ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG

ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG
Pertemuan tak terduga


__ADS_3

“Ayo sini Mom! Berenang bersamaku!” Andrew berteriak memanggil dengan antusias seraya berlari ke pinggir pantai.


“Jangan berlari terlalu cepat Andrew! Tunggulah Mom!” aku melangkah cepat menyusul Andrew yang berlari terlebih dahulu.


Setelah mendapatkan izin dari Axel, aku dan Andrew pun pergi berlibur ke pantai di mana kali ini menjadi tempat tujuan kami. Tentunya bersama Rex dan Billy, seperti yang Axel perintahkan. Kedua pengawal kepercayaan kami ikut serta untuk mengawal kami. Aku pikir tak masalah, tanpa Axel ataupun tidak, yang jelas saat ini aku hanya ingin menikmati liburanku bersama dengan putraku, Andrew Campbell.


Bisa kulihat Andrew begitu semangat dan senang dengan liburan kali ini, walaupun liburan ini hanya ada kami berdua. Setelah cukup lama menemani Andrew bermain di pantai, kini aku memilih duduk berjemur di pinggir pantai sembari mengawasi Andrew yang tengah asyik bermain membuat istana pasir.


Cuaca cerah hari ini seakan mendukung liburan kami, begitu juga suasana pantai yang cukup ramai membuatku merasa tidak sendirian. Pandanganku beredar melihat sekeliling pantai, di mana sekelompok muda mudi, pasangan kekasih dan sebuah keluarga tengah menikmati kebersamaan mereka. Hingga pandanganku akhirnya tertuju pada sebuah keluarga kecil dengan satu orang anak laki-laki seumuran dengan Andrew. Mereka terlihat begitu manis, dan bahagia. Tak terasa bibir ini tersenyum dengan sendirinya ketika melihatnya.


Kenapa aku merasa hampa? Bukankah kehidupanku juga begitu bahagia? Bersama dengan Axel Campbell yang menjadi suamiku sekaligus ayah dari putraku Andrew Campbell. Seorang anak yang seharusnya menjadi keponakannya. Entahlah, aku merasa hatiku gelisah sejak tahu jika Henry masih berada di Italy, dan perubahan sikap Axel akhir-akhir ini. Aku merasa berdosa dan bersalah pada suamiku sendiri, karena sampai detik ini aku belum bisa memberikan seluruh hatiku untuk dirinya.


“Hallo, kau sendirian Miss?”


Sebuah suara mengejutkanku dan membuyarkanku dari lamunan. Secara refleks kepalaku pun menengadah ke atas melihat sosok seseorang yang menyapaku. Tampak dua orang pria muda dengan tubuh atletisnya yang hanya mengenakan celana pendek renang berdiri tak jauh di mana aku duduk dan berjemur. Satu dari mereka terlihat menampilkan senyum cerahnya yang menawan.


“Kau sendirian, Miss? Bolehkah jika kami menemanimu di sini?” sang pria berambut pirang pasir bertanya sekali lagi padaku.


“Maaf, tapi aku sedang bersama dengan anakku.” Aku menunjuk ke arah Andrew yang tak jauh ada di depan kami.


“Wah, benarkah? Sungguh tak menyangka wanita muda sepertimu sudah memiliki seorang anak,” pria itu berkomentar.


Aku hanya tersenyum tipis menjawabnya, sungguh melihat tatapan mereka membuatku tidak nyaman. Tak mau terlihat menanggapi aku pun lebih memilih sibuk dengan ponselku sendiri. Namun, bukannya pergi, dua pria muda itu justru duduk di sebelahku dengan tanpa basa-basi. Mereka sengaja bersikap cuek ataupun tuli aku tak mengerti.


“Bagi kami wanita single justru terlihat semakin menarik. Kau tidak keberatan jika kami berdua menemanimu di sini ‘kan, Miss?”

__ADS_1


“Aku yang keberatan!!”


Aku tercekat dan belum sempat menjawabnya, tetapi sebuah suara bariton lain terdengar dari belakangku dengan cukup lantang.


“Siapa kau??” Dua pria muda itu terlihat tak berbeda denganku, sama-sama terkejut.


“Henry?? B-bagaimana bisa...?”


Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat kini. Melihat Henry sekarang tampak berdiri tepat di belakangku tentu saja membuatku terkejut setengah mati!


“Aku adalah suaminya! Bernyali sekali kalian menggoda istriku dengan omong kosong itu!” geram Henry yang tentu saja ucapan itu mengejutkanku.


“M-maafkan kami jika lancang. Kami tidak tahu jika wanita ini adalah istri Anda.” Seketika dua pria muda itu pun langsung beranjak bangkit dengan raut wajah ketakutan.


“Kau?? Bagaimana bisa kau ada di sini, dan juga apa maksud ucapanmu tadi dengan mengatakan pada mereka jika kau adalah suamiku?!” sergahku pada Henry yang tampak dengan sikap santainya.


“Apa begitu sikapmu pada mantan suami yang sudah membantumu mengusir para pria hidung belang tadi?” sahut Henry cuek.


“Apa??” aku mendengus kesal.


Sungguh pria yang tak tahu malu!


“Dan apa kau pikir, kau ini lebih baik dibandingkan dengan mereka?” sindirku tajam.


Henry menyeringai, “Setidaknya aku lebih baik daripada mereka, dengan bersikap terang-terangan padamu seperti sekarang,” sahutnya.

__ADS_1


Sekali lagi aku mendengus, “Di mataku kau tak ada bedanya dengan mereka!” balasku kesal.


“Bukankah harusnya kau senang aku datang tepat pada waktunya dan menolongmu dari rayuan pria hidup belang, tapi kenapa kau justru terlihat marah padaku?” Henry berkomentar dengan memasang ekspresi wajah pura-pura polosnya yang menyebalkan.


“Itu karena keberadaanmu tidak diterima di sini! Pergilah Henry, dan berhentilah memata-mataiku!” tegasku dengan tatapan berani pada pria yang kini terlihat berpenampilan kasual dan seksi dengan kemeja warna putih polos yang dibiarkan setengah terbuka.


“Aku tidak akan pergi dari sini karena ini adalah fasilitas umum, dan aku berhak di sini karena aku ingin mengenal putraku sendiri.” Seolah tak peduli dengan kemarahanku Henry justru duduk di sampingku dengan gaya cueknya.


Astaga, sejak kapan seorang Henry Bastian Campbell menjadi pria yang tak tahu malu seperti ini?!


Aku mencebik dan membulatkan mataku merasa semakin kesal.


“Siapa bilang Andrew adalah putramu?! Kau jangan terlalu percaya diri!” aku menyangkal keras merasa kesal sekaligus berusaha keras menahan kedongkolan.


“Tentu saja aku sendiri.” Henry berpaling padaku dan tersenyum penuh arti, “Ingat Angelina. Filling seorang ayah pun tak akan pernah salah,” tegasnya penuh keyakinan.


“Dan aku adalah ibunya, aku lebih tahu siapa ayah dari putraku yang sebenarnya!” aku terus menyangkal keras.


“Oya?? Menyangkalah terus, Angelina. Bagiku itu tak akan menyurutkan keyakinanku jika Andrew adalah putraku.” Henry berucap lirih di telingaku dengan mendekatkan dirinya padaku. Begitu dekat, hingga hembusan nafasnya begitu terasa di wajahku.


Aku menegang detik itu juga. Sungguh aku tak menyangka jika Henry begitu yakin jika Andrew adalah putra kandungnya. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Begitu tegangnya aku hingga aku tak sadar jika Andrew kini sudah ada di dekat kami.


“Mom sedang apa?? Dan siapa Paman yang sedang bersamamu ini?” tanyanya polos mengejutkanku.


Ya, Tuhan. Aku tak menyangka jika ketakutanku sekarang menjadi kenyataan. Andrew dan Henry, kini ayah dan anak itu bertemu untuk kedua kalinya secara langsung seperti sekarang ini. Lalu, jika sudah seperti ini apa yang harus aku lakukan?

__ADS_1


__ADS_2