
Axel Campbell duduk di mobil sport miliknya yang sengaja terparkir tak jauh di sekitar gedung Campbell Corporation. Pandangannya tak lepas melihat sekitar di tempat tersebut. Ia menunggu seseorang. Tidak, lebih tepatnya mengintai seseorang. Seorang wanita yang menarik perhatiannya. Lebih tepatnya karyawan magang di Campbell Corporation yang dipimpin oleh saudara tirinya. Siapa lagi jika bukan Angelina Louis.
Kedatangannya tadi siang di Campbell Corporation bukanlah tanpa alasan. Sejak dulu Axel memang tak terlalu tertarik dengan dunia bisnis, kedatangannya di perusahaan milik ayahnya itu hanyalah untuk membuat Henry merasa terancam. Tak hanya itu, ia ingin tahu lebih banyak segala hal tentang karyawan magang yang bernama Angelina Louis. Wanita yang secara tak sengaja menarik perhatiannya karena secara kebetulan bekerja di Campbell Corporation. Seperti yang ia ketahui dari seorang manager keuangan yang bernama Benyamin Larkin, jika Angelina adalah karyawan magang yang cukup menarik perhatian sebab diketahui memiliki rumor buruk dengan seorang petinggi Campbell Corporation.
Seperti sekarang, Axel sengaja menunggu Angelina keluar dari dalam gedung untuk mengetahui di mana wanita itu tinggal. Setelah kurang lebih satu jam menunggu, akhirnya seorang yang ditunggunya datang. Angelina keluar dari gedung Campbell Corporation. Dia tidak sendiri, seorang pria terlihat mendekatinya. Mereka berbincang sebentar, kemudian sang pria berlalu pergi dengan raut kekecewaan. Tak berapa lama sebuah mobil mendekati Angelina yang kini tampak menunggu taksi di depan gedung. Mobil itu berhenti, Axel tak bisa melihat Angelina dengan jelas, akan tetapi ia bisa menebak apa yang pemilik mobil itu lakukan. Seperti pria sebelumnya yang pergi terlebih dahulu, mobil itu pun tak berapa lama pergi, dan Angelina masih tetap berdiri di tempat yang sama.
Melihat semua itu Axel Campbell hanya tersenyum miring penuh arti, ia menggosok-gosokkan bibirnya dengan satu telunjuknya dan bergumam, “Wanita yang benar-benar menarik.” Axel bermonolog dengan pandangan tak lepas menatap sosok Angelina yang akhirnya mendapatkan taksi.
Tak mau kehilangan jejak Angelina, Axel segera menghidupkan mesin mobil sportnya dan mengikuti taksi yang membawa Angelina pergi. Hingga akhirnya mereka pun sampai dan berhenti di sebuah rumah besar bergaya Eropa. Pandangan Axel tak lepas menatap Angelina yang keluar dari dalam mobil taksi hingga akhirnya menghilang masuk ke dalam rumah.
Seorang yang hanya karyawan magang tinggal di rumah mewah seperti ini, tentu membuat Axel Campbell semakin bertanya-tanya. Bukankah hal itu semakin terlihat aneh? Apakah rumor itu benar, tentang Angelina Louis yang memiliki hubungan dengan seseorang di Campbell Corporation?
Merasa cukup mengetahui di mana Angelina Louis tinggal, Axel pun berbalik arah kembali meninggalkan tempat itu. Hanya berjarak satu kilometer dari rumah Angelina, Axel berpapasan dengan mobil milik Henry Campbell. Sangat kebetulan sekali, bukan? Axel menyeringai. Melihat fakta itu tentu semakin membuat Axel berpikir jauh. Mungkinkah apa yang ada dalam pikirannya itu benar? Hanya satu cara untuk mengetahuinya.
***
__ADS_1
“Angelina Louis!”
Seseorang memanggilku dengan suara keras yang memekakkan. Suara yang sangat aku kenal. Namun, ada apa kali ini ia datang dan memanggilku dengan suara keras seperti tadi?
“Di mana kau Angelina?!” Suara itu terdengar kembali semakin dekat, aku yang baru selesai mandi buru-buru memakai jubah mandiku dan beringsut keluar dari kamar mandi.
“Di sini kau rupanya!” Di saat yang sama itu pula Henry muncul masuk ke dalam kamar dan menghampiriku dengan langkahnya yang terburu-buru. Ekspresi wajahnya terlihat mengerikan dengan tatapan mata seperti seolah-olah ingin menelanku hidup-hidup saat ini.
“Habislah kau malam ini, jal*ng!!” Secara mengejutkan Henry menarik tanganku lalu menghempaskan tubuhku dengan kasar ke ranjang.
Plak!!
“Argh!!”
“Kau tanya apa yang aku lakukan?! Tentu saja memberikanmu hukuman!!”
__ADS_1
“Aku tak melakukan kesalahan, Henry! Kenapa kau selalu menyiksaku seperti ini!?” Aku berteriak membela diri.
“Apa kau bilang tak melakukan kesalahan?!” Henry mencengkeram rahangku erat dan menatapku nyalang, “Kau telah menyalahi aturan yang aku buat! Kesalahanmu tak hanya satu, namun banyak! Kau masih bersikap sok polos padaku dengan berlagak tak tahu apa-apa!?!” Henry berkata keras, ekspresi wajahnya benar-benar mengerikan menatapku dengan pandangan kebencian.
Belum sempat aku membela diri, Henry bergerak cepat menarik tubuhku hingga ke kepala ranjang, kemudian ia mengikat kedua tanganku dengan dasinya. Aku mencoba untuk berontak, tapi usahaku sia-sia. Tenagaku tak sebanding dengan tenaga pria besar seperti Henry.
“Tidak! Lepaskan aku, Henry! Lepaskan!” aku berteriak dan terus berontak melepaskan diri. Tak aku pedulikan jubah mandiku yang tersingkap terbuka.
Semakin aku memberontak, semakin Henry gelap mata. Aku semakin ketakutan ketika melihat Henry mulai melepas sabuk celananya, kemudian membalikkan tubuhku menjadi telungkup dengan kedua tangan yang terikat di kepala ranjang. Setelah itu Henry memukul tubuhku dengan sabuknya hingga aku menjerit semakin keras.
Splash! Splash!
Tak terhitung Henry terus melemparkan cambukkan di tubuh bagian belakangku.
“Ini adalah hukuman untuk istri yang telah berani menentangku dan melanggar aturan yang aku buat!” ucapnya lantang dengan menindih tubuhku lalu melakukan penyatuan itu tanpa sedikit pun pemanasan, akan tetapi justru penyiksaan.
__ADS_1
Seperti mencoba untuk tuli, Henry tak memperdulikan jeritan rasa sakit dan teriakkanku yang terus memohon untuk dilepaskan. Pria yang merupakan suamiku telah memperlakukan tubuhku dengan kasar serta tak manusiawi. Apakah ini sudah menjadi takdirku? Diperlakukan seperti ini oleh pria yang dengan sengaja menikahiku hanya sebagai pelampiasannya saja? Hingga akhirnya aku tak bisa menahan rasa sakit di tubuhku lagi. Pandanganku mulai kabur, rasa sakit di tubuhku tak dapat kutahan lagi hingga sampai pada titik puncaknya dan membuatku tak sadar saat itu juga.