ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG

ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG
Bawa aku pergi menjauh


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Keadaanku sudah membaik dari sebelumnya, selama aku menjalani pemulihan selama itu pun Axel Campbell bersikap perhatian padaku. Selama ini aku tinggal di sebuah rumah yang entah tak aku ketahui di mana letaknya dengan jelas. Tidak mewah, namun dapat dikatakan sebagai sebuah hunian yang nyaman. Jujur aku merasa damai di tempat ini, bersama dengan seorang pelayan setengah baya yang merawatku. Sedangkan Axel sendiri, hanya beberapa kali datang berkunjung menemuiku.


Aku bersyukur jika kehamilanku ini tidak membuatku repot. Perutku yang masih belum terlalu jelas terlihat, membuatku masih tak tampak sebagai wanita yang tengah hamil. Aku tersenyum pahit jika mengingatnya. Mengingat bagaimana nasib anakku nanti setelah ini, sedangkan ayahnya sendiri tak tahu jika kini aku sedang mengandung benihnya. Tidak, aku tak boleh menyerah begitu saja. Anak ini adalah milikku, bukan milik Henry Bastian Campbell yang telah membuangku seperti sampah, dan aku telah bertekad akan membesarkan dan merawatnya dengan baik.


“Nyonya, Tuan Axel sudah datang,” pelayan setengah baya yang selama ini merawatku memberitahu.


“Baik, aku akan segera ke sana.” Aku pun berbalik untuk menemui Axel Campbell yang memang kadang setiap waktu selalu berkunjung ke rumah ini.


“Bagaimana keadaanmu, Angelina? Kau sudah lebih baik sekarang?” Pria yang sepintas mirip seperti Henry itu melangkah mendekatiku dengan langkahnya yang kokoh.


“Ya, aku sudah lebih baik sekarang. Kehamilanku juga tidak bermasalah,” aku menjawab.


“Aku bisa melihatnya.” Axel tersenyum menatapku dengan pandangan penuh arti, “Bahkan di mataku kau terlihat semakin cantik untuk wanita yang sedang hamil,” sanjungnya membuatku merasa malu.


“Apakah merayu wanita adalah salah satu keahlianmu?” aku membalas.


Axel terkekeh, “Apakah aku ini terlihat sedang merayu? Aku hanya bicara kenyataan. Kau memang tampak semakin cantik dan bersinar sejak hamil,” sanjungnya sekali lagi membuat telingaku memerah.


“Terlalu bodoh jika Henry tak menyadarinya,” sambungnya kemudian.


“Tolong, jangan sebut nama itu lagi di depanku,” tolakku dingin.


“Baiklah, aku bisa mengerti itu, aku berjanji mulai sekarang tak akan menyebut nama pria pecundang itu lagi di depanmu” Axel tersenyum miring, “Bagaimana dengan tawaranku waktu itu? Kau sudah mempertimbangkannya, Angelina?” tanya Axel.

__ADS_1


Aku terdiam sejenak, selang beberapa detik kemudian menjawabnya, “Ya. Aku sudah memikirkannya.”


“Lalu apa jawabanmu, Angelina Louis?” Axel bertanya memastikan.


“Ya, aku menerima tawaranmu itu, Axel Campbell,” aku menjawab cukup lantang.


Axel mengulas senyum kepuasan, “Itu berarti kau menerima lamaranku untuk menikah denganku. Itu bagus, kau membuat keputusan yang benar, Angelina.”


“Namun, aku menginginkan satu syarat,” sambungku kemudian.


“Syarat?” Axel memicingkan kedua netranya menatapku, “Katakan apa syarat itu?” tanyanya ingin tahu.


“Bawa aku pergi jauh dari ayah anak yang sedang aku kandung. Aku tak mau mengingat apa pun lagi dan ingin melupakan segala hal tentangnya,” tegasku.


Axel mengangkat sudut bibirnya ke atas, “Syarat yang tidak sulit. Baiklah aku akan mengabulkannya. Mulai besok kita akan pergi dari negara ini. Bisa aku pastikan kau tak akan lagi melihat atau mendengar apa pun tentang pria pecundang itu lagi.”


Sudah beberapa hari sejak Henry memergoki Angelina bersama dengan pria lain yang bernama Alan Jones. Hari-hari Henry dijalani dengan tanpa gairah. Carla bisa merasakan itu, perubahan yang ada dalam diri Henry yang demikian tentu membuat Carla merasa kesal dan marah. Tetapi dirinya tak bisa berbuat apa pun, Carla takut jika Henry akan bereaksi keras seperti waktu itu. Daripada berisiko untuk hubungannya bersama dengan Henry, Carla lebih memilih untuk diam. Baginya yang terpenting sekarang membuat Henry semakin jatuh cinta padanya dan semakin tergantung dengan dirinya.


“Minumlah ini Sayang. Kau akan merasa lebih baik.” Carla dengan penuh perhatian membawakan Henry segelas minuman jus buah di ruang kerjanya malam itu.


“Untuk apa kau datang kemari, Carla? Aku sedang tak ingin diganggu oleh siapa pun,” Henry menjawab enggan.


“Aku mengkhawatirkanmu, Henry. Apa aku salah jika aku ingin memberikan sedikit perhatian pada kekasihku sendiri? Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu, Henry sayang.” Carla berkata dengan suara manja khasnya.


“Kau ini bicara apa? Jangan bersikap berlebihan, Carla. Aku baik-baik saja,” tukas Henry sedikit kesal.

__ADS_1


“Selama beberapa hari pelayan mengatakan padaku jika kau terus berada di ruang kerjamu dan tak mau diganggu. Bagaimana aku tak merasa khawatir mendengarnya?” ujar Carla.


“Itu aku lakukan karena aku sedang sibuk, tak perlu mencemaskanku!” sahut Henry dengan sikapnya yang dingin.


“Apa pun itu, terlalu memforsir dirimu untuk suatu hal itu tidak baik untuk kesehatanmu ini. Ayolah, minumlah jus yang sudah aku buat khusus untukmu ini, Sayang.” Carla mencoba membujuk dengan sedikit rayuan.


Akhirnya Henry pun menurutinya, ia mengambil segelas jus di tangan Carla lalu meneguknya hingga habis tak bersisa. Carla yang melihatnya tersenyum puas penuh arti.


“Bagaimana, apa kau suka, Henry?” Carla bertanya ingin tahu.


“Rasanya tidak terlalu buruk,” Henry berkomentar masih dengan sikapnya yang dingin.


“Syukurlah jika kau senang. Aku hanya ingin melakukan sesuatu agar suasana hatimu tidak buruk, Sayang.” Carla mengelus wajah Henry dengan gerakan satu tangannya yang menggoda.


“Untuk malam ini, bolehkah aku menginap di sini, Sayang? Aku ingin menemanimu malam ini dengan terus berada di dekatmu.” Dengan gerakan jari-jari lentiknya yang nakal Carla memainkan kancing kemeja Henry.


Henry masih tak meresponsnya, ia terlihat masih fokus dengan pekerjaannya. Tak mau menyerah begitu saja, Carla membuka beberapa kancing kemeja bagian atas Henry, kemudian dengan gerakan sensual ia mulai menciumi dada bidang Henry yang sedikit berbulu dan terlihat jantan. Awalnya Henry tak bereaksi bahkan terkesan acuh, namun permainan maut Carla telah membuat gairahnya bangkit.


“Sssttt! Kenapa kau selalu ahli membangkitkan gairahku, Carla?” Henry berucap serak, ekspresi wajahnya terlihat begitu nikmati sentuhan dan rangsangan yang dibuat Carla pada setiap inci kulit tubuh di area dadanya.


“Karena aku memang ditakdirkan hanya untukmu dan selalu memuaskanmu, Henry sayang,” Carla menyahut serak di antara permainan lidahnya pada dua titik sensitif di bagian dada Henry.


Carla bisa merasakan jika tubuh Henry berubah menjadi panas. Itu jelas menandakan jika Henry sudah mulai terbakar, Carla tersenyum penuh kepuasan di antara permainan panasnya yang makin berani berpindah di pusat tubuh Henry yang mulai menegang menantang seakan minta untuk dipuaskan. Tak butuh waktu lama, hingga akhirnya Henry tak bisa menahan dirinya lagi. Ingin dipuaskan secara utuh, Henry pun mengangkat tubuh ramping Carla ke atas meja kerjanya.


“Oh, Henry! Apakah kita akan bercinta di sini, Sayang?” Carla bertanya sok polos dengan suara manjanya.

__ADS_1


“Kau pikir aku akan bisa menunggu lebih lama lagi setelah kau menggodaku dengan sentuhan nakalmu itu tadi, Carla Queen Baker?” Henry menyahut sembari mulai melepas cel*na dal*m Carla tanpa basa-basi.


Carla tersenyum senang melihat reaksi yang Henry lakukan padanya, “Lakukan apa pun yang kau suka, Henry Sayang. Tubuhku ini adalah milikmu sampai kapan pun.”


__ADS_2