
Hari berikutnya setelah keadaanku sudah kembali fit, aku pun berangkat bekerja seperti biasa. Benyamin Larkin langsung memberikanku pekerjaan menumpuk, sepertinya aku akan lembur hari ini.
“Kau sudah aku berikan kelonggaran dua hari izin tak bekerja, sekarang kau harus mengerjakan semua tugasmu ini!” perintahnya Benyamin Larkin, “Jangan karena kebetulan kau mengenal Axel Campbell atau memiliki hubungan dengan seseorang di Campbell Corporation, kau bisa seenaknya bekerja denganku! Itu tidak akan terjadi dalam kamusku, Angelina Louis,” sindir Benyamin Larkin padaku.
Aku yang sedang tak ingin berdebat dengannya hanya bisa diam, dan lebih memilih untuk patuh. Hari itu pun aku berkutat dengan pekerjaanku, agar semua tugas yang diberikan Benyamin Larkin dapat aku selesaikan hari ini juga. Namun, di tengah-tengah pekerjaan itu aku merasa pusing kembali. Apakah ini karena pengaruh kehamilanku yang memang masih semester awal? Entahlah, aku tetap memaksakan diri untuk bekerja.
“Kau tidak apa-apa, Angelina?” Seseorang tiba-tiba datang menghampiriku saat aku berjalan ke ruangan pantri untuk mengambil minuman.
“Ah, ya. Saya baik-baik saja, Mr. Jones.” Aku cukup terkejut jika Alan Jones yang datang.
“Tidak, aku rasa kau tidak baik-baik saja. Wajahmu terlihat pucat,” Alan Jones membenarkan, “Aku baru melihatmu setelah beberapa hari ini. Apakah yang terjadi padamu? Aku dengar kau sakit, Angelina,” sambung Alan Jones perhatian.
“Saya hanya merasa tidak enak badan, Mr. Jones. Bukan sesuatu yang buruk,” jawabku.
“Jika seperti itu seharusnya kau jangan langsung bekerja terlalu lelah. Kau ‘kan baru sembuh dari sakitmu,” ucapnya perhatian.
“Tidak apa, Mr. Jones. Saya masih bisa mengatasinya.” Aku menyahut seraya tersenyum.
“Baiklah, saya permisi dulu. Mr. Jones. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan.” Aku berbalik keluar dari ruangan itu, namun detik itu juga Alan Jones menggapai tanganku, secara refleks aku pun berbalik menatapnya bingung.
“Tunggu, Angelina!” Alan menarik tanganku secara tiba-tiba.
“Aku tahu kau sedang bermasalah, aku hanya ingin mengatakan padamu berhati-hatilah dengan Benyamin Larkin. Aku bicara seperti ini karena aku peduli denganmu.” Raut wajah Alan Jones terlihat serius saat mengatakannya, membuatku tertegun selama beberapa saat.
“Ehem!” Suara deheman terdengar mengejutkan kami berdua di saat yang sama.
“Ini adalah kantor, bukan tempat untuk bermesraan!” tegur sebuah suara yang familier terdengar.
__ADS_1
“Mr. Campbell?? Ah, maafkan saya. Kami hanya mengobrol sebentar untuk saling menyapa,” Alan Jones menyahut sembari melepas genggaman tangannya padaku.
“Aku baru tahu jika saling menyapa itu dilakukan dengan menggenggam tangan,” Henry berkata menyindir.
“Maaf sebelumnya, saya hanya merasa khawatir dengan keadaan Miss. Louis yang kurang sehat,” Alan Jones beralasan.
“Sejak kapan kau memperhatikan karyawan magang dari divisi lain Alan Jones?” tukas Henry tajam membuatku segera cepat bertindak sebelum suasana menjadi semakin runyam dan memanas.
“Maafkan saya sebelumnya, ini hanya kesalahpahaman saja, Mr. Campbell. Mr. Jones tadi hanya berusaha menolong saya tadi yang memang sedang tidak enak badan tadi,” terangku mencoba membenarkan.
“Oh ya benarkah?” Henry menatapku sinis. Tatapan yang selalu membuatku teringat dengan malam paling menyakitkan di saat ia menyiksaku malam itu.
“Ya, itu benar, Mr. Campbell.” Aku menunduk menghindar dari tatapan matanya yang seolah ingin menelanku hidup-hidup, “Kalau begitu. Saya pamit undur diri. Permisi.” Tanpa menunda waktu lagi, segera saja aku berjalan cepat meninggalkan tempat pantri.
...
Waktu sudah menjelang malam dan aku rasa sebagian besar karyawan sudah pulang, namun pekerjaanku masih belum selesai. Hanya tinggal sedikit lagi. Aku mencoba merilekskan tubuhku sejenak, menarik nafas panjang agar tubuhku tak merasa tegang. Untung saja aku sudah bisa sedikit mengatasi rasa mual yang sempat tadi siang aku rasakan.
“Tinggal sedikit lagi, Sir. Semua laporan yang Anda minta akan segera selesai. Saya akan menyerahkan dokumennya jika sudah selesai nanti ke ruangan Anda,” aku menjawab.
“Aku akan menunggumu di ruanganku. Jangan menundanya lagi, segera cepat selesaikan semuanya malam ini juga!” tegasnya dengan sikapnya yang galak.
“Baik, Sir.”
Beberapa menit kemudian akhirnya aku pun dapat menyelesaikan pekerjaanku. Tanpa menundanya lagi aku pun dengan segera menyerahkannya pada Mr. Benyamin Larkin. Namun, saat aku bangkit berdiri rasa pusing itu datang kembali. Aku berusaha kuat untuk menahannya, dengan tetap melangkah ke ruangan Mr. Benyamin Larkin.
“Ini, semua laporan yang Anda minta, Sir,” ucapku lirih seraya menyerahkan dokumen yang baru selesai kukerjakan pada Benyamin Larkin.
__ADS_1
Pria angkuh itu menatapku dengan pandangan menyempit, “Kau pulang malam ini bersamaku, aku akan mengantarkanmu pulang,” ucapnya tiba-tiba mengejutkanku
“Tidak, Sir. Terima kasih. Saya bisa pulang sendiri dengan menggunakan taksi seperti biasanya,” tolakku mencoba bersikap baik-baik saja meskipun rasa pusing di kepalaku semakin terasa.
“Hey, kau mau aku dianggap pimpinan yang kejam?! Dengan membiarkan karyawan wanitanya pulang sendiri setelah membuatnya harus lembur?” ucapnya ketus, “Kau sedang tak enak badan ‘kan? Jangan menolak niat baikku ini. Jika terjadi sesuatu padamu, bisa-bisa aku yang repot nanti!” sambungnya seraya bangkit dan bersiap-siap.
Bagaimana ini? Aku berada dalam posisi yang sulit. Aku ingin menolaknya keras, tetapi tubuhku memang saat ini tak bisa diandalkan. Merasa tak memiliki pilihan lain aku pun terpaksa menerimanya.
“Tunjukkan saja alamat rumahmu, aku akan mengantarkanmu ke sana!” Benyamin Larkin berkata seraya memasang sabung pengaman mobilnya.
“Twenty seven Javelin street, Sir,” jawabku.
Tanpa mengatakan apa pun kembali, Benyamin Larkin pun melajukan mobilnya keluar dari gedung Campbell Corporation. Sempat terbersit rasa cemas di hatiku tadi di awal, mengingat ucapan Alan Jones tadi siang. Namun, melihat sikap Benyamin Larkin yang sepertinya memang berniat baik mengantarkanku pulang, aku sedikit bernafas lega dan tak merasa takut lagi. Selama beberapa saat, karena merasakan lelah dan rasa pusing yang amat sangat aku memejamkan mata sejenak di dalam perjalanan. Hingga saat aku membuka mata, aku pun tersentak karena ternyata mobil Benyamin Larkin sudah berhenti entah sejak kapan. Ya, Tuhan berapa lama aku ketiduran?! Dan yang membuatku semakin merasa panik, aku baru menyadari jika aku kini berada di tempat asing yang tak aku ketahui keberadaannya!
“Sir, ini ada di mana?! Dan kenapa Anda tak mengantarkan saya ke alamat yang sudah saya tunjukkan pada Anda tadi?!” tanyaku merasa panik pada Benyamin Larkin yang masih duduk di sebelahku.
“Rileks, Angelina. Kenapa kau panik seperti itu? Kau menikmati perjalananmu, tadi bukan?” Pria jangkung itu menyeringai menatapku.”
Merasa ini tidak benar, aku pun berusaha keras membuka pintu mobil yang ternyata masih terkunci.
“Tolong buka pintunya, Sir! Dan biarkan saya pulang sendiri!” seruku memohon.
“Kenapa harus pulang secepat itu, Angelina? Kita bisa bersenang-senang sebentar, setelah itu aku akan mengantarkanmu pulang nanti.” Benyamin Larkin menyahut santai.
“Tidak! Tolong lepaskan saya, Sir! Jika tidak, saya akan berteriak meminta tolong!” ancamku keras pada pria yang kini menatapku dengan pandangan yang bagiku terlihat mengerikan.
“Kau pikir aku bodoh, Angelina? Aku tidak mungkin membawamu dengan tanpa perencanaan sebelumnya,” sahutnya masih dengan sikap tenangnya yang bagiku justru terlihat menakutkan.
__ADS_1
“A-apa?!” aku tercekat terpaku merasa semakin panik dengan tubuh gemetar ketakutan.
Tidak, ini tidak benar! Tuhan, tolonglah aku. Aku mohon siapa pun, tolonglah aku sekarang!