ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG

ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG
Secerah harapan


__ADS_3

Entah sudah berapa lama aku berjalan tanpa arah dan tujuan. Pandanganku kosong seakan kehilangan harapan. Tak aku rasakan hawa dingin menerpa tubuhku, hanya dengan mengenakan pakaian seadanya yang sudah tak layak, aku berjalan tertatih menyusuri jalanan gelap di malam buta yang sunyi. Tak aku rasakan rasa sakit dalam tubuhku saat ini. Seolah semua mati rasa, aku tak merasakan perasaan apa pun selain hanya kehampaan. Ya, hatiku hampa dan terasa kosong. Semua kejadian hari ini bagai mimpi terburukku. Semua begitu cepat dan belum bisa aku mengerti. Sampai sekarang aku masih berharap jika ini adalah mimpi dan aku akan terbangun kemudian tak akan mengingatnya lagi. Namun sayang, semua ini adalah nyata dan benar-benar terjadi.


Penghinaan, pelecehan, fitnah dan caci maki baru saja aku alami. Angelina Louis, mungkinkah hidupmu memang sehina ini? Aku tersenyum getir dengan nasib buruk yang aku alami. Dengan keadaanku yang seperti ini, lantas untuk apa aku hidup lagi? Kini langkahku terhenti di sebuah jembatan, di mana di depanku adalah sungai yang terlihat begitu indah di malam buta ini. Sempat terbersit keinginanku untuk mengakhiri semuanya dengan jalan pintas. Namun, aku bukanlah seorang pengecut. Aku tidaklah sendiri saat ini, ada calon nyawa yang seharusnya aku lindungi.


Tuhan, jika kau masih bersama denganku. Tolong berikan aku kebesaran hati dan juga kekuatan untuk bisa menerima semua nasib buruk yang sudah terjadi padaku. Aku ikhlas jika ini memang sudah menjadi jalanku. Namun, seberapa pun aku kuat, aku tetaplah manusia biasa. Aku rela jika aku harus mati sekarang, setidaknya aku bukanlah seorang pengecut. Meskipun aku berusaha untuk kuat dan bertahan, tetap saja tubuhku ini tak bisa lagi menanggung semua beban yang aku rasakan.


Untuk calon anakku, maafkan ibu, Nak. Ibu tak bisa melindungimu. Kita lihat masih adakah seberkas cahaya untuk kita sekarang? Aku tersenyum pahit, air mataku luruh begitu saja tanpa diminta. Aku lelah. Ya, aku sangat lelah.


***


Brukk!!


Seorang wanita jatuh pingsan di pinggir jembatan di sebuah jalanan sunyi nan gelap di malam buta yang dingin itu. Tak berapa lama sebuah mobil berhenti di dekatnya. Seorang pria tinggi dengan tubuh atletisnya yang terlihat jantan. Axel Campbell, dialah sang pria yang sejak tadi sepanjang malam itu mengawasi sang wanita yang tak lain adalah Angelina Louis. Axel keluar dari dalam mobilnya, menatap sosok tubuh rapuh yang terlihat begitu menyedihkan sekarang.


“Di saat seperti ini, kau masih saja bertahan dan tak memilih datang padaku. Kau memang wanita luar biasa, Angelina.” Ucap Axel lirih menatap penuh simpatik Angelina yang kini pingsan dengan keadaan yang menyedihkan.


Axel mengendong tubuh rapuh Angelina ke dalam mobilnya kemudian membawanya pergi dari tempat itu.


...


Axel Campbell membawa Angelina Louis ke sebuah tempat di mana di sana Angelina mendapatkan perawatan yang terbaik. Selain menyediakan tempat yang nyaman, Axel juga mengundang dokter yang terbaik untuk memeriksa dan merawat Angelina. Ia memang sudah jauh-jauh hari menyiapkan segalanya untuk menghadapi situasi yang memang sudah ia prediksi sejak awal.

__ADS_1


Ya, Axel Campbell memang sudah menebak jika hal ini akan terjadi pada Angelina. Ternyata pemikirannya tidaklah salah. Sebelumnya Axel memang hanya sebagai penonton, namun tidak untuk sekarang. Saat ini adalah gilirannya. Angelina Louis sekarang adalah miliknya, bukan lagi milik Henry Bastian Campbell.


“Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah kandungannya bermasalah?” Axel bertanya pada seorang dokter yang baru saja selesai memeriksa Angelina.


“Untuk saat ini dia baik-baik saja. Begitu pun juga dengan kandungannya. Dia termasuk wanita yang kuat, sangat jarang wanita yang dalam keadaan hamil muda bisa bertahan dengan keadaan yang baru saja dialaminya. Namun, untuk ke depannya saya sarankan agar dia lebih baik menjaga kandungannya dengan hati-hati,” sang dokter menjelaskan panjang lebar.


“Syukurlah, bisa aku pastikan dia akan aman bersamaku,” Axel menjawab tegas.


Setelah sang dokter itu pergi, Axel menghampiri Angelina yang masih tak sadarkan diri di ranjang. Axel bisa melihat keadaan Angelina sudah lebih baik dari sebelumnya. Walaupun wajah cantik itu masih terlihat pucat, akan tetapi Angelina terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Diusapnya wajah Angelina dengan satu tangan, tatapan Axel terlihat menyeluruh mengamati inci demi inci paras cantik yang sejak awal memang membuatnya tertarik.


“Kau wanita malang yang beruntung, Angelina Louis. Henry sudah membuangmu seperti sampah. Namun, bisa aku pastikan suatu saat nanti dia akan menyesal telah membuangmu yang begitu berharga seperti ini,” ucap Axel lirih.


***


Setelah aku membuka mata sepenuhnya, aku baru menyadari jika sekarang ini aku terbaring di ranjang di sebuah kamar dengan dekorasi yang tampak asing. Kenapa aku bisa di sini? Aku pikir aku sudah mati sekarang tapi ternyata aku salah, aku masih hidup dan justru berada di tempat asing yang tak aku ketahui di mana.


“Kau sudah sadar, Angelina?” seseorang yang tak terduga masuk dan menghampiriku dengan senyum cerahnya yang terlihat tampan.


“Kau? Apakah kau yang menolongku dan membawaku ke sini?” aku bertanya memastikan.


“Kenapa, apa kau tak suka aku yang datang menolongmu?” Axel mengangkat sudut bibirnya dengan gayanya yang santai.

__ADS_1


“Tidak, bukan. Maksudku, bagaimana bisa kau menolongku?” tanyaku bingung.


“Kau bertanya kenapa? Apa kau pikir aku akan diam saja melihat wanita yang sedang hamil pingsan di tengah malam buta di jalanan, begitu?” sahutnya.


Aku tertunduk lemah mengingat hal itu kembali, “Terima kasih. Aku berhutang padamu, Mr. Axel Campbell,” ucapku tulus.


“Panggil aku dengan namaku, Axel. Itu lebih baik,” pinta Axel seraya tersenyum menyejukkan, senyuman pertama yang aku lihat selama aku mengenalnya.


“Kau dan kandunganmu dalam keadaan baik-baik saja. Kau tak perlu cemas. Sekarang kau aman bersamaku,” tutur Axel.


Aku tercekat saat itu juga dan memberanikan diri bertanya dengan suara sedikit gugup, “A-apa kau sudah tahu semuanya?”


“Ya, tentu aku sudah tahu semuanya,” jawab Axel lugas.


Aku terdiam, dengan berbagai pertanyaan yang muncul dalam benakku.


“Aku tahu apa yang kau pikirkan, Angelina. Mungkin ini masih terlalu rumit bagimu, tapi bisa aku pastikan kini kau aman bersama denganku. Perlu kau tahu, meskipun kami bersaudara. Henry dan aku berbeda,” ucapnya tegas.


“Kami sudah bercerai, dia sudah menceraikanku,” ucapku lirih.


Axel mendengus, “Bukankah itu bagus? Kau sudah bebas sekarang, dan itu juga berarti aku akan bisa menikahimu, Angelina,” tuturnya dengan suara cukup lantang.

__ADS_1


Detik itu juga aku terkejut setengah mati.


“A-apa maksudmu?? Me-nikah??”


__ADS_2