ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG

ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG
Menjaga hati


__ADS_3

Aku tersentak dan spontan membuka kedua mataku saat tubuhku meremang merasakan sentuhan.


“Henry?!”


Seperti biasa wajah tampan itu tersenyum smirk ketika pandangan mata kami bertemu selama beberapa saat. Kehadirannya yang selalu mengejutkan, dan bahkan kini sudah terlihat polos berada di atas tubuhku, membuatku seakan kecil di matanya.


“Layani aku, Angelina. Sentuh tubuhku hingga aku merasakan puas!” perintahnya dengan angkuh.


“A-apa?” Suaraku terdengar seperti dicekik saat mengucapkannya.


“Kau bukanlah seorang perawan lagi yang bodoh dalam melayani suami, bukan? Seharusnya kau sudah belajar banyak dariku, Angelina,” ucap Henry membuat telingaku panas.


“Bisakah kau tidak datang dengan cara seperti ini dan mengejutkanku!?” aku memberanikan diri memprotes tindakannya yang selalu bersikap semena-mena padaku sejak resmi menjadi istrinya.


“Ini rumahku dan aku adalah suamimu, begitu juga hidup dan tubuhmu adalah milikku. Segala hal yang ada padamu dan yang ada di rumah ini ada dalam kuasaku, apa aku masih perlu izinmu untuk melakukan apa yang seharusnya menjadi hakku dan kewajiban bagimu, Angelina?” Henry berkata lantang dengan penuh penekanan. Seakan ia memang sengaja menunjukkan siapa dirinya dan statusnya di rumah yang memang adalah miliknya.


Aku terdiam membisu tanpa bisa membalas ucapannya. Rasanya aku sudah lelah untuk berdebat dengannya. Sadar jika aku memang adalah istrinya, walaupun itu sebatas kontrak. Namun, selama aku menjadi istrinya, Henry adalah suamiku dan mau tak mau aku harus patuh dengan perintahnya, meskipun semua hal yang ia lakukan dan apa yang dikatakannya selalu menyakitiku.

__ADS_1


“Jangan sampai aku mengulangi perintahku sekali lagi, Angelina Louis! Cepat layani aku seperti yang sudah menjadi kewajibanmu padaku!” perintah Henry sekali lagi.


“A-aku tak tahu bagaimana cara memulainya?” aku berucap gugup dengan sedikit menundukkan wajahku menghindari kontak mata dengannya yang masih setengah berdiri di atas tubuhku.


Henry mendengus dan berkata, “Kau ini bodoh atau berpura-pura bodoh?” Secara mengejutkan Henry menarik tanganku untuk menyentuh sesuatu di antara kedua pahanya dan di bawah perutnya yang berotot, “Buat ‘dia’ senang dan tunjukkan semua kemampuan yang kau miliki padaku sekarang!” perintahnya lugas dan lantang.


“Astaga! Sungguh dia benar-benar pria yang mesum!” makiku dalam hati.


Glek! Aku menelan salivaku merasakan gugup ketika kulit tanganku secara nyata menyentuh sesuatu miliknya yang keras, namun lunak itu di depan mataku. Entah sudah berapa kali aku bercinta dengan Henry, namun jujur ini untuk pertama kalinya aku menyentuh kejantanan pria secara langsung seperti ini. Tentu hal itu membuatku merasakan gugup yang sangat, hingga jantungku tak bisa berhenti berdebar dengan kencang.


“Lakukan sekarang, Angelina. Dengan mulutmu yang selalu membantah itu!” Henry memerintah, membuatku semakin merasa terpojok dan tak memiliki pilihan lain selain hanya patuh.


Kemudian dengan keberanianku dan juga instingku, aku menunduk lalu mulai mendekatkan wajahku pada sesuatu yang menjadi kebanggaan pria itu dalam genggamanku. Awalnya aku merasa ragu, akan tetapi aku tetap mencoba berusaha melakukannya mengikuti insting dan mencoba melakukan apa yang pernah aku lihat dalam video-video dewasa.


Aku mendengar dengan jelas suara lenguhan Henry ketika benda kebanggaannya itu sudah masuk ke dalam setengah mulutku. Begitu lembut dan lunak, rasanya tidak terlalu buruk walaupun semua ini masih terasa asing dan baru pernah aku lakukan sepanjang hidupku ini. Semakin lama semakin dalam, tak hanya mulutku yang bergerak tetapi juga satu tangan dan lidahku ikut bekerja secara bersama-sama di dalam sana. Sepertinya usahaku tak sia-sia, suara lenguhan Henry kini berganti dengan ******* keras yang entah kenapa membuatku semakin bersemangat untuk membuatnya semakin mendesah dengan keras.


“Ohg! Uhgt! Kau wanita pendusta, Angelina! Kenapa kau seperti wanita yang sudah ahli melakukannya?” Suaranya terdengar serak di antara desahannya yang semakin berat.

__ADS_1


Egoku merasa tertantang untuk melakukan sesuatu yang membuatnya bergerak gelisah. Seperti tak bisa menahan dirinya, Henry mendorong tubuhku hingga jatuh telentang di atas ranjang.


“Kau benar-benar wanita pendusta!” Henry menyibak bagian bawah gaun malamku dengan tak sabaran dan mulai memposisikan tubuh polosnya di atas tubuhku yang masih berbalut gaun malam tanpa dalaman.


“Aahh!” Aku menjerit ketika sesuatu yang keras dan panjang itu begitu angkuh melesak masuk ke dalam inti tubuhku yang tanpa aku sadari sudah basah entah sejak kapan.


“Kau basah, Angelina. Bahkan sangat basah! Kau juga terangsang sekarang, bukan?” Henry berucap serak sebelum bibirnya itu mengunci bibirku dengan lumatannya yang dalam.


Entah berapa lama Henry bergerak mengayunkan pinggulnya di atas tubuhku. Temponya semakin bergerak cepat hingga membuatku seakan tak ada ruang untuk bisa bernafas. Aku hanya bisa pasrah saat Henry mengangkat kedua kakiku lalu menyandarkannya di kedua sisi bahunya yang bidang. Dengan posisi yang demikian tentu membuat miliknya semakin dalam masuk ke dalam sana hingga membuatku mendesah semakin keras dan juga bergerak gelisah merasakan sakit sekaligus nikmat secara bersama-sama.


“Oh! Ahh! Apa kau menyukainya, Angelina? Katakan, apa kau menyukainya?!” geramnya seraya menatapku dengan kilat mata tajamnya kini yang dipenuhi kabut nafs*.


Aku tak menjawabnya, namun ekspresi wajahku mungkin bisa menjawab semuanya, jika aku memang menyukai apa yang Henry lakukan padaku sekarang. Astaga! Apakah kini aku bisa dikatakan sebagai wanita munafik yang menyukai sentuhan pria yang aku benci dan merupakan suamiku sendiri?


Di saat penyatuan itu terjadi aku masih bisa melihat cukup jelas tubuh jantannya yang mengkilap penuh dengan peluh, bergerak semakin menggila di atas tubuhku. Ketika aku merasakan gelombang itu akan datang, kepalaku pening, pandanganku mulai kabur dan denyut jantungku berdetak semakin kencang seiring dengan deru nafas kami yang saling beradu. Hingga tanpa sadar aku menyebut namanya berulang kali saat gelombang nikmat itu datang meluluh lantahkan tubuhku dan aku semakin pasrah dalam kendali pria yang secara sah adalah suamiku sendiri.


Entah sengaja atau tidak Henry tak memberikanku jeda dan waktu untuk beristirahat malam ini. Sama seperti ketika malam pertama kami waktu itu, kali ini Henry melakukannya berulang kali dengan berbagai gaya dan posisi. Hingga tubuh ini terasa lemah dan tak ada tenaga lagi untuk menolaknya. Aku hanya bisa pasrah mengikuti apa yang ia lakukan padaku dan tubuh ini.

__ADS_1


Untuk sesaat aku lupa jika pria yang sedang bersamaku saat ini adalah pria yang aku benci dan membenciku. Bahkan di hatinya ada wanita lain yang memiliki posisi tertinggi jauh melebihiku yang hanya seorang istri kontrak atau lebih tepatnya istri pemuas ranjangnya saja. Yang membuatku tak mengerti sekaligus merasakan delima untuk saat ini. Jika aku membenci Henry, lalu kenapa aku menyukai setiap sentuhannya padaku? Walaupun awalnya Henry selalu cenderung kasar saat melakukan percintaan itu, namun sejak aku menyerahkan diriku dan tubuh ini untuk pertama kalinya malam itu, aku selalu merasakan perasaan yang berbeda. Apakah benar jika aku mulai jatuh cinta pada Henry Bastian Campbell, pria yang merupakan suamiku sendiri? Tidak! Itu tak boleh terjadi! Oh, Tuhan. Aku berharap aku tetap menjaga hatiku agar aku tak jatuh cinta padanya. Karena aku tahu jika pada akhirnya aku dan dia bukanlah pasangan suami istri yang bisa ditakdirkan untuk bersama.


__ADS_2