
Ya, Tuhan. Ternyata benar, apa yang aku takutkan itu terjadi. Henry sudah tahu keberadaan Andrew, bahkan dia sampai berpikir jika Andrew adalah anaknya.
“Tidak ada anak! Kau jangan terlalu percaya diri jika putraku itu adalah anakmu, Henry!” aku menyangkal keras dengan keberanian yang besar.
Henry tersenyum miring, “Oya? Benarkah itu? Jika anak itu tidak ada hubungannya denganku kenapa kau terlihat ketakutan sekarang?” tebak Henry membuatku semakin gugup.
“A-apa?!” Aku mendelik seketika. Tapi mungkinkah Henry memang bisa melihat kegugupanku? Atau dia hanya sengaja memancingku saja.
“Andrew Campbell itu adalah nama bocah laki-laki itu ‘kan?” Henry memancing dengan senyum penuh percaya dirinya. “Dan jangan berusaha membodohiku jika Andrew Campbell adalah anakmu dengan Axel,” tukas Henry.
“Andrew memang adalah anakku bersama dengan Axel Campbell! Apa itu menjadi masalah bagimu?!” tukasku berani.
“Oya? Kau pikir aku bodoh, Angelina?” Henry menyudutkanku, “Apa kau pikir, aku tidak tahu jika Andrew lahir hanya selang beberapa bulan setelah kau dan Axel menikah?”
Deg!
Tuhan, bagaimana bisa Henry tahu akan hal itu? Apa Henry sengaja menyelidiki semua tentang aku selama ini?
“Mau anak siapa pun Andrew tetap adalah putraku! Tidak ada urusannya denganmu! Apakah kau juga lupa, kau sendirilah yang menuduhku berselingkuh dengan Allan Jones!” aku tetap bersikukuh menyangkal.
“Seberapa keras kau menyangkal, aku akan bisa membuktikan jika Andrew Campbell adalah anakku! Dan itu bukanlah hal yang sulit untukku, karena aku tak pernah salah dengan keyakinanku!” Setelah mengucapkannya Henry berlalu pergi begitu saja meninggalkanku yang hanya bisa terdiam terpaku dengan tatapan kosong dan tubuh lemas seketika.
...
Sepanjang hari itu, setelah pertemuanku dengan Henry aku tak bisa berhenti untuk tak berpikir. Pikiranku melayang, gundah dan merasa cemas. Ucapan Henry membuatku takut setengah mati jika Henry akan merebut Andrew dari sisiku suatu hari nanti. Tidak! Itu tidak boleh terjadi! Aku tidak akan pernah membiarkan itu. Andrew adalah milikku, bukan milik Henry Bastian Campbell. Henry hanyalah ayah biologisnya semata. Jadi dia tidak berhak untuk merebut Andrew dari sisiku!
“Kau pergi dari mana tadi siang?” Sebuah suara mengejutkanku. Seketika aku pun menoleh ke belakang.
“Axel?” kulihat kini Axel berdiri tak jauh di belakangku masih dengan memakai setelan jas kerjanya. Ekspresi wajahnya terlihat dingin.
__ADS_1
“Kau sudah pulang?” Aku mencoba untuk tersenyum dan berdiri menyambutnya pulang.
“Kau belum membalas pertanyaanku, Angelina? Pergi ke mana kau tadi siang?” sekali lagi Axel bertanya dengan nada penuh penekanan.
“Aku hanya menemui seorang teman tadi, itu pun tidak lama,” jawabku dusta pada akhirnya.
“Seorang teman? Siapa?” tanyanya kembali, kali menatapku dengan pandangan penuh selidik.
“Laura,” sekali lagi aku terpaksa harus berdusta. Tentu aku tak bisa mengatakan hal yang sebenarnya, bukan? Tidak untuk sekarang.
Axel memiringkan wajahnya menatapku dalam, “Benarkah itu?” tanyanya sedikit ragu.
“Ya, Rex bersama denganku. Kau bisa menanyakan padanya jika kau tak percaya,” aku meyakinkan.
“Okay. Baiklah.” Dengan gaya cueknya Axel berjalan melewatiku dan mulai melepas setelan jas kerjanya.
“Mau aku siapkan air hangat untukmu?” tanyaku mendekatinya.
“Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Kau tidur saja terlebih dahulu,” Axel menyahut.
“Baiklah kalau begitu.” Dengan perasaan tak menentu aku pun memilih kembali ke ranjang dan merebahkan diri, sedangkan Axel masuk ke dalam kamar mandi.
Aku tak bisa tidur, bagaimana aku bisa tidur jika merasa gelisah? Namun, aku tetap mencoba memaksakan untuk memejamkan mata meskipun aku tak merasa mengantuk karena suasana hatiku seperti ini. Tak berapa lama suara pintu kamar mandi pun dibuka, Axel mulai merebahkan diri di sebelahku yang tidur dengan posisi membelakanginya.
“Kau sudah tidur?” tanya Axel lirih mengejutkanku.
“Belum,” sahutku singkat masih dengan posisi yang sama.
“Maafkan atas sikapku semalam,” ucap Axel sekali lagi membuatku terkejut.
__ADS_1
Seketika aku pun berbalik badan, menatapnya dengan penuh tanya, “Tentang apa?”
“Menyentuhmu dengan kasar,” Axel menyahut tanpa ekspresi.
Aku memejamkan mata dan menghela nafas panjang, “Aku bisa mengerti itu. Aku yang seharusnya minta maaf padamu,” ucapku lirih menatap sayu pria yang kini terlihat hanya bertelanjang dada.
“Tak perlu diperpanjang lagi. Tidurlah.” Axel memposisikan dirinya berbaring dan memejamkan mata.
Sebenarnya ada apa dengan sikapnya? Walaupun dia tampak menyesali sikapnya kemarin malam, namun Axel terlihat dingin padaku.
***
“Kau tak bisa terus bersikap seperti ini padaku, Henry?! Aku adalah istrimu, bagaimana bisa kau terus menganggapku tak ada seperti ini? Apa yang menjadi masalah sebenarnya?” protes Carla pada Henry yang baru saja pulang kembali ke apartemen tempat tinggal mereka selama di Milan.
Masih dengan sikap diamnya, Henry justru berjalan melewati Carla begitu saja. Sikapnya itu, tentu membuat Carla semakin tak terima.
“Henry, aku sedang bicara denganmu?! Sudah cukup aku mengalah sejak aku berada di Italy, sampai sekarang aku justru tak tahu untuk siapa kau membeli berlian berharga fantastis itu di pelelangan!” seru Carla.
Detik itu juga Henry berhenti. Masih dengan posisi membelakangi Carla ia berkata, “Jadi karena itu kau merasa tak terima?”
“Tentu saja! Aku ini istrimu, aku berhak tahu untuk siapa kau mengeluarkan uang jutaan dolar hanya untuk sebuah berlian? Hingga sampai aku berpikir kau telah memiliki wanita lain di belakangku!” protes Carla keras merasa tak terima.
“Aku memang memiliki wanita lain, apa yang akan kau lakukan?” Henry berbalik seraya tersenyum smirk pada Carla yang tampak syok seketika itu juga.
“A-apa?? Kau-?” Tubuh Carla menegang, ia menatap Henry dengan tatapan tak percaya.
“Jika kau tak mengubah sikapmu dan tetap bertahan dengan egomu itu, maka bersiaplah mungkin aku akan benar-benar berpaling darimu, Carla Queen Baker!”
Setelah mengucapkan kalimat bernada ancaman itu Henry pergi begitu saja meninggalkan Carla yang tampak menegang. Hingga bibirnya seolah terkunci dan merasa berat untuk mengucap.
__ADS_1