
Silaunya cahaya matahari menembus tirai jendela menerpa langsung wajah Ela, membuat tidur wanita itu terusik.
Ia mengerjap matanya beberapa kali, sebelum membuka kedua matanya dengan sempurna. Seketika ingatan akan kejadian semalam kembali berputar di kepalanya, sembari menatap langit-langit kamar tidur mereka.
Bagaimana tidak, setelah sekian lama mereka menikah akhir mereka melakukan apapun yang seharusnya mereka lakukan. Dan malam tadi adalah Malam pertama untuk keduanya.
"Engghh." Sebuah lenguhan keluar begitu saja dari bibir Ela. Begitu wanita itu mencoba untuk bangun.
"Ada apa sayang?" Suara kas bangun tidur itu langsung menyapa Indra pendengarannya membuat Ela menengok kepalanya ke samping dan mendapati sang suami kini yang juga baru terbangun dari tidurnya.
"Badan aku sakit, semua." Ucapnya jujur tak ingin menutupi apapun, karena kenyataannya memang seperti itu belum lagi rasa nyeri di bawah sana.
Sungguh Ela tidak tahu jika percintaan mereka semalam bisa berakibat seperti ini padahal tidak begitu banyak gaya yang mereka lakukan, tapi dia bisa merasakan tubuhnya seakan remuk.
Dalam hatinya wanita itu bertanya apa semua wanita juga merasakan hal yang sama, sebab dia hanya tahu melepaskan mahkotanya itu akan sedikit perih tapi tidak ada yang mengatakan jika tubuh mereka juga remuk.
"Maaf," ucap Kairan sembari melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya itu. Mencium punggung polosnya.
"Bang Kai, jangan lagi! Badan aku sakit." Tegur Ela, begitu merasakan tangan suaminya itu tidak hanya diam, belum lagi ciumannya di punggung Ela, membuat sinyal waspada dalam tubuhnya langsung aktif.
__ADS_1
Bukannya berhenti Kairan justru semakin menjadi, tangan bahkan tidak lagi diam dan sudah naik ke atas menyentuh bukit kembarnya. " Bang Kai, stop aku ingin mandi." Sentak Ela, sembari menghempaskan tangan nakal suaminya.
"Baiklah, kita mandi sama-sama! Kita bisa saling membantu mengosok punggung satu sama lain." Tawar pria itu dengan penuh maksud.
Dan Ela yang belum berpengalaman dengan situasi ini, langsung mengiyakan tawaran suaminya itu tanpa dia tahu jika itu hanya akan membuat tubuhnya semakin remuk di dalam sana.
Kairan pun bergegas turun dari ranjang, lalu menghampiri sisi ranjang yang di tidur Ela untuk mengendong wanita itu ala bridal style, sementara Ela dengan senang hati melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya.
"Ingin berendam?" Tanya Kairan sembari mengecup bibir istrinya.
"Hmm." Ela bergumam sebagai jawaban.
Dan setibanya di dalam bathroom, Kairan mendudukkan tubuh istrinya itu di atas closet lalu mengisi bathtub dengan air hangat untuk mereka berdua berendam.
"Nggak, aku mau menemani kamu aja di rumah, lagian sore nanti kita akan berangkat ke Bali." Jawab Kairan. Tanpa menatap kepada istrinya.
"Oh iya aku lupa kalau kita hari ini ke Bali." Ucapnya. Mungkin bukan lupa, tapi calon kakak iparnya itu tidak terlalu penting sehingga ia terlalu malas untuk mengingat pernikahan kakaknya itu.
"Sayang kemari-lah, air sudah terisi." Ucap Kairan yang sudah lebih dulu masuk kedalam bath itu dan Ela pun langsung beranjak dari duduknya, melangkah dengan begitu pelan hingga ia dapat bergabung bersama Kairan.
__ADS_1
Wanita itu bersandar pada dada bidang suaminya sembari memejamkan matanya. Berendam seperti itu membuat tubuh rileks! Tapi sayangnya semua itu tidak bertahan lama, begitu Kairan mulai kembali melancarkan aksinya.
Pria dengan sejuta pengalaman itu, membuat Ela tidak dapat menghindari dan hanya bisa mengikuti keinginan tubuhnya walaupun dalam hati ia merutuki kelihaya pria yang berstatus Suaminya itu dalam membangkitkan gairahnya.
Dan pergula-tan panas didalam bathtub itu tidak dapat Ela hindari, wanita itu hanya bisa mende-sah menyebut nama suaminya.
\=\=\=\=\=\=\=
"Aku tidak akan pernah mau lagi diajak mandi berdua." Ucap Ela begitu kedua keluar dari dalam bathroom itu.
Sebab Kairan benar-benar membuatnya kewalahan didalam sana, pria itu bahkan tidak mengenal kata berhenti, andai dia suara perut Ela yang berdemo minta di isi tidak terdengar, mungkin sampai detik ini mereka masih melakukan hal itu.
"Maaf ak_"
Tok... Tok...
Kairan tidak dapat melanjutkan kata-katanya, karena suara ketukan di pintu kamar mereka. Pria itu kemudian berjalan kearah pintu lalu membuka pintu itu.
"Masuk, letakkan saja di atas meja setelah itu kalian boleh pergi." Titah Kairan kepada dua orang pelayan yang baru saja mengantarkan mereka sarapan yang sudah kesiangan itu.
__ADS_1
Begitu pelayan-pelayan itu selesai, mereka langsung keluar dan Kairan pun menutup pintu itu kembali, kemudian menghampiri Ela yang sedang duduk dengan tidak nyaman di bangku meja riasnya.
Lelaki itu sedikit membungkuk, mengecup pipi wanita itu dari samping kemudian berbisik di telinganya. " Maafkan aku sayang, tapi ada yang pernah bilang, jika dia takut akan menjadi perawan tua, karena aku tidak akan bisa melakukan hal itu jadi aku harus membuktikan kalau dia salah." Ucapnya membuat Ela mengumpat dirinya sendiri. " Benarkan sayang." Goda Kairan sembari menatap pantulan wajah istrinya di cermin.