
Pagi itu Henry terbangun saat ponselnya yang diletakan di meja nakas samping ranjangnya terus bergetar. Terganggu dengan suara getaran ponsel, Henry membuka matanya dengan berat. Masih enggan tubuhnya untuk beranjak, namun suara getaran ponsel itu terus mengganggu. Dengan enggan Henry menggapai benda pipih itu tanpa beranjak dari atas ranjang. Netra birunya menyempit saat melihat nomor tak dikenal yang menghubunginya. Walaupun ia tak mengenal nomor ponsel yang menghubungi, tetapi Henry bisa menebak jika ia tahu siapa orang yang menghubunginya. Akhirnya Henry pun mengangkatnya tanpa berbicara terlebih dahulu.
“Sudah waktunya kita bertemu, Henry Bastian Campbell. Bukan antar saudara, tapi ini adalah antar sesama pria!” Tebakan Henry tidak meleset. Sebuah suara mendominasi terdengar, dan Henry mengenal betul siapa pemilik suara tersebut.
“Katakan dan aku akan datang dengan senang hati,” ucap Henry serius penuh keyakinan.
“Aku tunggu kau di tempat yang akan aku tunjukkan padamu, satu jam dari sekarang!”
Sambungan telepon itu pun terputus begitu saja. Henry menoleh ke jam digital di meja nakas, dan waktu menunjukkan pukul delapan lebih sepuluh menit. Seolah tak Henry pedulikan Carla yang tak diketahui keberadaannya sejak semalam, Henry segera bergegas bersiap-siap. Ini adalah waktunya ia akan menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya pada seseorang yang menjadi rivalnya selama ini, Axel Campbell.
Tepat seperti waktu dan tempat yang sudah ditentukan Henry pun menuju ke lokasi tempat di mana Axel Campbell menginginkan sebuah pertemuan. Kini dua bersaudara berbeda ibu itu pun dipertemukan kembali setelah pertemuan terakhir mereka yang singkat di pelelangan beberapa waktu lalu di Roma. Hawa dingin menerpa saat kedua bersaudara tampan itu bertatap muka. Hanya dari sorot mata mereka jelas terlihat jika aura di antara mereka sama-sama terlihat kuat dan mendominasi. Kilat mata keduanya menyiratkan dendam dan kebencian yang begitu besar.
Dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana, Axel Campbell berdiri kokoh, menunggu Henry yang melangkah mendekatinya.
“Bagus sekali, kau memiliki nyali yang besar dengan memenuhi undangan dariku Henry Bastian Campbell,” Axel memulai. Ekspresi wajahnya terlihat serius.
__ADS_1
Henry mendengus, ia tersenyum smirk dan berkata cukup lantang, “Kau pikir aku takut denganmu Axel? Tidak sama sekali!” ucap Henry dengan tubuh condong ke depan.
“Oya? Jika aku merebut semua yang kau miliki, apa kau tetap merasa tak takut?” ejek Axel seraya tersenyum miring penuh arti.
“Aku akan merebutnya kembali apa yang sudah menjadi milikku meskipun nyawaku ini adalah taruhannya! Termasuk itu adalah Angelina!” tukas Henry lantang.
Axel tertawa, tawanya keras dan terdengar mengejek. Henry tak bergeming, namun sorot matanya menyiratkan kemarahan yang besar.
“Apa yang bisa kau lakukan padaku, Henry? Angelina adalah istriku yang sah di mata hukum kini. Jangan katakan kau kini menyesal telah menceraikannya?” ejek Axel, “Apa perlu aku ingatkan lagi, bagaimana kau memperlakukannya dulu hingga membuangnya seperti layaknya sampah?” ucap Axel penuh penekanan.
Henry mencebik, “Dari semua wanita di dunia ini, kenapa kau memilih Angelina menjadi istrimu? Aku yakin kau pasti memiliki alasan, Axel Campbell! Secepatnya aku akan tahu apa yang kau rencanakan selama ini, dan jika saat itu tiba aku akan menunjukkan pada dunia siapa dirimu yang sebenarnya, termasuk Angelina! Dia akan tahu kau menikahinya hanya untuk keuntunganmu sendiri!”
Bug!!
“Munafik!! Kau pikir, dirimu lebih baik dari pada aku, Henry?! Kau hanyalah pria pecundang yang dibutakan oleh nafsu dari egoisanmu sendiri! Tidak selamanya apa yang kau inginkan bisa menjadi milikmu! Angelina adalah satu dari bukti keserakahan dan keegoisanmu, jadi sampai kapan pun kau jangan bermimpi jika dia akan kembali padamu lagi karena aku adalah orang pertama yang akan menghalangi!!” Axel meremas pakaian bagian atas Henry dengan tatapan bagai nyala api.
__ADS_1
Bug!!
Henry memukul Axel setelah lebih dulu melepaskan diri.
“Aku akan berjuang sampai titik penghabisan! Angelina adalah milikku, begitu juga bocah laki-laki yang bernama Andrew! Aku yakin dia adalah putraku! Jadi aku berhak sampai kapan pun untuk memiliki keduanya!” tegas Henry lantang dengan berapi-api.
“Langkahi dulu mayatku, selama aku masih hidup kau tak akan bisa memiliki keduanya!” seru Axel lantang.
Kini dua bersaudara berbeda ibu itu pun sama-sama terluka. Kekuatan mereka yang seimbang terlihat dari satu pukulan telak yang mereka terima. Axel dan Henry kini bertatapan, mereka berdua saling mengontrol emosi agar tidak terjadi baku hantam. Namun, sorot mata keduanya tak mampu menutupi emosi yang meluap di antara keduanya.
“Ingat Axel Campbell, sejak awal Angelina adalah milikku. Kau hanya pria yang memanfaatkan situasi dengan menikahinya!” tukas Henry keras.
“Dan kau jangan lupa, kau menikahinya juga hanya untuk melunasi hutang! Semua kartu As mu ada padaku, Henry Bastian Campbell. Semua yang kau miliki dan yang kau nikmati selama ini, itu adalah hakku. Kau hanya keturunan kedua dari keluarga Campbell jadi jangan terlalu percaya diri dengan apa yang seharusnya menjadi milik orang lain,” sindir Axel tajam.
“Kita lihat saja, siapa yang lebih unggul di antara kita. Perlu kau tahu, tanpa adanya aku, Campbell Corporation tidak akan berdiri kokoh seperti sekarang,” tukas Henry penuh percaya diri.
__ADS_1
Axel mencebik, “Aku tak peduli dengan semua itu. Di sini sekali lagi aku tekankan, jika kau mengusik Angelina lagi atau bahkan menyentuhnya seujung kuku, kau akan berurusan denganku. Dan aku tak segan untuk menghancurkanmu hingga tak bersisa!!” ancam Axel tajam dengan menunjuk wajah Henry.
“Aku tidak takut! Kita lihat saja siapa yang lebih pantas memiliki Angelina. Kau atau aku!!” Setelah mengucapkan kalimat penyangkalan itu, Henry melangkah pergi meninggalkan tempat itu.