
“Satu gelas lagi!” pinta seorang wanita cantik berpenampilan menarik pada seorang bartender di sebuah bar terbaik di Milan malam itu.
Wanita yang tak lain adalah Carla itu tampak memesan minuman beralkohol tinggi pada seorang bartender untuk ke sekian kalinya. Raut wajah cantiknya terlihat frustasi dan marah. Bagaimana tidak? Suaminya sendiri baru saja mengatakan jika ada wanita lain dalam pernikahan mereka, hati istri mana yang tidak sakit hati mendengarnya? Apalagi seorang wanita sempurna berego tinggi seperti Carla Queen Baker, tentu ia tak akan terima hal itu! Carla tak terima penghinaan ini!
Apa yang selama ini Carla pikir itu ternyata benar. Jika Henry memiliki wanita lain di hatinya. Itu adalah jawaban dari perbedaan sikap Henry padanya. Henry yang memujanya, Henry yang mencintainya, selama menjalani hampir empat tahun pernikahan tak pernah sekali pun bersikap acuh padanya kini tiba-tiba justru bersikap dingin padanya. Carla mengakui jika Henry adalah sosok suami yang selalu memprioritaskan dirinya sejak dulu selama pernikahan, walaupun Henry adalah pria yang bisa dikatakan seorang pria gila kerja, namun Carla yakin cinta Henry hanyalah untuknya. Tetapi kenapa kini semua berubah dalam sekejap mata? Tepatnya sejak Henry melakukan perjalanan di Milan, Italy. Yang jadi pertanyaan sekarang, siapakah wanita itu, dan mungkinkah wanita itu ada di Italy sekarang?
Alasan itulah yang membuat Carla melampiaskan kemarahannya dengan datang di bar ini. Ia sangat marah, kesal, emosi dan terluka dan karena itu ia ingin menggila malam ini. Tak peduli jika Henry akan marah padanya, ia sudah tak peduli lagi sebab yang berhak marah sekarang adalah dirinya! Henry yang lebih dulu mengkhianatinya jadi jangan salahkan jika Carla akan berbuat hal yang sama.
“Pengkhianat!!” maki Carla keras tak peduli dengan beberapa pengunjung bar yang memperhatikannya.
“Tampaknya kau sedang kesal, Miss? Boleh aku duduk di sini menemanimu?” Seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan jambang tipisnya terlihat mendekati Carla yang masih duduk tenggelam dengan gelas berisi minuman di tangannya.
Carla menoleh ke arah sang pria yang memamerkan senyuman terbaiknya, “Ya? Siapa kau?” Carla menatap sayu sang pria yang sudah duduk di sebelahnya dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
“Hallo, perkenalkan namaku Emilio Ricardo. Siapa namamu Cantik? Tampaknya kau bukan orang lokal.” Pria bernama Emilio itu tersenyum samar terlihat tampan dan memikat.
Walaupun sudah dalam keadaan mabuk, namun penglihatan Carla cukup jelas. Ia bisa melihat jika pria yang mendekati dirinya adalah sosok pria yang terbilang gagah dan tampan. Carla pun mengulas senyum pada pria bernama Emilio itu.
“Ya, kau benar. Aku adalah pendatang yang kebetulan sedang ada di sini. Namaku Carla, Tampan.” Suara Carla terdengar serak, menatap Emilio dengan gayanya yang menggoda.
Emilio menyeringai, ia tampak senang jika Carla ternyata menyambut dirinya. Dalam waktu singkat mereka berdua pun asyik berbincang. Bahkan baik Carla maupun Emilio tak sungkan untuk saling menggoda. Rayuan demi rayuan gencar dilakukan, hingga bahasa tubuh mereka tampak seperti sepasang kekasih yang tengah di mabuk asmara. Carla yang sedang merasa terkhianati menyambut hangat Emilio yang menarik di matanya. Tak butuh waktu lama sepasang manusia berbeda jenis itu pun mulai mencari yang lebih privasi untuk mereka berdua. Hasrat keduanya sama-sama besar hanya dalam satu pertemuan singkat. Kemarahan Carla telah membuatnya terjerumus dalam lubang nafsu sesaat. Bersama dengan Emilio ia pun bercumbu dengan penuh gairah yang menggebu.
“Kau adalah wanita tercantik dan terseksi yang baru pernah aku temui, Carla.” Puji pria bertubuh kekar itu dengan suara serak, mendaratkan bibirnya ke jengkal demi jengkal kulit tubuh Carla yang kini sudah sepenuhnya polos terbaring di atas ranjang.
“Ohh, Emilio. Cepatlah lakukan, aku tak sabar ingin merasakan kejantananmu di dalam milikku.” Carla yang sudah dipenuhi kabut nafsu menggeliatkan tubuhnya menikmati sentuhan demi sentuhan yang membuat gair*hnya bangkit semakin liar.
“Apa kau benar-benar ingin aku melakukannya, Carla?” Emilio menyeringai penuh percaya diri melihat sosok polos itu terlihat takluk dalam kendalinya.
__ADS_1
“Please, Emilio! Masukkan sekarang! Aku sudah tak tahan lagi.” Carla menggerang dan terus menggeliat, jelas terlihat gair*h nafs*nya sudah sampai di ubun-ubunnya.
“Kau yang memintanya, Sayang. Bersiaplah....” Emilio mulai memposisikan dirinya di atas tubuh Carla yang sudah pasrah.
Kini dua manusia berbeda status itu pun hanyut dalam pusaran gair*h nafs* terlarang yang menggebu.
...
Berbeda dengan Carla yang tengah memadu kasih dengan pria lain, Henry justru hanyut dengan kesendiriannya. Ia tak bisa berhenti memikirkan seseorang dalam pikirannya malam itu. Ingatannya kembali dengan pertemuannya dengan sang mantan istri, Angelina Louis. Angelina yang semakin mempesona, Angelina yang selalu membuatnya tak bisa lupa setelah malam pengkhianatan itu, dan Angelina yang sudah menjadi istri dari pria lain. Dari banyak pria di dunia ini, kenapa harus Axel Campbell, seseorang yang amat dibencinya? Kenyataan itu tentu membuatnya marah, Henry tak bisa menerimanya. Apalagi jika mengingat bibir manis Angelina yang dirasakannya tadi, sampai saat ini Henry tak bisa lupa. Bibir itu, aroma dalam tubuh Angelina saat dalam dekapannya masih tetap sama seperti dulu, tidak ada yang berubah dan semua itu membuat Henry mengingat kembali masa-masa itu, saat Angelina masih menjadi istrinya.
Bukankah kebencian Henry semakin besar setelah ia memergoki mantan istrinya itu saat satu ranjang dengan pria lain? Namun, pada kenyataannya Henry justru tak bisa lupa dengan Angelina Louis bahkan sampai detik ini. Sebenarnya ada apa dengan dirinya? Rasa itu, rasa yang pernah hilang selama empat tahun lebih lamanya kini kembali Henry rasakan. Berbeda dengan saat bersama dengan Carla, istrinya sekarang. Henry menikahi Carla karena cinta, namun kenapa hatinya tetap merasa hampa? Bahkan seiring dengan waktu cinta itu sedikit demi sedikit seperti memudar dan hambar. Selama empat tahun pernikahan Carla tak kunjung memberikannya keturunan. Bukan tanpa sebab, itu terjadi karena Carla sendiri yang menolaknya tegas dengan alasan tuntutan karier sebagai model.
Selama ini Henry memang tak terlalu mempermasalahkannya, tetapi setelah pertemuannya dengan bocah yang mirip seperti dirinya membuatnya berubah pikiran. Memiliki seorang keturunan tentu adalah impian setiap orang, dan apabila dugaannya benar tentang Andrew Campbell adalah anaknya, tentu Henry tak akan pernah melepaskannya, baik itu Andrew ataupun Angelina. Bagaimana pun caranya Henry akan berjuang untuk mendapatkan kembali mereka berdua. Meskipun ia harus bersaing dengan saudara tirinya sendiri, Axel Campbell, ia tidak akan takut, dan perang itu akan dimulai, cepat atau lambat.
__ADS_1