
"Ela tunggu! Jangan pergi." Kai berusaha untuk menahan istrinya itu dengan memintanya untuk tidak pergi tetapi wanita itu tidak mengindahkan permintaan Kai.
Hingga membuat Kairan tidak punya pilihan selain beranjak dari kursi roda itu dan berlari untuk menyusul Ela.
Bahkan pria itu tidak peduli dengan keterkejutan Lita dan Hani.
"Dia bisa jalan?"
"Kita di bohongi selama ini?"
Ucapan kedua wanita itu sempat terdengar di telinga Kairan dan sekali lagi pria yang selama ini berperan sebagai orang lumpuh itu, tidak memikirkan ucapan mereka, sebab yang dia pikirkan sekarang ini hanyalah Naela, Naela dan Naela saja.
Kairan berlari dengan cepat, pria itu mengulurkan tangannya, sebelum pintu lift yang di masuki Ela tertutup.
Bahkan Pria itu sudah siap mendapat amukan dari Ela, karena kebohongannya berpura-pura lumpuh selama ini.
__ADS_1
" Ela." Panggil Kai, pria itu berpikir Ela akan terkejut atau bertanya kenapa dia bisa berjalan, namun Ela justru menunjukkan ekspresi biasa saja membuat Kairan terkejut dan dan bingung.
" Kenapa? Berharap aku percaya, kamu nggak bisa jalan! Atau kamu ingin membuktikan aku tulus atau tidak?" Tanya Ela penuh dengan nada menyindir, Sebab di dalam lift itu hanya mereka berdua.
" Maaf, aku nggak bermaksud_"
" Nggak papa kok bang, lanjutkan aja! Toh Ela udah biasa abang jadiin bahan candaan, lanjutkan aja bang! Ela nggak akan marah, memangnya Ela siapanya bang Kai." Ucap Ela dengan tenang namun setiap kata yang keluar dari bibirnya, bagaikan pisau yang menikam tepat pada jantungnya, namun wanita itu teta bersikap tegar dan tidak ingin menunjukkan kelemahannya di depan pria yang dia cintai.
" Kamu berhak marah sama aku, El. Jangankan marah, kamu pukul aku pun silahkan, kamu itu istri aku kamu berhak melakukan apapun kepadaku, karena aku salah dan telah mengecewakan kamu." Kairan melangkah mendekati, lalu menangkup wajah istrinya itu.
" Lihat aku, aku hanya cinta sama kamu."
Ela langsung menendang kaki Kairan tepat pada tulang kering pria itu, membuat Kai mengadu kesakitan.
" Dasar breng-sek, pembohong! Semua yang keluar dari mulut kamu itu hanya kebohongan." Tidak hanya menendang, ia juga memukul pria yang berstatus suaminya itu dan Kairan pun hanya menerima semua pukul Ela, dia ikhlas menjadi samsak untuk istrinya itu demi mendapatkan maaf dari Ela.
__ADS_1
Ting.
Bunyi pintu lift yang terbuka, membuat Ela menghentikan pukulannya pada Kairan. wanita itu menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan setelah ia berdiri dengan angun lalu meraih tasnya yang sempat terjatuh.
Setelah itu ia melangkah keluar dari dalam lift dengan langkah lebar sembari tersenyum manis walaupun lobby rumah sakit itu terlihat sepi di susul Kairan sembari meringis menahan sakit pada sekujur tubuhnya.
Ela tahu, apa yang dia lakukan itu sangat keterlaluan, tapi bagaimana lagi, setiap kali mendengar kata cinta yang keluar dari bibir Kairan. Emosi Ela langsung tersulut seketika.
Dan semua ini karena kesalahan Kairan sendiri, dia yang selalu berkata cinta tapi esoknya bermesraan dengan wanita lain, di depan mata Ela. Jadi tidak salah jika Ela selalu marah dan lepas kendali saat mendapatkan ucapan cinta itu.
" Sayang kamu mau kemana." Tanya Kairan, pria itu masih meringis sembari terus mengikuti langkah Ela.
" Bukan urusan kamu." Jawab Ela. " Dan stop ikuti aku atau kamu ingin merasakan lebih dari yang tadi." Ancam wanita itu, namun Kairan hanya menaikkan kedua bahunya tak peduli.
Dipasrah jika malam ini harus berakhir di tangan istrinya." Sebelum kamu melakukan sesuatu yang lebih kejam lagi padaku, boleh aku meminta permintaan terakhir." Ela langsung mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Wanita itu melihat kedua tangannya di dada lalu mendekati Kairan. " Apa keinginan terakhirmu?" Ucap Ela.
"Sebelum kamu menghukum aku, aku ingin meninggalkan calon penerusku terlebih dulu! Kamu tahukan, aku anak satu-satunya, paling tidak kalau aku mati, hartaku ada yang mewarisi dan keluargaku tidak terputus sampai di aku saja." Ucap pria itu dengan konyolnya, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.