
"Berita apa ini?! Jelaskan padaku!” Henry melemparkan sebuah surat kabar dengan kasar tepat di muka Carla yang masih terbaring di atas ranjang pagi itu.
Carla yang belum sepenuhnya sadar terkejut dengan sikap Henry yang tiba-tiba melemparkan sebuah surat kabar di wajahnya.
“Apa-apaan kau, Henry?!” serunya marah tak terima.
“Seharusnya aku yang pantas bertanya padamu! Apa kau sengaja melakukannya agar aku merasa cemburu, begitu?! Kalau kau berpikir seperti itu, kau salah besar Carla!!” sergah Henry dengan suara lantang.
“Apa?? Cemburu? Apa maksudnya?” Carla semakin merasa bingung.
Merasa penasaran Carla pun membuka surat kabar itu dan seketika juga ia membelalakkan kedua matanya lebar-lebar. Bagaimana tidak? Ia melihat dengan jelas foto seorang wanita bersama dengan seorang pria tampak mesra di sebuah klub malam. Bahkan dari foto tersebut jelas terlihat jika pasangan itu tampak seperti hendak berciuman, dan Carla mengingat dengan jelas siapa wanita yang ada dalam foto itu. Ya, sang wanita yang sedang menjadi pembicaraan hangat itu adalah dirinya, Carla Campbell dengan nama asli Carla Queen Baker. Surat kabar itu berjudul ‘Seorang model terkenal kelas dunia, yang mirip dengan Carla Campbell berkencan dengan seorang pria tampan di klub' dalam bahasa Italy.
Menyimpan keterkejutannya, Carla tetap bersikap tenang seolah tanpa dosa di depan Henry yang kini tampak menatapnya dengan tatapan tajam.
“Jika ini memang aku, kenapa? Bukankah kau juga melakukan hal yang sama di belakangku?” ucap Carla berani.
“Jadi kau mengakui sendiri jika wanita itu memang adalah kau? Bagus! Itu lebih baik! Itu berarti kau sudah siap apabila aku akan menceraikanmu!” Henry menunjukkan satu telunjuknya di depan Carla.
Mendengar kalimat perceraian detik itu Carla membulatkan kedua netranya, ia tak menyangka jika Henry akan semudah itu mengatakan kalimat cerai. Carla akui jika pertemuannya dengan pria yang bernama Emilio Ricardo itu sangat berkesan hingga berakhir dalam percintaan panas yang menggairahkan. Meskipun Carla dalam keadaan mabuk saat itu, namun ia tak menyesal berjumpa dengan pria tampan bernama Emilio itu.
Namun, Carla tak menyangka begitu cepat berita itu tersebar, bahkan hanya dalam waktu semalam. Hingga Carla berpikir, mungkinkah ini sebuah jebakan? Dan yang pasti meskipun ia kecewa pada Henry hingga berakhir bermalam dengan pria lain yang baru dikenalnya, tetap hatinya masih mencintai Henry Bastian Campbell. Jadi tentu saja ia tak terima sebuah kalimat perceraian begitu mudah diucapkan oleh Henry!
“Tidak! Sampai kapan pun aku tidak terima! Ini tidak adil untukku! Kau yang melakukan kesalahan terlebih dahulu, Henry, bukan aku! Itulah faktanya! Jadi jangan membuat semua ini seolah hanya karena kesalahanku!!” protes Carla keras tak terima.
“Kau tak terima itu adalah masalahmu! Jika kau mengenalku dengan baik, kau pasti tahu apa yang aku ucapkan itu bukanlah omong kosong!” ancam Henry, kemudian berbalik melangkah keluar dari kamar.
__ADS_1
“Tidak, Henry!! Jangan lakukan itu padaku! Aku tidak akan terima jika kau sampai benar-benar menceraikanku! Kau tak bisa melakukan semua ini padaku!!” teriak Carla.
Seakan memang tak memperdulikan teriakan dari Carla, Henry tetap melenggang pergi meninggalkan Carla yang kini hanya bisa menatap nanar sosok suaminya yang menghilang dari pandangannya. Kemudian ia mengalihkan kembali pandangannya pada surat kabar yang memberitakan artikel mengenai dirinya. Jika Henry akan sungguh-sungguh menceraikannya lalu bagaimana dengan nasib Carla selanjutnya?
Prang!!
“Sialan ini semua gara-gara wanita ****** itu!!” Carla memaki keras seraya melemparkan jam digital dan vas bunga yang diletakkan di meja nakas samping ranjang.
Carla tidak terima jika semua akan berakhir seperti ini. Hanya karena wanita yang tidak jelas dan belum diketahui identitasnya itu, pernikahannya bersama dengan Henry hancur begitu saja. Itu berarti sama saja Henry lebih memilih wanita penggoda itu daripada dirinya sendiri yang jelas-jelas istri sah dan lebih baik dari segi manapun.
“Aku pasti akan menemukan siapa sebenarnya kau, wanita ******! Pasti!" geram Carla meremas sprei ranjang sebagai bentuk luapan emosi.
***
“Memang kau ingin pergi ke mana, Sayang?” tanyaku mendekatinya.
“Ke mana pun, asalkan bersama dengan Mom dan Dad,” ucapnya memohon.
Aku diam sejenak, berpikir jika sudah cukup lama kami pergi sekedar untuk jalan-jalan bersama. Kesibukan Axel yang semakin padat membuatnya tak memiliki waktu bersama kami walaupun hanya sebentar. Selama ini Axel memang menyayangi Andrew seperti layaknya putranya sendiri. Meskipun Andrew tidak ada hubungan darah secara langsung dengan Axel. Namun, aku memang merasa jika akhir-akhir ini sikap Axel berbeda pada kami. Aku bisa merasakannya.
“Mom??” panggilan dari Andrew membuat lamunanku buyar.
“Ah, ya. Maafkan Mom.” Aku mencoba untuk tersenyum agar tak membuat Andrew cemas. “Baiklah, Mom akan mencoba bicara dengan ayahmu nanti. Tetapi jika memang ayahmu tak bisa pergi bersama kita, kau tidak keberatan jika hanya Mom yang bisa menemanimu?” aku memastikan.
“Tentu saja tidak, Mom.” Andrew menampilkan senyuman lebarnya yang menyejukkan.
__ADS_1
...
“Apakah kau sibuk dalam minggu ini?” aku bertanya ketika Axel baru saja selesai mandi.
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” Axel menyahut.
“Andrew ingin pergi liburan bersama kita. Sudah lama sejak terakhir kita pergi, karena itu ia ingin kita berlibur bersama,” jelasku.
“Maaf, aku tidak bisa. Ada proyek baru yang harus aku kerjakan. Kau pergi saja bersama dengan Andrew, jika sempat aku akan menyusul kalian nanti,” Axel menjawab.
“Baiklah kalau begitu.” Aku mencoba untuk mengerti dengan tak banyak bertanya.
“Kali ini aku serius mengatakannya, aku akan menyusul kalian berdua jika pekerjaanku sudah selesai,” sekali lagi Axel meyakinkanku.
Aku mengulum senyum lalu menjawab singkat, “Aku mengerti.”
“Apakah kau sudah memiliki rencana akan pergi liburan ke mana bersama dengan Andrew?” tanya Axel.
“Sudah, aku akan mengajak Andrew ke pantai Otranto. Mungkin kami akan menginap di hotel, di sekitar sana, itu jika kau mengizinkannya,” tuturku.
“Aku akan mengizinkannya asalkan kau membawa Rex dan Billy," Axel menyahut serius.
“Tentu, aku pasti membawa mereka serta,” jawabku.
“Itu memang sudah seharusnya. Selain untuk menjaga keselamatanmu dan Andrew, kau sudah tahu dengan jelas jika Henry masih berada di Milan. Aku rasa kau pasti tahu, apa alasan Henry masih tetap berada di sini tanpa perlu aku mengatakannya padamu, Angelina?” ucap Axel yang seolah seperti sindiran keras untukku.
__ADS_1