
" Selamat pagi sayang." Ucap Kai dengan begitu lembutnya sembari mengusap pipi Ela, ketika wanita itu membuka kedua matanya, Karena terusik dengan apa yang di lakukan Kai saat ini.
" Pagi bang!" Ela membalas sapaan Kai, lalu menarik tangan pria itu dari pipinya, sebab wanita itu tidak suka apa yang di lakukan Kai kepadanya, karena itu membuat dia semakin kehilangan kendali atas dirinya jika dia membiarkan Kai melakukan hal itu lebih lama lagi.
" Kenapa, kamu tidak suka?" Tanya Kai. Terlihat jelas diwajahnya jika dia sedikit kecewa dengan sikap Ela.
Wanita itu menggeleng kepalanya sebagai jawaban. " Aku harus menyiapkan Keperluan Abang, bukankah pagi ini bang kai ada pertemuan dengan klien penting." Ucap Ela, ia tidak sepenuhnya berbohong karena semalam Kai sudah mengatakan hal ini kepadanya Sebelum mereka tidur.
" Kamu yakin hanya karena itu, bukan karena ingin menghindari aku?" Tanya Kairan, pria itu masih berbaring di tempat tidurnya sementara Ela telah beranjak duduk.
"Tentu saja! Lagian untuk apa aku menghindari bang Kai." Ucapnya sembari tersenyum, walaupun saat ini dia begitu gugup.
Sebab perasaannya kepada Kai yang selama ini ia pendam semakin besar, jika dia tidak segera menghindar mungkin dia yang akan mencengkeram pria itu lebih dulu.
" Ya kamu benar, untuk apa kamu menghindari aku, sementara kita sama-sama tahu kalau kamu tidak memiliki perasaan sedikitpun kepadaku, kamu menikahi aku pun karena kasihan kepada kakek." Kata-kata yang keluar dari bibirnya saat ini, untuk menyadarkan dirinya sendiri agar tidak banyak berharap kepada wanita itu, walaupun kenyataannya dia begitu berharap suatu hari Ela bisa membalas perasaannya.
" Aku ingin memelukmu, bisakah kamu mengizinkan aku melakukan hal itu." Tanya Kairan, seraya menatap penuh harap wanitanya.
__ADS_1
" El." Panggil Kairan lagi, karena wanita itu masih diam di tempatnya, ia tidak menolak tidak juga mengiyakan," aku mohon ini hanya sebentar dan tidak akan ada lebih."lanjutnya sembari membuka kedua tangannya kepada Ela.
Ela yang juga menginginkan hal yang sama, langsung menjatuhkan tubuhnya di atas Kairan, membiarkan pria itu memeluk tubuhnya sepuasnya.
" Aku mencintai kamu, Nayla Azzu_hmmp." Kairan tidak dapat melanjutkan kata-katanya, karena Ela sudah lebih dulu membekap mulutnya.
"Jangan mengatakan apapun bang." Ucapnya. Karena dia tidak ingin merasakan sakit yang sama dari kata-kata cinta itu.
Dan Kairan pun hanya menuruti keinginannya. Keduanya berpelukan dalam diam untuk menyalurkan perasaan satu sama lain.
Andai Ela mau sedikit terbuka dan percaya kepada kairan, mungkin hubungan mereka tidak akan serumit ini.
" Oke tapi masih bisa lagi-kan." Tanya Kairan, karena memeluk tubuh wanita itu saja sudah senang banget, apalagi bisa lebih dari itu pasti lebih senang lagi.
" Apa?" Ela balik bertanya kerena tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Kairan, sembari mengambil kursi roda kemudian mengitari ranjang mereka, sehingga ia dapat dengan mudah membantu Kairan.
" Peluk kamu sayang, lebih juga kalau bisa." Jawab Kairan membuat wajah Ela, bersemu namun pria itu tidak dapat melihatnya sebab terhalang rambut Ela yang tergerai menutupi sebagian wajahnya.
__ADS_1
"Bang ngomong apa sih! Cepat nanti bang Kai telat loh berangkat kerjanya." Ucap Ela sengaja tidak ingin membahas apa yang baru saja di katakan suaminya itu. Dan Kai pun menurut dengan tidak membahasnya lagi.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Sementara itu di tempat lain, Amna sedang duduk di halaman rumah suaminya, rumah itu terlihat sederhana tapi menjadi satu-satunya tempat untuk dia berlindung saat ini.
" Sayang kamu lagi ngapain pagi-pagi bengong disini." Tanya sang suami sembari ikut duduk bersama Amna di depan teras rumahnya.
" Nih!" Ucap Amna sembari menyerahkan ponselnya kepada sang suami.
Pria itu kemudian melihat isi chat dalam ponsel itu lalu bertanya. " Kamu masih berteman dengan mereka."
Mereka yang di maksud suaminya Amna adalah Lisa dan Nahla. " Aku bukannya ingin melarang kamu, tapi untuk kebaikan kamu sendiri, sebaiknya kamu berhenti berteman dengan mereka, mereka tidak baik buat kamu." Amna menatap wajah suaminya lama. " Mereka hanya akan mengejek kamu dengan apa yang mereka dapatkan saat ini, sayang dengarkan aku, aku cinta sama kamu, walaupun aku tidak dapat memberikan kemewahan kepada kamu, tapi akan aku pastikan dengan kedua tangan dan kakiku. Kamu tidak akan kekurangan selama kamu bersyukur dan jauh dari pertemanan seperti mereka." Lanjutnya.
" Lalu bagaimana dengan orang tuaku." Tanya Amna.
" Bilang keadaan sudah membaik kita akan datang menemui mereka untuk minta maaf, karena kita memang salah dan aku percaya suatu saat kita pasti akan mendapatkan maaf dari mereka termasuk pria itu." Jawabnya dengan yakin, membuat Amna sedikit tenang.
__ADS_1
Karena perlahan namun pasti, wanita itu mulai terbiasa dengan keadaannya saat ini. Lagian untuk apa kekayaan dan pria tampan serta hebat seperti Kairan kalau nyatanya ia tidak di hargai dan di cintai.
Sebab seburuk apapun dia, dia juga ingin di hargai serta di Cintai seperti Ela. Tak apa jika lelaki itu bukanlah Kairan karena dia juga bukan Ela yang bisa mendapatkan segalanya.