
Seorang pria duduk menikmati segelas wine sembari melihat pemandangan kota gedung New York city malam hari dari jendela kamar suite hotel berbintang terbaik yang sengaja dipesannya. Dialah Axel Campbell, putra pertama dari Arthur Campbell sekaligus pewaris pertama dari seluruh kekayaan keluarga Campbell. Ia menyesap kembali wine dengan pandangan mata tak lepas dari pemandangan gedung bertingkat yang berjejer dari luar jendela kamar hotelnya. Pikirannya tidak berada di sini, namun ia mengingat kembali pertemuannya tadi beberapa jam yang lalu dengan seorang wanita di sebuah supermarket yang sempat ia kunjungi tadi sebelum berada di sini.
“Angelina Louis.” Axel tersenyum miring penuh arti mengingatnya, “Nama yang cantik seperti wajahnya. Akan aku ingat itu baik-baik wajah dan namamu,” Axel bermonolog.
Kedatangannya kembali ke kota kelahirannya adalah bukan tanpa alasan. Atas permintaan ayahnya, Arthur Campbell, Axel kembali setelah waktu yang cukup lama. Dan hari ini ia akan menikmati harinya sebagaimana yang sudah menjadi haknya selama ini. Sejak memilih hidup bersama dengan sang ibu dan menetap di Milan, Itali, Axel hidup mandiri tanpa embel-embel keluarga Campbell. Namun, garis keturunan tetap tak bisa diputus begitu saja. Atas keinginan terakhir sang ibu dan permintaan dari ayah kandungnya sendiri, Axel akhirnya mau kembali ke kota di mana ia dilahirkan.
Tetapi siapa menyangka di hari pertamanya ia menginjakkan kakinya kembali di kota New York, ia justru bertemu dengan salah seorang karyawan magang di Campbell Corporation. Seorang wanita cantik yang cukup menarik perhatiannya, Angelina Louis. Sebuah pertemuan yang sangat kebetulan.
Axel menggoyang-goyangkan gelas yang masih berisi wine dan berkata lirih penuh percaya diri, “Aku pastikan kita akan bertemu kembali, Angelina Louis.” Axel tersenyum penuh arti saat mengucapkannya.
...
Di lain tempat, tepatnya di mansion utama Campbell, tempat di mana Arthur Campbell tinggal, Henry melangkah dengan tergesa menemui sang ayah. Ia butuh sebuah jawaban atas sesuatu yang tak terduga dengan kedatangan saudara tirinya kembali setelah bertahun-tahun.
“Jelaskan padaku kenapa kau memanggilnya kembali, Dad?!” tukas Henry lantang pada sang ayah.
__ADS_1
“Apa begitu sikapmu berbicara pada ayahmu sendiri, Henry Campbell?” Pria setengah baya itu menyahut dengan sikap tenangnya yang berwibawa.
“Seharusnya kau berbicara terlebih dahulu padaku sebelum memberikan keputusan secara sepihak seperti ini! Ingat Dad, aku adalah putramu!” Henry berkata dengan nada cukup keras.
“Dan kau jangan lupa, Axel juga adalah putraku. Dia juga berhak mendapatkan apa yang juga kau miliki, Henry,” tegas Arthur.
“Tsk! Sial!” Henry mengumpat kesal, “Katakan padaku apa yang sedang kau rencanakan, Dad?!” tanyanya lantang.
“Kenapa kau berpikir aku merencanakan sesuatu? Aku hanya ingin bertemu dengan putraku yang sudah lama tak aku temui, apa itu menjadi masalah?”
Arthur menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan berat. Pandangannya menatap kosong jendela luar berukuran besar yang langsung memperlihatkan halaman luar mansion.
“Aku hanya ingin bersikap adil pada kedua putraku. Selama ini kau tak pernah kekurangan cinta dan hidup baik sebagai putraku, tapi tidak dengan Axel Campbell. Marry sudah meninggal, kini hanya kita yang Axel miliki sebagai keluarganya. Bagaimana pun kalian berdua adalah saudara, Henry. Aku hanya ingin kau dan kakakmu hidup berdampingan bersama,” ujar Arthur penuh harap.
“Bullshit! Aku tidaklah senaif itu, Dad! Apa kau lupa apa yang telah putra yang kau banggakan itu lakukan padaku dulu?! Seumur hidup aku tak akan bisa melupakan itu, Dad!” tukas Henry, ekspresi wajahnya tampak tegang mengingat kembali masa lalunya yang buruk hingga membuatnya sempat merasa trauma.
__ADS_1
“Semua hanya masa lalu, Henry. Kalian masih remaja saat itu. Belajarlah memaafkan dan melupakan apa yang sudah terjadi. Aku hanya ingin melihat kita bertiga berkumpul menjadi keluarga yang utuh lagi,” Arthur berkata bijak.
“Tidak! Aku tidak bisa melupakan begitu saja apa yang sudah terjadi padaku dulu. Yang pasti, aku menentang keras kembalinya Axel Campbell dalam keluarga ini!” Setelah mengucapkan kalimat penentangan itu, Henry melangkah keluar dengan sikap keras kepalanya. Sedangkan Arthur hanya bisa diam dan menghela nafas dalam-dalam melihat sikap putra keduanya itu.
Pria yang masih terlihat tampan di usianya itu, kembali mengingat kejadian tujuh belas silam saat ia harus mengusir istri pertamanya dan menceraikannya. Kedua netranya memejam merasakan sesak sekaligus rasa penyesalan atas apa yang pernah ia lakukan dulu pada istri pertamanya itu.
“Marry, maafkan aku. Aku memang tak bisa mengulang kembali masa lalu dan mendapatkan maaf darimu. Aku hanya tak ingin melakukan kesalahan itu lagi dan membiarkan anak kita hidup tanpa sebuah keadilan. Aku tak mau hidupku selalu dihantui dengan rasa penyesalan di sisa umurku yang tak lagi muda,” gumam Arthur lirih.
Sedangkan Henry meninggalkan mansion utama dengan kemarahan yang masih ada dalam dirinya. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Moodnya sedang buruk sejak pagi tadi, dan entah kenapa di saat ia merasa kesal Henry justru menuju ke tempat di mana sosok yang ia benci ada di sana.
“Sial! Kenapa aku justru menuju ke rumah ini lagi!” umpat Henry kesal setelah sadar mobilnya sudah berada di depan halaman rumah di mana Angelina Louis ada di sana, istrinya sendiri.
Merasa sudah terlanjur dan terjebak dengan perasaan sendiri, Henry akhirnya menepikan mobilnya di rumah bergaya Eropa di depannya. Dengan langkah berat ia masuk ke dalam. Malam ini sudah cukup larut dan hampir tengah malam, Henry yakin jika wanita yang tak lain adalah istrinya itu pasti sudah tertidur lelap. Masuk ke dalam rumah ini, selalu mengingatkan Henry pada malam panas itu ketika dirinya dan Angelina untuk pertama kalinya menghabiskan malam bersama dan bercinta dengan sepenuh hati. Tidak ada pemaksaan apalagi penyiksaan seperti biasa yang ia lakukan pada Angelina, semua mengalir begitu saja saat itu. Walaupun ketika itu dirinya dalam keadaan mabuk, namun Henry masih mengingat dengan jelas percintaan itu.
Dirinya tak menampik jika ia sempat ikut hanyut dengan gairah yang menggebu. Wanita itu, Angelina Louis selalu berhasil membuatnya merasakan gairah yang besar apabila berdekatan. Hatinya masih ada untuk Carla, namun pesona Angelina juga selalu menghantui pikiran dan hatinya setiap waktu, dan Henry selalu kesal jika mengingatnya. Egonya tentu saja tak bisa menerimanya begitu saja. Tapi apa pun itu, Henry tak ingin banyak berpikir untuk saat ini. Karena bagaimana pun ia memiliki hak atas hidup Angelina Louis, begitu juga dengan tubuh wanita itu. Seperti sekarang, hasratnya kembali bangkit saat melihat sosok yang ia benci itu kini tampak tertidur dengan posisi begitu menggairahkan seperti malam itu, dan Henry tentu tak akan melewatkannya begitu saja apa yang sudah menjadi haknya. Dengan langkahnya yang penuh percaya diri, Henry berjalan menuju ke ranjang dan mulai melepas pakaian yang dikenakannya satu persatu sebelum dirinya mendekati tubuh Angelina untuk meminta haknya kembali sebagai suami.
__ADS_1