ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG

ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG
Sampai kapan aku akan bertahan?


__ADS_3

Campbell Corporation


Saat aku tengah sibuk dengan pekerjaanku, perhatianku teralihkan dengan pembicaraan beberapa karyawan yang mengatakan jika di perusahaan kedatangan kekasih dari CEO Campbell yang tak lain adalah Carla Queen Baker. Seketika itu pun suasana kantor menjadi cukup heboh, bagaimana tidak? Seorang yang sedang menjadi buah bibir orang-orang kini justru semakin bersikap berani memamerkan kebersamaan mereka. Bisa kulihat dengan jelas bagaimana dengan langkah penuh percaya dirinya wanita bernama Carla itu melangkah masuk ke dalam ruang kerja Henry. Penampilannya yang selalu tampak sempurna dan tanpa cela seakan memang sengaja ingin memperlihatkan status sosialnya yang tinggi di depan umum. Beruntung saat itu Carla tak melihatku ketika wanita itu masuk ke dalam ruang kerja CEO, di mana Henry ada di sana.


“Kalian lihat itu? Kekasih CEO kita sedang menebar bunga. Aku yakin di dalam sana mereka berdua sedang bermesraan dengan penuh gairah.” Amelia, seorang staf senior terkikik dengan suara rendah berbincang dengan Sandra dan dengan beberapa rekan kerja lainnya di dekat meja kerjaku.


“Tentu saja, pria mana yang tak tergoda dengan wanita seperti Carla Queen Baker, seorang supermodel cantik dan berkarier cemerlang seperti dirinya. Bahkan pria sekelas CEO kita yang perfeksionis pun bisa terpikat,” staf senior pria bernama Stephen ikut menimpali.


“Kau benar Stephen, bahkan ada media yang mengatakan jika mereka berdua sudah berhubungan sejak lama, namun karena kesibukan masing-masing hubungan mereka sempat renggang,” Anne ikut berkomentar.


“Jangan bergosip di sini, ini sudah jam makan siang. Lebih baik kita mengobrol di luar saja sekalian makan siang bersama,” ajak Sandra saat itu setelah melirik arloji di tangannya.


“Ayo, Angelina. Kau ikutlah bersama kami.” Sandra mengajakku serta yang sejak tadi lebih memilih tetap sibuk dan fokus dengan pekerjaanku.


Awalnya aku ragu, karena pasti telingaku akan panas dengan obrolan tentang Henry dan Carla. Namun, aku tak kuasa menolak dan tak memiliki pilihan lain akhirnya pun menyetujuinya, dengan maksud agar keluar dari kantor untuk beberapa saat menghindari diri dari Henry dan kekasih modelnya itu. Lagipula untuk apa aku terus berada di sini? Di dalam satu tempat di mana dua sejoli yang mungkin sedang di mabuk asmara di dalam ruangan itu.


Seperti yang aku duga di kantin perusahaan, sejak tadi Sandra dan ke dua rekan seniorku yang lain tak berhenti membicarakan Henry dan Carla. Aku yang tak mau tahu lebih memilih diam dan sibuk dengan ponsel dan makananku.

__ADS_1


“Kenapa kau sejak tadi diam, Angelina? Apa kau sedang tak enak badan?” Sandra menatapku dengan pandangan sedikit cemas.


“Iya, aku lihat sejak tadi kau banyak diam, Angelina. Apakah kau baik-baik saja?” sambung Anne, seorang staf senior bagian keuangan yang duduk di depanku.


“Aku tidak apa-apa. Kalian jangan terlalu memperdulikan aku di sini.” Aku menyahut dengan mencoba bersikap senormal mungkin di depan mereka.


“Sepertinya aku perhatikan kau sama sekali tak tertarik dengan apa yang menjadi pembicaraan hangat kami di perusahaan ini, Angelina.” Amelia memancing melihatku dengan pandangan penuh tanya.


“Aku? Maaf sebelumnya, terus terang aku memang tak tertarik dengan hal-hal seperti itu.” Aku beralasan seraya tersenyum tipis.


“Angelina memang tak tertarik dengan apa pun yang berhubungan dengan pria-pria tampan, apalagi sekelas dengan CEO kita, Mr. Henry Bastian Campbell,” Sandra membenarkan.


“Angelina memiliki alasan sendiri, kau tak perlu tahu, Anne. Cukup aku saja yang tahu. Benar begitu ‘kan, Angelina?” seloroh Sandra dengan senyuman lebarnya penuh arti.


Aku hanya mengangguk membalasnya, seketika kami berempat pun tertawa kecil bersama-sama.


Satu jam kemudian saat kami berempat dalam perjalanan kembali ke ruangan kerja kami, entah kebetulan atau tidak aku dan ketiga teman kerjaku justru berpapasan dengan dua orang yang paling aku hindari. Siapa lagi jika bukan Henry dan Carla? Begitu jelas kulihat Carla berjalan menggandeng tangan Henry dengan sikapnya yang posesif dan angkuh. Sedangkan Henry tetap melangkah cuek dengan ekspresi datarnya yang selalu ia tampilkan di mana pun. Namun, meskipun begitu, pandangan kami sempat bertemu selama sekian detik. Masih sempat kulihat ketika Carla menunjukkan ekspresi terkejutnya saat melihatku. Tak mau bertatapan dengan wanita kekasih suamiku itu, aku lebih memilih berjalan cepat bersama dengan ketiga temanku yang lain, dan tak memperdulikan bagaimana reaksi yang Carla tunjukkan secara spontan dan terang-terangan seperti tadi ketika melihatku.

__ADS_1


“Astaga, apakah kalian tadi melihat bagaimana reaksi Miss. Baker saat berpapasan dengan kita?” Anne berkomentar.


“Ya, aku melihatnya tadi. Sangat jelas terlihat,” sambung Sandra.


“Bukan kita tapi Angelina. Miss. Baker seperti terkejut saat melihat Angelina. Bukankah itu benar, Angelina? Kau pasti tahu itu,” sergah Amelia, aku bisa melihat pandangannya yang penuh selidik saat menatapku kali ini.


“Angelina? Bagaimana bisa?” Anne menyahut bingung.


“Mungkinkah kau dan Miss. Carla Queen Baker saling mengenal, Angelina?” Sandra bertanya penasaran.


“Tidak, aku sama sekali tak mengenalnya. Bagaimana mungkin wanita biasa seperti aku mengenal wanita sekelas Carla Queen Baker?” jawabku menyangkal. Aku berusaha tetap bersikap tenang di depan mereka bertiga, meskipun tak aku pungkiri aku cukup takut jika mereka akan curiga padaku.


“Benar juga apa kata Angelina. Mungkin Miss. Baker merasa kau mirip dengan seseorang yang dikenalnya,” Sandra berpendapat.


“Bisa jadi, karena di mataku kau pun tak kalah cantik dengan seorang wanita sekelas Carla Queen Baker, Angelina.” Anne berkomentar dengan gayanya yang centil.


“Kau terlalu berlebihan, Anne!” aku menimpali dengan sikap senormal mungkin walaupun aku tahu Amelia, entah kenapa masih menatapku dengan penuh curiga.

__ADS_1


Satu yang aku pikirkan dengan kejadian hari ini, sampai kapan aku akan menghindar dan terus menyangkal seperti yang aku lakukan sekarang? Aku akui kini aku cukup menikmati pekerjaanku di Campbell Corporation meskipun hanya sebagai staf magang. Namun, sekeras aku mencoba bersikap cuek ataupun masa bodoh, tetap bagaimana pun aku tak bisa lepas begitu saja dari bayang-bayang Henry Bastian Campbell. Lantas, apa yang harus aku lakukan jika terus seperti ini? Aku tak bisa membayangkan jika identitasku sebagai istri kontrak dari Henry Bastian Campbell akan terbongkar. Jika itu sampai terjadi, maka tamatlah riwayatku sebagai Angelina Louis, itu yang pasti.


__ADS_2