
Pria yang tak lain bernama Henry Bastian Campbell secara tak sengaja bertemu dengan seorang anak laki-laki berusia empat tahun di koridor toilet restoran tempat ia menunggu seorang klien bisnisnya di Venesia, Itali. Seorang anak kecil laki-laki yang tampan dan menggemaskan. Satu hal yang membuatnya semakin tertarik adalah wajah anak laki-laki itu yang terlihat mirip dengannya, bahkan sangat mirip dengan dirinya ketika kecil dahulu.
Saat Henry mencoba mencari tahu dengan mengikuti sang anak, ternyata fakta yang didapat Henry justru sangat mengejutkan. Bagaimana tidak? Wanita yang sudah lama menghilang dan juga telah lama dicarinya ternyata adalah ibu dari sang anak laki-laki itu. Angelina Louis, kini tepat ada di depan matanya sekarang. Mantan istri kontrak yang telah lama dicarinya kini sudah kembali ditemukan. Fakta itu jelas membuat Henry merasa kecolongan. Ternyata mantan istrinya kini telah memiliki seorang anak laki-laki. Yang jadi pertanyaannya sekarang, siapakah ayah dari anak itu dan apa yang terjadi pada Angelina Louis selama ini sejak malam ia mengusir mantan istrinya itu dan menceraikannya?
Henry harus mendapatkan jawabannya. Harus!
Tak mau Angelina menyadari kehadirannya, Henry sengaja menyembunyikan diri. Ia tak ingin kecolongan lagi, dan kali ini ia tak boleh kehilangan jejak Angelina Louis. Henry akui jika perpisahannya bersama dengan mantan istrinya itu memang berakhir menyakitkan. Angelina berani berselingkuh dengan pria lain di belakangnya, hal itulah yang membuatnya marah besar. Seharusnya Henry membenci wanita itu, bukan? Tapi kenapa sejak Angelina menghilang dirinya justru merasakan kekosongan? Walaupun Henry memiliki Carla sebagai pasangan hidupnya, namun tetap saja ia merasakan hampa.
Kenapa? Henry tak tahu jawabannya. Yang jelas selama empat tahun ini ia berusaha mencari tahu keberadaan Angelina Louis, akan tetapi mantan istrinya itu justru menghilang tanpa jejak. Dan setelah Henry merasa putus asa, kini justru secara tak sengaja dipertemukan kembali dengan keadaan yang mengejutkan.
“Kau terlihat bahagia sekali, Angelina,” Henry bergumam di dalam mobilnya dengan pandangan fokus memperhatikan Angelina yang baru saja keluar dari restoran menuju parkiran mobil dengan senyum yang tak lepas dari wajah cantiknya bersama si kecil Andrew.
“Apa berpisah denganku begitu membuatmu bahagia? Jika demikian, selama ini aku menjadi orang yang bodoh!” Henry tersenyum sinis merasa tak terima.
“Ikuti mobil itu, jangan sampai terlewat!” Perintah Henry pada supir pribadinya untuk mengikuti mobil yang membawa Angelina.
“Baik, Mr. Campbell.”
Henry mengikuti mobil Angelina dengan maksud ingin mengetahui di mana Angelina tinggal selama ini. Namun, sayang di tengah perjalanan ia harus kehilangan jejak mobil Angelina.
“Sepertinya mereka mengetahui jika kita sedang mengikuti mobil mereka, Mr. Campbell!” Sang supir memberitahu.
__ADS_1
“Sial! Bagaimana bisa kau begitu bodoh!” Henry memaki kesal.
***
“Nyonya mobil di belakang kita sudah tak bisa mengejar kita lagi.” Rex, salah seorang pengawal pribadiku memberitahu.
“Syukurlah kalau begitu.” Aku bernafas lega setelahnya.
“Apa pemilik mobil tadi ingin berbuat jahat pada kita, Mom?” Andrew bertanya ingin tahu setelah beberapa menit kami merasa cukup tegang karena harus berusaha kabur dari mobil yang terlihat mencurigakan mengikuti mobilku sejak dari restoran.
“Entahlah, sayang. Besar kemungkinan seperti itu, tapi sekarang kita aman.” Aku mengelus rambut Andrew seraya tersenyum menenangkan.
“Terima kasih, Tuan muda. Ini sudah menjadi tugas kami,” Billy menyahut.
“Benar apa yang Andrew katakan, kalian berdua memang hebat,” sambungku memuji merasa puas dengan kinerja dua pengawal kepercayaanku atas perintah Axel.
“Terima kasih banyak, Nyonya. Keselamatan Anda dan Tuan kecil adalah prioritas kami.” Balas Rex tersenyum kecil.
“Berdasarkan pengamatan kami, kemungkinan besar pemilik mobil itu sudah mengamati kita sejak di restoran, Nyonya,” Billy yang duduk di sebelah Rex di kursi kemudi memberitahu.
“Ya, kalian benar. Aku pikir ini adalah hari yang paling menyenangkan tetapi justru kita harus menghadapi kejadian seperti tadi. Aku bersyukur bisa lolos dari mobil itu,” ucapku.
__ADS_1
“Aku minta kalian berdua rahasiakan kejadian ini dari suamiku. Aku tak mau membuatnya semakin khawatir pada kami,” sambungku memerintah pada Rex dan Billy.
“Siap, Nyonya.”
...
Malam itu setelah selesai menidurkan Andrew yang tampak kelelahan setelah perjalanan kami dari restoran, aku kembali ke kamarku dan mengganti gaun malam apricotku dengan gaun tidurku tanpa menggunakan dalam*n. Setelah itu aku merebahkan diri ke ranjang dengan pikiran yang mulai menerawang.
Mengingat kembali ucapan Andrew tentang pertemuannya dengan seorang pria misterius yang mirip seperti dirinya, dan mobil asing yang mengikuti kami saat perjalanan pulang telah menyita pikiranku. Aku takut jika hal yang aku takutkan itu terjadi. Sangat kebetulan jika dua hal itu terjadi dalam waktu bersamaan, bukan? Hal itulah yang membuatku semakin merasa gelisah.
Jika itu memang ‘dia’ aku tidak takut untuk bertemu dengannya, aku hanya takut jika putraku nanti akan direbut dari sisiku apabila keberadaan Andrew diketahui olehnya. Bagaimana pun Andrew adalah darah dagingnya, putra kandungnya. Terlepas dia akan tahu atau tidak Andrew Aidan Campbell adalah anak kandungnya, kemiripan wajah dari Andrew tak bisa membohongi mata siapa pun yang melihatnya apabila Andrew dan ayah biologisnya itu sampai bertemu satu sama lain.
Cukup lama aku hanyut dalam pikiranku, hingga entah kapan aku tertidur. Namun, sebuah sentuhan di kedua gunung kembarku membuatku terbangun dan membuka mata. Sentuhan itu, aku sangat mengenalnya. Tetapi mungkinkah itu dia? Karena seperti yang aku tahu saat ini dia sedang berada di London. Jadi sangat tidak mungkin jika itu adalah dia! Lalu jika bukan, lantas siapa?
Ruangan kamar yang memang gelap telah membuatku tak bisa melihat dengan jelas.
“Siapa?!” aku berusaha untuk bangun, tetapi tubuhku terasa ditindih. Sebelum aku mencoba untuk berteriak lagi, detik itu juga bibirku dikunci dan dilumat penuh nafs* oleh sentuhan bibir seseorang yang tak aku kenal dalam kamar ini.
“Ahh!” aku mendesah dan berusaha menjerit dalam waktu bersamaan, karena jujur sentuhan itu membuatku mabuk kepayang!
“Apa begitu cepat kau sudah melupakan siapa aku, Angelina sayang?” bisik suara itu parau, sebuah suara yang begitu sangat aku kenal.
__ADS_1