
Lelah mengurung diri didalam kamar mandi dan menangis karena mengingat nasib cintanya yang malang, Ela pun memutuskan untuk menyudahi semua itu dan segera membersihkan dirinya.
Wanita itu kini berdiri dibawah guyuran air shower, membiarkan percikan air itu turun mengenai kepalanya, berharap dengan begitu dirinya akan merasa lebih baik.
" Bodoh kamu Ela, harusnya kamu fokuskan perhatian kamu dengan menerima pria lain yang datang, bukan terus menyendiri, sehingga kamu berada pada situasi ini." Batinnya menyalakan diri sendiri atas apa yang terjadi padanya dan Kairan.
Wanita itu mungkin memiliki sekeping rasa untuk Kairan, tapi nyatanya dengan menikahi Kairan! tidak lantas membuat perasaannya membaik, sebab rasa sakit karena merasa terus di permainkan. Membuat kebenciannya semakin membesar kepada pria itu dari hari ke hari.
Dan bagian terburuk dari hatinya, wanita itu menyadari rasa bencinya kepada Kairan terkalahkan dengan sekeping rasa yang telah ada lebih dulu.
Jika di antara persahabatan mereka, Hani selalu sendiri, itu karena dia terlalu fokus untuk membuktikan dirinya dan hatinya baru luluh pada seorang kenan.
Sedang Ela justru berbeda, dia tidak tertarik kepada Pria lain karena pria yang saat ini telah berstatus sebagai suaminya itu, selalu mengelilinginya seakan tak ingin memberinya kesempatan untuk berpaling ke lain hati.
Berbeda dengan Lita yang telah lebih dulu percaya jika semua pria itu kejam dan tidak ada yang setia, sehingga dia terlalu malas berhubungan dengan mereka yang berjenis pria kecuali dalam hal pekerjaan atau keluarga, semua itu terjadi karena sejak kecil dia sudah terbiasa melihat kekejaman seorang pria, dimana sang ibu di tinggalkan tanpa pertanggung jawaban hingga dia terlahir di luar pernikahan dan perlakuan para bodyguard di rumah bordil tempat dia tumbuh, semua itu cukup untuk membuat Lita percaya semua pria itu breng-sek dan dia tidak membutuhkan mereka.
" Ayo Ela, kembali jadi diri kamu dengan berpura-pura jika dia tidak ada, kamu pasti bisa." Ucap wanita itu lagi pada dirinya sendiri.
Setelah itu dia segera menyudahi mandinya, karena pagi ini dia harus pulang ke rumah orangtuanya untuk mengambil seragamnya, sebab besok dia memiliki jadwal ship pagi.
Di karenakan bathrobe yang semalam dia pakai telah basah, wanita itu mau tak mau, hanya melilitkan handuk kecil di tubuhnya.
Handuk itu hanya dapat menutupi dada sampai pangkal pahanya saja, andai dia membungkuk sedikit saja mungkin akan terlebih seluruh asetnya di bawah sana.
Ela melangkah dengan hati-hati keluar dari kamar mandi itu, saat berada di dalam kamar! Wanita itu bisa melihat dari ekor matanya jika kai belum berpindah dari tempat duduknya.
__ADS_1
Wajar saja, sebab kondisinya membuat dia membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukannya.
Sementara itu, Kai yang tengah asyik mengecek pekerjaan pada iped di tangannya, langsung mengangkat pandangannya begitu mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka.
Kedua matanya langsung disuguhi pemandangan yang indah pagi itu. Tubuh mulus Ela dari atas sampai bawah, membuat sang adik yang sejak awal memang tidak kuat akan godaan langsung berdiri dengan gagahnya apalagi di pagi hari seperti ini, dia akan semangat untuk bangun pagi.
" Apa lihat-lihat! belum pernah lihat orang pakai handuk." Bentak wanita itu membuatnya tersadar, kemudian menunduk pandangannya walaupun hatinya begitu berat melakukan itu.
"Jangankan pakai handuk, nggak pakai apa-apa pun! sudah pernah." Cicitnya, membuat langkah wanita itu terhenti, kemudian berbalik menatapnya dengan tajam.
" Dasar mesum." ucapnya, lalu melanjutkan langkahnya lagi.
Sementara Kai, hanya bisa mengelus dadanya." Ya Tuhan, salah apa aku punya istri judes dan di siksa seperti ini pula. " Gumam Kai dalam Hatinya, seraya menatap pintu walk itu closed miliknya yang telah tertutup dengan begitu nyaringnya itu.
" Huuuffhh, sabar ya boy! Kita cari waktu yang tepat, jangan sekarang." Ucap pria itu lagi, namun boy di dalam sana tak mau mengerti dirinya, hingga membuatnya sakit kepala.
" Haaniya, Thalita awas ya kalian." Teriak Ela dengan begitu kesal saat melihat isi kotak hadiah itu.
Bagaimana dia tidak kesal! Di dalam kota itu hanya berisi pakaian tak berakhlak, yang entah di mana kedua wanita itu mendapatkannya.
' Jangan lupa beritahu kita, bagaimana reaksi Kai saat kamu menggunakannya, semoga dia suka! selamat mencoba ya Ela sayang. Kami menyayangi mu. Muuaachh.' Note yang di tinggalkan kedua sahabatnya.
Membaca note yang di tinggalkan kedua sahabatnya membuat mood Ela semakin buruk saja.
" Tapi sayang juga kalau nggak di coba! coba aja kali ya, buat menghargai usaha mereka." Gumamnya.
__ADS_1
Wanita itupun memutuskan untuk mencobanya, dia mengambil salah satu lingerie lengkap dengan g-string, lalu memakainya. Namun baru melihat pantulan dirinya di cermin, wanita itu sudah merinding sembari menatap jijik diri sendiri.
Dengan cepat-cepat Ela melepaskan satu persatu benda itu dari tubuhnya sembari bergidik ngeri mengingat tampilannya tadi.
Dia membuka lemari pakaian Kairan dan memilih satu kemeja Kairan untuk dia gunakan.
" Ela," panggil Kairan.
Mendengar Kai memanggilnya, Ela pun mau tak mau menghampiri pria itu, Setelah selesai memakai kemeja itu.
" Ada apa?" Tanyanya, begitu dia berada tepat di hadapan Kairan, sembari melipatkan kedua tangannya di dada.
" Maaf, aku ingin ke kamar mandi?" Jawab Kai.
" Terus aku harus apa?" Tanya Ela, wanita itu seakan lupa jika suaminya itu tidak bisa melakukan apa-apa tanpa bantuan orang lain.
" Ela_"
" Memangnya siapa yang biasanya membantu kamu Sebelum nikah sama aku?" Sela Ela, dia bahkan tidak sungkan-sungkan untuk menunjukkan ketidak sukaannya.
" Maaf, biasanya aku akan menelpon seseorang untuk membantuku! Tapi aku tidak melakukan itu karena tidak ingin kamu risih dengan kehadiran orang lain yang menggantikan tugas kamu." Jawab Kai seadanya.
Ela yang masih ingin marah, pada akhirnya di kalahkan oleh perasaannya sendiri bagitu menyadari tatapan memohon Kai.
Wanita itu mengambil kursi roda Kairan yang berada di sudut ruangan kemudian membantunya turun dari tempat tidur. " Terima kasih." Ucap Kai tulus begitu dia telah duduk dia atas kursi roda itu.
__ADS_1
" Hmmm." Ela hanya bergumam sebagai jawaban, kemudian wanita itu mendorong kursi roda Kai ke kamar mandi. " Tenang Ela, anggap saja kamu sedang membantu pasien di rumah sakit." Ucapnya dalam Hati, untuk meyakinkan diri sendiri, kalau apa yang dia lakukan ini sudah benar.
" Terima kasih, kamu boleh meninggalkan aku, sisanya! aku bisa melakukannya sendiri." Ucap pria itu yang tidak ingin di bantu lebih jauh lagi, membuat Ela mengerutkan keningnya bingung.