ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG

ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG
Permainan baru dimulai


__ADS_3

Pria bertopeng hitam itu adalah Henry Bastian Campbell. Ya, tidak salah lagi. Aku yakin itu adalah dia! Pria itu melangkah ke panggung disambut oleh beberapa pendukung acara lelang.


“Seperti pembeli sebelumnya, Anda bisa memperkenalkan diri Anda, Tuan.” Auctineer itu mempersilakan.


“Aku adalah Henry Bastian Campbell.” Henry memperkenalkan diri dengan sikap penuh percaya dirinya.


“Wah, sangat tidak disangka, ternyata Anda dari keluarga Campbell. Henry Bastian Campbell. Tentu semua orang yang hadir di sini mengenal siapa itu Henry Bastian Campbell. Saya sangat terhormat bisa mengenal dan bertemu secara langsung dengan Anda dalam momen acara ini. The pink star memang pantas untuk Anda, Mr. Campbell. Jika kami boleh tahu? Untuk siapa cincin berlian ini, Mr. Campbell?” Sang auctineer berbasa-basi.


“Berlian ini pastinya untuk seseorang yang spesial,” Henry menjawab lugas dengan tanpa ekspresi.


Suara riuh dari tamu terdengar kembali. Bahkan sebagian dari mereka mengalihkan pandangannya pada wanita bergaun hitam yang masih berdiri di tempat. Walaupun sang wanita masih memakai topeng, namun bisa dipastikan jika wanita itu adalah Carla, bukan?


“Seseorang yang spesial. Beruntung sekali orang itu. Baiklah, terima kasih atas partisipasi Anda dalam acara ini, Mr. Henry Bastian Campbell.” Sang auctineer mengakhiri sambutannya pada Henry.


Henry pun turun ke panggung dengan gayanya yang berwibawa. Secara spontan aku membuang muka, bahkan tak mau menatap secara langsung sosok Henry yang masih memakai topeng. Namun, tanpa aku duga Henry melangkah mendekat ke arahku. Tubuhku menegang detik itu juga ketika kini sosok yang merupakan mantan suamiku itu berdiri tepat di depanku.


“Kau masih berhutang penjelasan padaku, Angelina Louis.” Henry tersenyum smirk penuh arti, kemudian ia berpaling pada Axel yang berdiri tepat di sebelahku, “Dan kau Axel Campbell! Cepat atau lambat, aku pasti tahu apa yang telah kau rencanakan. Ketika saat itu tiba, kau tak akan pernah bisa melihat senyummu itu lagi!” desis Henry dengan suara rendah.


Setelah mengucapkan kalimat itu, Henry melangkah pergi keluar dari tempat pelelangan, sedangkan wanita bergaun hitam yang aku yakini adalah Carla, menyusul di belakangnya.

__ADS_1


...


“Apakah ini yang kau maksud itu, Axel? Kau sudah tahu sebelumnya jika Henry ada di tempat yang sama?” Dalam perjalanan pulang aku langsung memburu Axel dengan pertanyaan yang sejak tadi memenuhi pikiranku.


Masih dengan sikap tenangnya, Axel hanya menanggapi sikapku dengan senyuman tipisnya yang samar.


“Kenapa? Apa kau masih merasa berdebar melihat mantan suamimu kembali?” sahutnya.


“A-apa?? Apa maksudmu itu, Axel?” tanyaku gugup.


“Aku sudah tahu semuanya, Angelina. Jangan berusaha menutupinya dariku. Kau dan Henry memang sudah bertemu sebelumnya, bukan?” ujar Axel memancing, sikapnya terlihat datar.


“Jadi kau tidak sadar jika sejak di Venesia kau telah di awasi oleh mantan suamimu sendiri?” Axel memancing dengan kedua alis yang saling bertaut.


“Apa?? Venesia?? Astagahh, apa maksudmu mobil yang waktu itu mengejarku adalah Henry??” Aku menutup bibirku secara spontan, merasa cukup syok sekaligus tak percaya.


“Tenanglah, aku tak akan marah padamu karena kau berusaha menutupinya dariku.”


Axel menatapku dalam, sedangkan satu tangan Axel menyentuh wajahku lembut.

__ADS_1


Aku hanya bisa terpaku saat ia memperlakukanku demikian.


“Lain kali berhati-hatilah, Angelina sayang. Karena permainan yang sebenarnya antara aku dan Henry akan dimulai dari sekarang,” tuturnya mengejutkanku.


Aku mengerjapkan mataku berulang kali, berusaha mencerna apa maksud ucapan Axel kali ini.


***


“Bagaimana bisa kau menginvestasikan uang delapan puluh juta dolar hanya untuk sebuah perhiasan, Henry?” protes Carla dalam perjalanan kembali ke Milan.


“Diam dan tak perlu banyak bertanya!” tegur Henry tegas. Ekspresi wajahnya terlihat kaku.


“Bagaimana aku tidak bertanya jika kau bersikap semakin aneh seperti ini, Henry? Delapan puluh juta dolar bukanlah jumlah yang sedikit!” protes Carla kembali.


Detik itu juga Henry melemparkan tatapan tajam dan menusuk pada Carla. Membuat wanita itu tercekat seketika dengan tubuh menegang.


“Aku bilang diam dan jangan banyak bicara, Carla Queen Baker! Jika tidak, aku tak akan segan melakukan sesuatu yang buruk padamu kali ini!” ancam Henry dengan kilat mata bagai nyala api.


Carla semakin yakin jika saat ini suasana hati Henry sedang buruk. Karena itulah Carla memilih diam tak dan berani bertanya kembali melihat ekspresi Henry yang demikian. Apa yang sebenarnya terjadi pada Henry? Apa ini ada hubungannya dengan pasangan yang ada di pelelangan tadi? Siapakah mereka? Sayang sekali Carla tak bisa melihat wajah pasangan misterius tadi dengan jelas saat di pelelangan. Wanita bergaun putih dengan penampilan menawan yang tak kalah dengan dirinya, begitu cukup mencuri perhatian siapa pun yang melihatnya. Tentu hal itu membuat Carla semakin bertanya-tanya dan penasaran. Siapakah sosok dibalik topeng itu?

__ADS_1


Sejak berada di Italy, Carla merasa jika suaminya itu terlihat semakin aneh dan dingin padanya. Apalagi sampai membeli berlian langka dengan harga yang fantastis?! Untuk siapakah berlian itu? Apalagi jika mengingat jawaban Henry, tentang untuk siapa berlian yang dibelinya dalam pelelangan. Darah Carla berdesir panas jika memikirkan hal itu, karena yang pasti Carla yakin berlian itu sengaja di beli Henry bukan untuknya! Jika demikian, lalu untuk siapa? Siapakah orang spesial yang dimaksud oleh suaminya itu? Mungkinkah Henry memiliki wanita lain selain dirinya? Tidak! Carla tentu tak akan terima itu semua jika terbukti Henry memiliki wanita lain selain dirinya di belakangnya! Untuk saat ini tak ada yang bisa Carla lakukan, tetapi tidak untuk nanti!


__ADS_2