ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG

ISTRI KONTRAK PENEBUS HUTANG
Malam pertama kedua


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


Milan, Italy.


“Anda tampak sempurna, Nona.” Seorang penata rias pengantin selesai meriasku di hari pernikahanku yang kedua kali dengan seorang dari keluarga Campbell, tepatnya putra tertua dari keluarga salah satu billioner dari New York, Axel Campbell.


“Terima kasih,” jawabku dengan menatap pantulan diriku dalam cermin.


Ini adalah pernikahanku yang kedua dan untuk kedua kalinya aku menikah dengan pria dari keluarga yang sama, yaitu Campbell. Aku tersenyum kecut menatap diriku, bukan sebuah senyuman kebahagiaan seperti calon pengantin lainnya. Sama seperti pernikahanku yang sebelumnya, semua ini bagiku tak ada bedanya. Tak ada rasa cinta ataupun perasaan bahagia layaknya wanita yang akan menikah pada umumnya.


Hatiku masih saja terasa hampa. Apa seperti ini rasanya menikah yang tanpa didasari rasa cinta dan terjadi karena terpaksa? Dan mengapa selalu seperti ini nasib pernikahanku? Walaupun sebenarnya pernikahan ini tak aku inginkan, namun aku tak memiliki pilihan. Aku melakukan pernikahanku kali ini semata-mata untuk anak yang aku kandung. Seperti yang Axel Campbell katakan sebelumnya, jika anak dalam kandunganku ini membutuhkan seorang ayah. Aku tak mau anakku lahir dengan tanpa ayah di sisinya nanti, dan aku berpikir keputusan ini adalah yang terbaik yang bisa aku lakukan, meskipun aku harus menikah lagi dengan pria yang merupakan saudara dari mantan suamiku sendiri.


...


Selesai pemberkatan yang hanya dihadiri oleh beberapa orang terdekat Axel Campbell di Milan, kini Axel yang sudah resmi menjadi suamiku membawaku ke rumah yang akan menjadi tempat tinggal kami sebagai pasangan suami istri.


Saat mobil yang membawaku berhenti di halaman hunian mewah yang tampak begitu mencolok mata, pandanganku cukup takjub melihat bangunan megah yang lebih mirip sebuah istana di depan mataku. Aku yang masih memakai gaun pengantin turun dari mobil dengan langkah sedikit ragu, ketika Axel membukakan pintu mobil dan memberikan satu tangannya padaku seraya tersenyum simpul dan berkata, “Selamat datang di tempat tinggal kita yang baru, Angelina Louis. Mulai hari ini kau resmi menjadi Nyonya Campbell,” ucap pria bertoxedo hitam itu dengan sikapnya penuh percaya diri.


“I-ini tempat tinggal kita?” aku bertanya gugup masih merasa tak percaya.


“Apa kau pikir aku akan membawamu ke rumah orang lain setelah kita resmi menjadi suami istri?” Axel meledek.


“Tidak, maksudku apakah ini tidak terlalu besar?” ujarku.


“Tentu saja tidak, aku sudah tinggal di sini cukup lama. Dengan adanya dirimu dan anak kita yang akan lahir nanti, rumah ini akan cukup luas untuk kita,” jawabnya.


Deg!

__ADS_1


Anak kita? Kenapa hatiku bergetar saat Axel mengatakan kalimat ‘anak kita?’ Astaga, sikapnya yang kadang dingin dan kadang terlihat hangat membuatku tak bisa mengerti siapakah sebenarnya sosok Axel Campbell ini?


Terlihat para maid dan pelayan berbaris menyambut kedatangan kami di pintu utama. Mereka semua menunduk dengan hormat saat kami berjalan melewati mereka. Aku yang tak biasa diperlakukan demikian sedikit merasa canggung.


“Selamat datang kembali Tuan dan Nyonya.” Seorang pria berseragam menyapa dan menundukkan sedikit kepalanya pada kami.


“Dia Alezto, kepala pelayan di sini. Jika kau butuh apa-apa, kau bisa minta tolong padanya.” Axel memperkenalkan pria di depanku.


“Alezto, kau antar Nyonya ke kamarnya. Aku akan menyusul nanti,” perintah Axel kemudian.


“Baik Tuan. Silakan, Nyonya. Ikuti saya. Saya akan mengantarkan Anda ke kamar untuk beristirahat,” ucap Alezto seraya mempersilakanku untuk berjalan mengikutinya.


“Istirahatlah, aku akan menyusul nanti,” perintah Axel dengan sikapnya yang berwibawa.


Seperti yang diperintahkan Axel, Alezto pun mengantarkanku ke kamarku. Tidak, lebih tepatnya ke kamar pengantin kami, aku dan Axel. Astaga, aku cukup terkejut saat Alezto membuka pintu kamar dan kini aku bisa melihat ruangan di dalamnya.


“Ini terlalu berlebihan, Alezto. Seharusnya kalian tak perlu repot-repot melakukan ini untuk menyambutku,” ucapku tak enak hati.


“Ini adalah perintah Tuan, Nyonya. Bagaimana pun ini adalah hari pernikahan Tuan kami dan juga untuk menyambut kedatangan Anda di mansion ini,” jawabnya.


“Baiklah, silakan Anda istirahat terlebih dahulu, Nyonya. Saya pamit undur diri,” ucap Alezto pamit.


Kini aku pun terduduk di tepi ranjang yang sudah dihias bunga mawar di tengah ranjang, begitu juga berbagai pernak pernik hiasan lainnya yang memanjakan mata. Melihat ini semua, ranjang pengantin, ini entah kenapa membuat jantungku berdebar? Apakah karena ini adalah malam pertama sekaligus malam pengantinku bersama dengan Axel Campbell?


Walaupun ini bukanlah yang pertama untukku, namun tetap saja semua ini membuatku canggung. Jujur aku cukup merasa trauma dengan pernikahanku yang sebelumnya. Perlakuan kasar Henry saat meminta haknya sebagai suami selalu kasar, meskipun aku akui jika pernah aku sekali menikmati sentuhannya. Dan sekarang aku telah menjadi istri pria lain, ironisnya pria itu sebelumnya adalah kakak iparku sendiri.


Merasa lelah, aku memutuskan untuk mandi sebelum merebahkan diri. Aku mencoba untuk tak terlalu memikirkan hal yang sudah seharusnya aku lupakan. Kini aku harus fokus dengan kehamilanku yang sudah masuk hitungan empat bulan. Perutku yang rata kini sudah mulai terlihat membuncit, lima bulan lagi aku akan melahirkan dan aku berharap aku dapat melewati kehamilan ini dengan tanpa halangan.

__ADS_1


...


Aku mencoba membuka mata meskipun terasa berat, saat aku merasakan sentuhan di seluruh tubuhku. Awalnya aku pikir itu adalah mimpi, namun kemudian sentuhan itu semakin terasa di antara kulit pahaku. Setelah aku sadar sepenuhnya, sontak aku pun membuka mataku ini lebar-lebar.


“Ahh!! Lepaskan aku!” Detik itu juga aku pun berteriak spontan mencoba berontak.


“Rileks, Angelina! Aku suamimu, Axel Campbell.” Sebuah suara terdengar menyahut mencoba menenangkanku yang memekik terkejut, kemudian secara spontan beringsut mundur ke kepala ranjang menutupi tubuhku yang hanya berbalut gaun malam dengan selimut.


“Axel??” Aku mengerjapkan kedua mataku mencoba memperjelas penglihatan sekaligus menjernihkan otakku.


“Ya, aku suamimu. Kita baru saja menikah hari ini dan ini malam pertama kita. Apa kau lupa?” Pria tampan berambut hitam yang kini tampak bertelanjang dada itu mencoba mendekatiku.


“Ya, Tuhan. Maafkan aku, aku.. aku pikir tadi....” Aku tak sanggup berkata-kata mengingat kembali kenangan buruk yang terjadi padaku.


“Tenanglah, semua baik-baik saja. Kau aman bersamaku sekarang, Angelina.” Ucap Axel menyentuh wajahku lembut mencoba untuk menenangkan.


Aku memejam mata merasa cukup syok sekaligus merasa bersalah pada pria yang kini sudah sah secara resmi menjadi suamiku.


“Maaf, Axel. Sepertinya aku belum siap melakukannya,” tuturku lirih dengan suara sedikit gemetar.


Manik mata biru Axel menyempit menatapku, “Melakukan apa maksudmu?” tanyanya.


“Melakukan, ehmm... kewajibanku sebagai istri.” Susah payah aku mengucapkan kalimat itu di bibirku yang terasa kelu.


Axel mendesah pelan, ia semakin mendekatkan dirinya padaku yang masih terduduk dengan tubuh yang masih terasa bergetar.


“Maafkan aku, mungkin aku terlalu cepat melakukannya padamu. Aku lupa jika kau pernah mengalami pengalaman buruk hingga membuatmu trauma.” Sentuhan Axel kini turun ke bibirku lalu mengusapnya lembut, “Tenanglah. Aku tidak akan memaksamu untuk saat ini. Aku akan menunggu sampai kau siap untuk melakukannya bersama denganku, Angelina. Namun, untuk sekarang biarkan aku menyentuhmu agar aku bisa mengenalmu lebih jauh. Percayalah padaku, bersama denganku seiring waktu kau akan melupakan kenangan-kenangan buruk itu.”

__ADS_1


__ADS_2