
Dalam tiga belas Hari Kairan mempersiapkan pesta pernikahan yang megah untuk untuk wanita-nya.
Pesta pernikahan itu digelar dengan begitu meriahnya, tidak hanya sahabat, kerabat dan rekan bisnis Kairan serta keluarga Sanjaya.
Bahkan pejabat sampai hampir semua pegawai di rumah sakit tempat Ela berkerja di undang ke acara itu.
Kairan juga menyewa salah satu stasiun TV swasta untuk menyiarkan pernikahan mereka.
Pria itu melakukan semuanya bukan tanpa sebab, Kairan melakukan itu karena dia tidak ingin ada yang mendekati istrinya saat Ela jauh dari pandangannya.
Katakan dia bucin atau apalah itu, Kairan tidak peduli, yang pasti dia ingin dunia tahu jika seorang Naela Azzura Sanjaya ada yang punya.
"Selamat atas pernikahanmu! Akhirnya kamu mendapatkannya, aku doakan semoga kalian selalu berbahagia dan segera diberikan momongan." Ucap seorang wanita sembari menatap layar televisi dihadapannya.
Wanita itu menatap kagum memperlai wanita yang terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin yang ia kenakan wajahnya yang manis, semakin bertambah manis saat ia menarik kedua sudut bibirnya keatas.
"Kamu begitu beruntung Naela." Gumam wanita itu lagi. Tatapannya tidak berpindah dari layar televisi dihadapannya.
__ADS_1
Satu tetes cairan bening jatuh dari sudut matanya, tangannya terangkat dari perutnya lalu dengan cepat mengusap jejak basah itu.
"Sayang apa kamu masih mengharapkannya?"Seseorang yang baru saja datang tiba-tiba, bertanya membuat wanita itu menolehkan kepalanya. Lalu tersenyum begitu mendapati suaminya yang baru pulang.
Pria itu keluar sebentar untuk membeli seblak dan ia memilih menunggu sambil menonton tv, siap sangka ia akan melihat pesta pernikahan Kairan yang di siarkan langsung.
Ya, wanita itu adalah Amna,"Tidak, aku memiliki kamu! Untuk apa aku mengharapkan yang lain, hanya kamu yang melihat batu krikil ini layaknya berlian." Ucapnya tanpa kebohongan.
Air mata yang menetes itu bukanlah air mata kesedihan ataupun kekecewaan. Amna kagum dengan apa yang didapatkan Ela, tapi dia tidak cemburu sedikit atau merasa iri.
"Jangan pernah berkata seperti itu, kamu sangat berarti buat aku." Ucap sang Pria, lalu menghampiri Amna dan memeluknya dengan erat tanpa menyakiti wanita-nya juga calon anak mereka.
" Aku merasa lega, melihat Kairan telah menikah dan bisa kembali berjalan, semoga mereka segera diberikan momongan." Ucapnya tulus diamini suaminya. " Mana seblak-nya anak kita sudah sangat lapar." Lanjutnya sembari mengambil kantung plastik dari tangan suaminya kemudian melangkah ke dapur diikuti pria itu dengan bibir yang melengkung sempurna karena perlahan-lahan istrinya mulai melupakan mantan kekasihnya.
Disaat Amna dan suaminya tengah menyantap seblak berdua. Ditempat lain Kairan mengantar Ela untuk masuk kedalam kamar hotel yang telah ia siapkan untuk mereka berdua.
Wanita itu mengeluh lelah juga kakinya yang mulai lecet, bagaimana tidak ia harus kesana kemarin dengan heels setinggi 10 cm, menyapa tamu yang di undang suaminya.
__ADS_1
Semakin malam bukan berkurang, tamu undangan justru semakin banyak seakan tak ada habisnya.
Syukurnya saat ia mengeluh lelah dan kakinya perih, pria itu langsung mengantarnya ke kamar mereka, jika tidak mungkin Ela sudah pingsan di ballroom tempat diadakannya pesta pernikahan mereka.
Entah apa yang merasuki suaminya itu, hingga tiba-tiba menyiapkan pesta semegah ini.
"Kamu benar-benar gila." Ucap Ela, sembari memijit betisnya.
Kairan tersenyum, lalu berjongkok mengangkat kedua kaki Ela untuk ia letakkan di atas pahanya, lalu memijit.
"Aku melakukan semua itu agar semua orang tahu kamu itu istriku." Jawab Kairan dengan begitu santainya.
Membuat Ela geleng-geleng kepala, sungguh konyol sekali pria ini. " Cih, menyebalkan."
Kairan tersenyum." Sekarang kamu tidak akan bisa mengaku gadis lagi di depan semua teman-teman kamu seperti waktu itu. " Sahut Kairan.
Ela memutar bola matanya malas, menyebalkan sekali pria ini, tidak hanya menghukumnya di atas ranjang juga melakukan hal segila ini untuk mengikatnya.
__ADS_1