ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG

ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG
Pertemuan kembali


__ADS_3

Empat tahun kemudian


Venesia, Italy.


Di salah satu restoran terbaik di Venesia, aku tengah menemani putraku yang kini sudah tumbuh besar. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, empat tahun telah aku lewati sejak pernikahanku bersama dengan Axel Campbell.


“Apa yang ingin kau makan, Andrew? Jika kau masih bingung, Mom bisa pilihkan menu makanan untukmu, Sayang.” Aku bertanya pada putraku yang terlihat sibuk memilih makanan yang diinginkannya malam itu.


“Aku ingin makan daging, Mom,” pinta Andrew dengan memasang wajah yang tampak menggemaskan.


Aku tersenyum seraya mengelus rambut hitamnya dan berkata, “Bagaimana kalau kau makan carne salada, Mom yakin kau akan menyukainya, Sayang,” tawarku seraya menunjuk gambar carne salada pada si kecil Andrew.


Senyum merekah di bibir Andrew setelah melihat gambar pada buku menu yang aku tunjukan padanya.


“Sepertinya itu enak, Mom,” ucapnya antusias.


“Baiklah, Mom akan pilihkan menu ini untukmu, Sayang,” ucapku pada Andrew yang duduk di sebelahku, “Lana, kau pilih sendiri menu makanan yang kau suka.” Aku memberikan buku menu itu pada wanita muda bernama Anna, seorang pelayan kepercayaan yang selalu aku bawa untuk menjaga Andrew.


“Terserah Anda saja yang pilihkan, Nyonya,” jawabnya dengan tersenyum tipis.


“Baiklah kalau begitu, karena kau vegetarian bagaimana kalau caprese?” aku menawarkan seraya menunjukkan gambar menu makanan yang aku maksud.


“Boleh, Nyonya.” Lana mengangguk setuju.


Setelah selesai memilih menu untuk kami bertiga, aku pun memanggil pelayan restoran.


“Mom, aku ingin ke kamar kecil,” Andrew merengek padaku.


Di saat yang sama ponsel yang aku letakkan di atas meja terlihat bergetar.


“Ponsel Anda bergetar, Nyonya.” Lana memberitahu.


“Ah, ya. Sebentar. Tolong kau antar Andrew ke toilet, Lana. Suamiku menelepon. apku mengambil ponsel yang terus bergetar di atas meja.

__ADS_1


“Baik, Nyonya.” Lana menjawab patuh.


“Ayo, Tuan muda saya antar ke toilet sekarang,” ajak Lana pada Andrew.


“Biarkan Lana mengantarkanmu, Andrew. Mom menunggu di sini, okay?” bujukku seraya tersenyum.


“Okay, Mom,” Andrew menyahut patuh.


“Ya, hallo Axel?” sahutku menerima panggilan telepon dari Axel Campbell, pria yang merupakan suamiku sendiri.


“Apa kalian sedang bersenang-senang?” sahut suara dari balik telepon.


“Ya, aku mengajak Lana serta ke restoran,” aku menjawab.


“Lakukan apa pun yang kau suka. Yang terpenting kau juga membawa serta para pengawal,” Axel mengingatkan.


“Ya, seperti biasa. Rex dan Billy ikut bersamaku,” aku memberitahu.


“Kenapa? Apa ada masalah?”


“Hanya masalah kecil, aku bisa mengatasinya di sini. Ngomong-ngomong, apa kau tak merindukanku Angelina sayang?”


Aku tersenyum tipis dari balik telepon dan menjawab, “Sudah lebih dari satu minggu tak bertemu, sangat mustahil jika tidak ada rasa rindu.”


“Benarkah? Aku senang mendengarnya. Jawabanmu membuatku tak sabar ingin bertemu denganmu. Jika aku kembali nanti, akan aku pastikan aku akan membuatmu tak ada waktu untuk bangun dari ranjang.”


Mendengar ucapan vulgar Axel, tentu membuat telingaku panas seketika. Hingga membuatku tak bisa berkata-kata.


“Baiklah, lanjutkan malam kalian. Jaga dirimu, Angelina. Aku mencintaimu.” Setelah mengucapkan kalimat cinta itu, Axel menutup sambungan teleponnya begitu saja.


Bersamaan saat itu aku melihat Lana dan Andrew berjalan mendekati meja kami.


“Kalian sudah selesai?” aku bertanya pada Andrew yang baru saja kembali ke meja kami.

__ADS_1


“Apakah Mom tahu, tadi waktu aku di toilet bertemu dengan Paman tampan, Mom?” Dengan polosnya Andrew bercerita.


Aku menyempitkan pandanganku dan bertanya penasaran, “Paman tampan?” tanyaku penuh selidik.


“Benar Nyonya, maksud Tuan muda tadi kami sempat bertemu dengan seorang pria yang tak sengaja ditabrak oleh Tuan muda ketika berpapasan di toilet.”


“Astaga, benarkah itu Andrew?” aku bertanya memastikan, cukup tercekat mendengarnya.


“Aku tidak sengaja, Mom. Paman tampan itu saja yang terlalu tinggi sehingga aku tak bisa melihatnya,” Andrew menjawab polos.


Seketika aku pun tertawa kecil mendengar jawaban polos dari Andrew, “Lalu apa yang terjadi? Apakah Paman itu marah padamu, Sayang?” godaku.


“Tidak, Mom. Dia justru seperti terpesona melihatku. Mungkin karena aku terlihat menggemaskan,” sahut Andrew dengan gayanya yang memang menggemaskan.


“Astaga, apa itu benar, Lana?” Aku bertanya penasaran.


“Benar Nyonya, pria tadi terlihat terkejut melihat Tuan muda. Entah apa sebabnya, tapi memang sepintas pria itu mirip seperti Tuan muda versi dewasa. Maaf ini hanya pendapat saya,” jelas Lana.


Deg!


Jantungku serasa berhenti berdetak mendengarnya. Entah kenapa kalimat Lana membuatku merasa takut. Ya, lebih tepatnya aku takut dengan seseorang. Seseorang yang paling aku hindari dan menjadi mimpi terburukku. Mungkinkah? Tidak! Tidak mungkin itu dia, aku mencoba menepis pikiran itu dan berpikir logis. Dari berjuta orang di dunia, di tempat ini, kemungkinan sangat kecil jika kami akan bertemu di tempat yang sama.


Mencoba tak ingin berpikiran jauh lagi, aku pun lebih memilih tak memikirkan hal itu dan lebih fokus dengan kebersamaanku dengan putraku, Andrew Aidan Campbell.


***


Di sisi lain di tempat yang sama, seorang pria tampan dengan sorot mata tajamnya tampak terpaku menatap ke arah seseorang. Jarak pandang yang cukup jauh tak membuat pandangan fokus sang pria terganggu. Ia berdiri terpaku melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Awalnya ia tak percaya jika apa yang dilihatnya sekarang adalah nyata. Bagaimana tidak? Seseorang yang menghilang seperti ditelan bumi dalam waktu yang cukup lama, kini muncul dan ada di depan matanya. Tak hanya fakta itu yang membuat sang pria terkejut, kenyataan jika wanita yang pernah menjadi masa lalunya itu sekaligus yang menjadi perhatiannya sekarang, kini tak lagi sendiri. Lebih tepatnya wanita itu bersama dengan seorang anak kecil laki-laki berusia sekitar empat tahun yang secara kebetulan baru saja ia temui di koridor toilet restoran ini.


“Angelina Louis, mungkinkah itu benar kau? Kau terlihat sangat berbeda sekarang,” gumam sang pria dengan pandangan tak lepas menatap sang wanita yang bernama Angelina Louis.


“Mark, kau selidiki wanita bergaun apricot yang sedang bersama anak kecil laki-laki di ujung meja sebelah timur itu. Aku perintahkan jangan sampai lepas dari pantauanmu!” perintah sang pria tegas dengan seorang asisten kepercayaannya yang berdiri tak jauh di sampingnya.


“Baik, Mr. Campbell,” sang asisten menjawab patuh.

__ADS_1


__ADS_2