ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG

ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG
Sentuhan memabukkan


__ADS_3

Malam itu Henry memutuskan untuk minum sendiri di mini bar yang ada di rumahnya, rumah yang khusus ditinggali oleh istri kontraknya Angelina Louis. Entah apa yang membuatnya kembali pulang ke rumah ini, padahal ia berencana untuk pulang ke mansionnya sendiri malam ini setelah pulang dari perusahaan. Namun, secara impulsif Henry justru malah menyuruh supir pribadinya untuk berbelok arah menuju ke rumah lainnya, di mana istrinya berada.


Istri? Yang benar saja, sejak kapan seorang Henry Bastian Campbell, menganggap putri dari keluarga Louis itu adalah istrinya? Angelina Louis hanyalah istri kontraknya, tawanan sekaligus budaknya, tidak lebih!


Sekali lagi Henry menegak whisky dengan raut wajah frustasi. Melihat Henry yang sekarang, terlihat jelas jika kini pria itu seperti menahan beban. Rambut gelapnya yang selalu rapi kini terlihat sedikit berantakan. Tak hanya itu, tiga kancing kemeja atasnya kini tampak terbuka, menambah penampilannya terlihat liar sekarang.


“Kenapa? Ada apa denganku? Kenapa akhir-akhir ini aku merasa gelisah?” tanyanya dalam hati.


Sampai sekarang Henry tak habis pikir dengan dirinya sendiri, kenapa ia bisa seperti ini? Apakah sejak kehadiran wanita itu, Angelina Louis yang kini memang sah menjadi istrinya di mata hukum, namun tidak di mata semua orang. Sikap Angelina yang terang-terangan menentang dirinya dan terkesan cuek sungguh membuatnya kesal.


Sepanjang hidupnya sebagai seorang dari keluarga Campbell yang sempurna dan memiliki segalanya, ia tak pernah merasakan sebuah penolakan. Namun, berbeda untuk saat ini. Wanita yang sengaja ia nikahi hanya untuk suatu tujuan justru menentangnya berkali-kali dan tampak sama sekali tak tertarik dengan pesona yang dimiliki olehnya. Sebagai pria, apa dirinya tak terlihat menarik sama sekali di mata Angelina Louis?


Henry mendengus, “Yang benar saja!” Sekali lagi ia menegak whisky kembali entah yang berapa kali.


Henry kesal, merasa sangat kesal. Tak hanya harga dirinya yang merasa diinjak-injak. Egonya sebagai pria pun merasa seperti tertantang untuk bisa menaklukkan wanita arogan seperti Angelina Louis.

__ADS_1


Apalagi saat secara tak sengaja tadi siang Henry mendengar percakapan dari beberapa karyawan prianya yang secara terang-terangan terpesona dengan karyawan wanita baru dari tim pemasaran. Siapa lagi jika wanita itu bukan Angelina Louis? Istrinya sendiri, tepatnya istri kontraknya saat ini.


Apakah membiarkan wanita itu memiliki kebebasan adalah sebuah kesalahan? Tapi kenapa ia harus takut, bukankah Angelina Louis sama sekali tak berarti baginya? Hal itulah yang membuat Henry semakin merasa kesal dan frustasi dengan dirinya sendiri. Setiap saat bahkan detik, segala hal dari wanita yang bernama Angelina Louis selalu membuatnya kesal!


“Aku pastikan kau akan bertekuk lutut di bawah kakiku, Angelina Louis!” umpatnya.


Puas melampiaskan emosinya dengan minum, kini Henry berjalan sempoyongan masuk ke dalam kamarnya, lebih tepatnya kamar di mana Angelina ada di sana. Ternyata tidak dikunci. Binggo! Henry menyeringai, langkahnya semakin mendekat ke ranjang, di mana sosok yang tertutup selimut itu sedang terlelap dalam tidurnya.


Pandangan Henry menyusuri sosok berambut panjang itu, dan tanpa keraguan ia membuka selimut yang menutupi tubuh sang wanita. Tatapan lapar kini terlihat jelas dari mata Henry, ketika tubuh molek Angelina kini terpampang nyata begitu menggairahkan terlihat, meskipun dalam penerangan minim cahaya.


Angelina yang kini berbalut gaun tidur cukup transparan itu masih tak bergerak tetap di posisinya. Angelina terlihat nyenyak dalam tidurnya karena rasa lelah menerpa. Hingga wanita itu tak menyadari ada sepasang mata yang menatapnya lapar melihat tubuh molek di balik gaun tidur yang dipakainya sekarang.


“Kenapa wanita menyebalkan ini tampak begitu cantik saat tidur seperti ini?” gumam Henry tanpa sadar.


Melihat wanita dalam keadaan yang demikian hati pria mana yang tak tergoda untuk tak menyentuhnya? Perlahan tapi pasti Henry mencium bibir Angelina yang baginya terlihat menggiurkan. Menyesapnya dan memberikan sapuan lidahnya di bibir manis yang sudah berkali-kali dirasakannya itu, hingga membuatnya candu untuk menginginkan lagi dan lagi.

__ADS_1


Angelina melenguh, ia belum sepenuhnya sadar dan membuka mata. Namun, terlihat Angelina cukup menikmati sentuhan dan ciuman yang Henry lakukan padanya. Mendapatkan respons yang baik, Henry semakin bersemangat untuk menyentuh Angelina dengan lebih berani. Henry memperdalam ciumannya di bibir Angelina, satu tangannya mengelus lembut setiap inci dari tubuh Angelina, hingga tubuh sang pemilik mendesah nikmat dalam ciuman Henry yang memabukkan.


Di saat tangan Henry dengan berani menyelusup masuk ke dalam pangkal paha Angelina dan kemudian mulai bermain di dalam sana, Angelina membuka mata.


***


Aku seperti bermimpi saat merasakan tubuhku dijamah hingga kulitku terasa meremang mendamba. Sentuhan ini, terasa begitu memabukkan hingga membuatku lupa diri. Jika ini adalah benar mimpi, rasanya aku enggan untuk bangun dan membuka mata. Namun, jika ini bukan mimpi, lalu siapa yang melakukannya? Karena aku tahu suamiku, Henry tak pernah memperlakukanku dengan lembut dan penuh perasaan seperti ini.


Jujur tubuh ini seperti menikmati setiap inci sentuhan yang dibuatnya. Tapi siapa? Mungkinkah benar jika ini bukanlah mimpi? Karena semua ini terlalu nikmat untuk sebuah mimpi. Hingga akhirnya aku sadar dan memberanikan diri untuk membuka mata ini, saat sentuhan itu semakin jelas aku rasakan di titik paling sensitif milikku. Aku buka kedua mata ini lebar-lebar dan betapa terkejutnya saat aku melihat apa yang ada di depan mataku. Seseorang yang tak terduga datang menghampiriku, tak hanya sikapnya yang berbeda, namun juga sentuhannya.


“Henry...?!” Aku mengerjapkan mata berulang kali untuk memastikan jika apa yang aku lihat ini bukanlah mimpi.


“Aku menginginkanmu malam ini, Angelina. Aku janji kali ini akan memperlakukanmu dengan lembut,” ucap Henry serak dengan sorot mata yang tampak biru teduh.


Apakah aku sedang bermimpi? Atau apakah pria kejam bernama Henry Bastian Campbell ini sedang mabuk? Bau alkohol tercium jelas di indera penciumanku. Namun, jika pria ini sedang mabuk. Kenapa sikapnya justru malah begitu berbeda? Astaga, ada apa ini sebenarnya? Batinku bergejolak. Tetapi, meskipun dengan logikaku yang ingin menolak, entah kenapa tubuh ini justru menyambutnya dengan hangat.

__ADS_1


“Angelina...” Nama itu disebut bagai sebuah mantera yang membuatku terhipnotis untuk menyambutnya dengan kehangatan yang sama seperti pria itu berikan.


Aku tak menjawabnya, namun aku juga tak menolaknya. Pria ini, yang tak lain adalah suamiku sendiri menginginkanku untuk melayaninya dengan sepenuh hati. Tak ada makian, tak ada sentuhan kasar dan tak ada pemaksaan, entah kenapa kali ini aku menyambutnya dengan kehangatan. Tanpa banyak kata, malam ini kami berdua pun hanyut dalam sentuhan yang sama-sama membuat kami terbang tinggi bersama ke awan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, bersama dengan suamiku sendiri, Henry Bastian Campbell, kini aku telah menyerahkan semuanya, jiwa dan ragaku dengan sepenuh hati untuk dirinya.


__ADS_2