
"Mom!! Apa Mom sakit?”
Sebuah suara yang sangat kukenal membangunkanku dari tidur. Aku mulai membuka mata dan bisa aku rasakan sebuah tangan mungil menyentuh wajahku lembut.
“Andrew??” Aku tersenyum melihat wajah tampannya yang menggemaskan.
“Mom baik-baik saja, Sayang? Siapa yang bilang Mom sedang sakit?” Aku berkata serak masih terbaring di balik selimut yang menutupi polos tubuhku.
“Dad yang mengatakannya, dia berkata aku tak boleh mengganggu Mom karena Mom sedang tak enak badan,” Andrew menjawab polos.
“Dad?” Detik itu juga aku pun menoleh ke samping ranjang di sebelahku, ternyata Axel memang sudah tak di sana. Aku tak tahu sejak kapan ia pergi hingga aku tak menyadarinya.
Andrew mengangguk menatapku dengan tatapan cemas, “Dad sendiri yang mengatakannya karena itu aku datang sendiri ke kamar untuk memeriksa keadaan Mom,” ujarnya membuatmu merasa sedikit bersalah.
Aku pun berpikir, apakah karena kejadian semalam, membuat Axel mengatakan hal itu pada Andrew? Mungkinkah itulah alasannya ia tak ingin membangunkanku saat ia sudah terbangun terlebih dahulu?
“Kau tahu apa yang membuat Mom cepat sembuh jika Mom merasakan sakit?” aku bertanya memancing dan Andrew menggeleng menatapku penuh tanya.
“Tentu saja itu karena kau, Sayang.” Aku menyentuh pipi bulat bersemu merah Andrew dengan gemas, “Melihat senyummu saat Mom membuka mata itu adalah obat paling mujarab bagi Mom,” sambungku.
__ADS_1
Andrew mengulas senyuman lebar cerahnya yang menggemaskan, “Benarkah itu, Mom?” tanyanya dengan ekspresi senang.
“Ya, kau adalah obat dari segala obat bagi Mom, Andrew Campbell.” Aku memeluk tubuh mungilnya detik itu juga, mengabaikan rasa sakit di tubuhku yang masih terasa karena sisa semalam.
“Kau bersamalah dengan Lana, Mom akan menyusulmu nanti setelah Mom mandi dan bersiap-siap, okay?” aku memerintah.
“Okay, Mom.” Andrew pun menyahut patuh dan segera keluar kamar turun ke lantai bawah.
Mataku tak lepas menatap sosok mungil itu hingga menghilang dari pandanganku, yang semakin hari wajahnya semakin mirip dengan ayah kandungnya itu. Aku menarik nafas, menggelengkan kepala mencoba menepis apa pun mengenai Henry dalam pikiranku, kemudian mencoba melangkah ke kamar mandi meskipun dengan tubuh yang terasa remuk redam karena perlakuan kasar Axel semalam padaku.
Sepanjang hari itu aku menemani Andrew bermain di taman belakang mansion. Ragaku memang berada di sini, tetapi tidak dengan hati dan juga pikiranku. Mengingat jika saat ini Henry dan Carla ada di sini, Italy. Hal itu membuatku menjadi was-was dan merasa cemas jika akan keluar rumah. Meskipun ada pengawal bersama kami, namun tetap saja hatiku merasa tidak tenang. Apalagi jika mengingat ucapan Henry semalam padaku. Apa yang dimaksud dengan aku berhutang penjelasan padanya? Mungkinkah Henry sudah tahu tentang keberadaan Andrew? Tidak! Tidak akan aku biarkan jika sampai Henry atau siapa pun mengusik Andrew, apalagi sampai merebutnya dari sisiku nanti.
Aku akui dulu aku memang sempat memiliki rasa pada seorang Henry Bastian Campbell, meskipun pada awalnya aku membencinya. Namun, ada setitik rasa untuknya walaupun aku tahu hubunganku dan Henry memang tak mungkin untuk bisa terjalin bersama. Sampai sekarang aku pun masih ragu, mungkinkah setitik rasa itu adalah rasa cinta?
“Nyonya, maaf ada seseorang yang mengirimkan sebuah paket ini untuk Anda.” Seorang maid memberikan sebuah amplop padaku.
“Paket? Dari siapa?” aku bertanya bingung penuh tanya melihat amplop berukuran cukup besar yang diberikannya padaku.
“Saya tidak tahu pasti, Nyonya. Orang itu hanya mengatakan jika paket penting ini untuk Nyonya dan setelah itu dia pergi begitu saja,” maid itu menjelaskan.
__ADS_1
“Baiklah, kau boleh pergi sekarang.”
“Baik, Nyonya.”
Aku semakin penasaran saat membuka amplop yang ternyata berisi beberapa lembar foto itu. Kedua mataku membelalak lebar ketika melihat gambar dalam foto tersebut. Ternyata itu adalah fotoku bersama dengan Axel! Dan beberapa lembar foto lainnya, yang ternyata juga adalah fotoku saat bersama dengan putraku Andrew! Ya, Tuhan. Apa maksudnya ini?? Aku cukup merasa syok hingga tanganku gemetar saat melihat lembaran demi lembaran foto yang jumlahnya tidak sedikit di tanganku saat ini.
Tak ada pesan apa pun hanya ada lembaran foto, tetapi dengan instingku aku membuka bagian belakang lembaran foto yang aku pegang dan ternyata salah satunya terdapat sebuah pesan.
“Jika kau ingin aku tak mengganggumu, datanglah menemuiku dan kita bicara. Hanya kau dan aku! Jika tidak, maka jangan salahkan jika aku akan terus memata-mataimu dan keluarga barumu!”
Tubuhku lemas seketika saat membaca pesan tertulis di belakang salah satu lembaran fotoku dan Andrew. Semua ini membuatku semakin yakin jika pesan ini dari Henry Bastian Campbell. Siapa lagi jika bukan dia? Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menuruti pesan ini? Namun, jika aku mengikutinya jelas Axel akan marah besar!
Lantas aku harus bagaimana? Pesan ini sama saja sebuah ancaman untukku. Apakah lebih baik aku memberitahukan ini pada Axel? Tetapi, jika aku memberitahukannya jelas semua akan menjadi rumit. Bagaimana pun hubungan mereka adalah saudara, hal itu jelas akan beresiko besar jika aku memberitahukan ini pada Axel.
Masih dalam perasaan delima, ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku tersentak saat itu juga, apalagi ketika melihat nomor tak dikenal yang ternyata masuk dan menghubungiku. Awalnya aku ragu untuk menerima panggilan itu, namun karena rasa penasaran akhirnya aku pun memutuskannya untuk mengangkatnya.
“Halo, siapa ini?” aku memulai bertanya berusaha bersuara senormal mungkin terdengar.
“Kau sudah membaca isi pesanku, Angelina?” Sebuah suara bariton tak asing aku dengar menyahut.
__ADS_1
“Kau?! Henry! Bagaimana bisa kau tahu nomor ponselku?!”
“Itu bukanlah hal yang sulit untukku. Yang jelas jika kau tak ingin aku terus mengganggumu, temui aku sekarang di tempat yang akan aku beritahu nanti. Dan ingat jangan mencoba memberitahukan hal ini pada suamimu, karena masalah ini antara kau dan aku yang belum selesai, Angelina Louis!”