Istri Pengganti Tuan Lumpuh

Istri Pengganti Tuan Lumpuh
Terima kasih sayang


__ADS_3

"Tamu bulanannya?"


DEG.


Jantung Ela langsung berdetak tak menentu. Dia sudah lama menginginkan hal ini tapi kenapa sekarang dia jadi ragu dan takut.


"Emang bang Kai, mau sekarang?" Bukannya menjawab Ela malah Balik bertanya.


"Dari awal nikah juga mau El! Tapi kamu sepertinya nggak mau kasih hak aku." Jawab Kairan sembari memposisikan tubuh Ela agar menatap kepadanya." Udah selesaikan, sayang?" Tanya Kairan lagi dengan begitu lembutnya sembari menatap lekat manik coklat istrinya itu.


Ela dengan ragu mengangguk kepalanya, ia menunduk untuk mengalihkan tatapannya dari suaminya itu. Karena jantungnya berdetak lebih cepat seakan ingin melompat keluar saat itu juga.


"Hai, jangan menunduk sayang lihat aku." Ucap Kairan mengangkat dagu Ela agar wanita itu menatap lagi kepadanya." Boleh aku mendapatkan hak aku." Pintanya penuh harap.


Kairan bisa saja langsung agresif, menyerang Ela tanpa meminta persetujuan istrinya itu, tapi mengingat dia sangat mencintai wanita itu dan hubungan mereka juga baru membaik, Kairan tidak bisa melakukan hal itu. Dia harus mendapatkan persetujuan Ela, untuk kenyamanan bersama.


"I-iya tapi_"


"Aku tahu, ingin pengalaman pertama kamu?" Ela mengangguk. Membuat Kairan tersenyum bangga. Ia bisa menjadi lelaki pertama untuk wanita yang dia cintai. "Terima kasih sayang."

__ADS_1


Tanpa banyak bicara lagi, Kairan langsung membenamkan bibirnya, pada belahan bibir istrinya.


Menyesap dengan lembut bibir Ela, membuat wanita itu terbuai dengan permainan suaminya.


Ela berusaha mengikuti pemain bibir suaminya, hingga membuat keduanya semakin terbuai, ciuman yang awalnya lembut itu, perlahan-lahan semakin menuntun bahka tangan kedua tidak lagi diam pada tempatnya.


"Ngeh_ahh." Suara tertahan itu keluar begitu saja dari bibir Ela, begitu tangan Kairan menyentuh gundukan kembar milik Ela, memijitnya dengan perlahan, membuat wanita itu merasakan sensasi baru di tubuhnya, sensasi yang tidak mampu ia jelaskan dengan kata-kata.


Kairan melepaskan ciuman mereka, saat keduanya sama-sama membutuhkan oksigen. Pria itu kemudian mencium rahang istrinya hingga turun ke leher jenjang wanita itu sesekali menggigit kecil di sana hingga membuat tanda kepemilikannya.


"Jangan tegang, rileks aja." Bisik Kairan sebab pria itu dapat merasakan ketegangan istrinya, saat ia mencium bibir wanita itu dan menyentuh setiap jengkal kulit.


Wanita itu tidak sanggup berkata-kata, karena tengelam dalam gairah yang dipicu suaminya itu.


Kairan kembali menjalankan aksinya, bibir pria itu terus turun dengan tangan yang lincah membuka satu-persatu kancing piyama Ela. Hingga ia dapat melihat gundukan daging kenyal itu.


Melihat pemandangan indah di depan matanya, membuat kedua manik hitam itu semakin berkabut gairah.


"Aahh." Suara Desa-han kembali terdengar dari bibir mungil Ela saat Kairan memainkan puncak gundukan kembarnya. Bahkan wanita itu tanpa sadar membusungkan dadanya, seakan meminta lebih.

__ADS_1


Permainan itu semakin panas, saat Kairan turun kebawah dan bermain-main dengan bagian inti paling sensitifnya.


Pria dengan sejuta pengalaman itu, tentu tahu caranya memuaskan istri itu dan tak butuh waktu lama, Ela pun merasakan pelepasan pertama hanya bermodalkan tangan dan bibir suaminya saja.


Kairan sengaja menjeda pemain mereka, untuk melepaskan setiap benang yang melekat di tubuhnya sekaligus memberi kesempatan untuk Ela mengatur nafasnya.


"Sekarang giliran aku." Bisik Kairan, setelah itu ia membenamkan bibirnya pada belahan bibir Ela. Melu-matnya dengan kasar hingga membuat bibir wanita itu sedikit membengkak.


"Aahhkk." Ela mengeluarkan suara Desa-hannya begitu Kairan melepaskan ciuman mereka, hingga terlihat benang saliva yang menempel pada bibir keduanya.


Kairan kemudian memposisikan tubuh dengan membuka sedikit kedua paha istrinya, memposisikan tubuhnya tepat di depan bagian itu tubuh itu dengan sang adik yang berdiri gagah siap menjalankan tugasnya.


Kairan kemudian mengarahkan kepala adiknya, pada bagian inti tubuh Ela. Mengusap kepala adiknya naik turun hingga menciptakan sensasi yang begitu dahsyat di tubuh Ela.


Merasa Ela sudah sangat siap Kairan pun mendorong adiknya untuk masuk, walaupun sangat kesulitan karena terowongan itu belum berpernah dijamah, siapapun.


Namun berkat keper-kasaan sang adik, terowongan itu dapat dijebol." Akkhhh_hmm." Jerit Ela saat merasa tubuhnya seakan terbelah menjadi dua.


Namun Kairan segera membenamkan bibirnya, melu-mat bibir wanita itu untuk mengalihkan rasa sakit yang di rasakan Ela, sembari membenamkan adiknya hingga terowongan siap untuk menerima sang adik sang keluar masuk nanti.

__ADS_1


__ADS_2