangan menyempit.
“Hebat sekali, kau cukup punya nyali membantahku ternyata.” Sudut bibirnya terangkat sinis menatapku.
“Kau hanya perlu menjawabnya, kenapa semua dibuat sulit, Angelina?” Pria jangkung itu kini tepat berdiri di depanku dengan melipat kedua tangannya angkuh, “Apa kau malu mengatakannya karena kau memiliki hubungan khusus dengan seseorang di perusahaan ini?” sambungnya lagi.
Deg!
“Apa maksud Anda mengatakan hal itu pada saya Mr. Larkin?” aku menyahut tak terima.
“Sudah jelas ucapanku tadi padamu. Apa perlu kuperjelas lagi pernyataanku?” Pria itu kini menyeringai menatapku dengan pandangan seolah mengejek.
“Apa kau pikir aku adalah orang bodoh sama seperti yang lainnya, Angelina Louis? Wanita sepertimu sangat tidak mungkin bisa masuk ke perusahaan besar seperti Campbell Corporation dengan hanya sebuah keberuntungan semata. Lebih tepatnya, aku tahu jika kau menggunakan kelebihan yang kau miliki untuk bisa lolos di perusahaan ini melalui jalur pintas.” Benyamin Larkin berkata penuh percaya diri.
Meskipun aku cukup merasa syok, namun aku tetap bersikap setenang mungkin agar pria di depanku tidak semakin bersikap semena-mena terhadapku.
“Katakan apa maksud Anda mengatakan ini semua pada saya, Mr. Larkin?” tanyaku gamblang tanpa melakukan kontak mata dengan pria angkuh yang kini seperti memandang rendah diriku.
“Bagus! Jadi kau secara tidak langsung memang mengakuinya, bukan?” Benyamin Larkin menyeringai, tanpa diduga kemudian ia mendekatkan wajahnya padaku lalu berbisik di telingaku, “Tidurlah denganku jika kau ingin rahasiamu aman, Angelina Louis. Aku pastikan nama baikmu tetap terjaga apabila kau mau jadi wanitaku.”
Seketika kedua mataku membulat tak percaya, bagai disambar petir saat aku mendengar kalimat yang sarat penghinaan itu padaku. Ingin sekali aku menampar wajah mesum dan angkuhnya itu dengan tanganku, namun aku berusaha keras menahan diri untuk tak melakukannya mengingat jika aku masih ada dalam ruang lingkup kantor.
__ADS_1
“Bagaimana, kau terima tawaranku, Miss. Louis?” Benyamin Larkin tersenyum smirk menatapku dengan pandangan mesum.
“Sepertinya Anda salah paham dengan saya, Mr. Larkin. Maaf, saya menolaknya mentah-mentah, karena saya bukanlah wanita yang seperti yang ada dalam pikiran kotor Anda itu!” tegasku, kali ini aku menatap matanya dengan memasang seluruh keberanianku.