
Hari itu mereka berencana untuk membicarakan kelanjutan hubungan mereka, tapi karena kesibukan masing-masing, keduanya belum sempat untuk membicarakan itu semua.
Ditambah kesehatan kakeknya Kai yang terlihat semakin membaik, tidak begitu memikirkan keinginan kakeknya Kai lagi.
" Kamu mau kemana?" Tanya sang kakek begitu Kairan berjalan dengan terburu-buru.
" Kai mau ke bandara untuk menjemput Narendra dan Hani." Jawabnya.
" Apa wanita itu sudah di temukan?" Kairan mengangguk sebagai jawaban."Terus kapan kamu akan jujur kepada Ela." Tanyanya lagi.
" Entahlah, mungkin nanti." Jawab Kairan.
" Jangan terlalu lama! Jangan sampai dia mengetahui dari orang lain dan merasa kamu membohonginya walaupun kenyataannya memang seperti itu." Ucap lelaki paruh baya itu, untuk mengingatkan cucunya.
Pasalnya kalau Ela tidak berada di rumah Kai tidak pernah lagi menggunakan kursi roda dan hanya mengunakannya di depan keluarga istrinya dan Ela saja.
"Baik kakek, aku akan berbicara dengan cucu menantumu begitu urusanku selesai. Aku pergi dulu." Lelaki itu pun meninggalkan mansion keluarga mereka setelah mendapatkan anggukan dari kakeknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah drama panjang dengan Hani di rumah sakit kemarin, Pasangan suami istri itu memutuskan untuk menemani keduanya di rumah sakit malam ini karena Ela juga ingin melepas rindu dengan kedua sahabatnya.
" Kamu sudah siap! Kita pergi sekarang?" Tanya Kai, ketika melihat Ela beranjak dari tempat duduknya usai berias.
" Hmm, tapi sebelum itu kita mampir terlebih dulu untuk membeli makanan buat Hani dan Lita." Jawab Ela.
" Tidak perlu sayang, kita langsung ke rumah sakit, nanti asistenku yang akan membelikannya , katakan saja apa yang kamu inginkan." Ujarnya lalu keduanya pun keluar dari kamar mereka dengan Ela yang mendorong Kursi roda Kairan, menuju lift.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=
Setengah jam berlalu, keduanya kini sudah berada di rumah sakit dan langsung menuju ruang rawat Hani." Selamat malam bumil lagi makan apa?" Sapa Ela, sembari menghampiri ranjang Hani, wanita itu sedang asyik menikmati cake yang baru saja di belikan oleh Narendra untuknya.
" Nih! Kamu mau?" Tawar Hani sembari menunjuk cake di tangannya, namun Ela justru menggeleng kepalanya.
Cake itu berlimpah dengan lelehan coklat dan yang pasti membuat kaum hawa semakin tergiur untuk mencicipinya, begitu pun dengan Ela.
Hanya saja dia baru habis makan malam dan sudah makan terlalu banyak makan manis-manis hari ini.
" Nggak sayang, buat kamu dan keponakan-keponakan aku aja yang makan." Sahut Ela.
Hani pun melanjutkan makannya, sementara Ela mendorong kursi roda Kairan agar pria itu bisa bergabung bersama Narendra yang sedang duduk di sofa.
Setelah itu ia kembali bergabung bersama Hani, mereka mengobrol bersama sembari Menikmati cake yang Hani makan, awalnya Ela tidak ingin ikut makan tapi karena melihat Hani yang makan dengan begitu lahapnya ia pun tergoda untuk ikut menyantap cake itu.
"Iya dua hari kedepannya aku libur jadi aku ingin menghabiskan waktu bersama kalian berdua sebelum kamu kembali ke Bali nanti." Jawab Ela.
Rencananya begitu Hani keluar dari rumah sakit, Ela akan langsung kembali ke Bali karena dia memiliki banyak pekerjaan di sana dan Hani tahu akan hal ini.
"Kamu mau kopi?" Lita menawari Kairan kopi, Setelah dia memberikan segelas kopi pesanan Narendra, kepada pria itu.
" Kalau boleh." Ucap Kai dan Lita pun memberikan kopi pesanannya kepada suami dari sahabatnya itu.
Setelah itu dia bergabung bersama Hani dan Ela di ranjang Hani.
Ketiganya pun mulai Asyik bercerita sembari bercanda tanpa menghiraukan kedua pria yang juga tengah asyik membahas sesuatu, itu.
__ADS_1
Hingga Ela memberitahu berita yang cukup mengejutkan, wanita itu berkata. "Minggu depan kak Arga sama Lisa akan menikah di Bali, kamu ikut nggak Han?"
" Apa! Ini serius?" Alih-alih menjawab pertanyaan Ela, Hani justru balik bertanya.
" Tentu saja! Tanya tuh Mereka kalau nggak percaya." Jawabnya sembari menunjuk kepada Narendra dan Kairan.
" Kok mendadak? Apa jangan-jangan Lisa_"
" No! Kamu salah Hani sayang, Lisa tidak kenapa-kenapa, justru karena dia takut bernasib sama seperti Nahla dan Amna, makanya itu dia maksa kak Arga untuk segera menikahinya. Tau sendiri kan bucin-nya kak Arga ke Lisa tuh kaya gimana! Dia langsung nurut gitu aja. Mama dan papa serta kakek udah minta dia untuk memikirkan semuanya lagi dan jangan terburu-buru. Tapi kak Arga tetap Keukeh pada pendiriannya." Jelas Ela panjang kali lebar.
" Bagus dong, setidaknya dia sudah keluar dari keluarga Xavier dan tidak menjadi benalu lagi di sana." Sahut Lita dengan entengnya.
" Tapi dia jadi bagian dari keluarga aku dan aku tak suka itu. Menyebalkan rasanya harus menerima kenyataan punya ipar seperti dia! Aku lebih berharap jodoh kak Arga itu kamu, bukan dia_"
" Dan aku tidak mengharapkan doa_mu itu." Sela Lita, seraya memandang tak suka kepada sahabatnya.
"Hello, Lita sayang mau sampai kapan kamu berpikir seperti itu, buka mata kamu dan lihatlah tidak semua pria itu sama." Ela berkata sambil mencubit kedua pipi Lita, membuat wanita itu semakin kesal kepadanya.
" NAELA AZZURA." Sentak Lita sembari menghempaskan tangan Ela dari kedua pipinya." Kamu menyebalkan, dasar nyonya masih gammpp_"
Ela langsung membekap mulut Lita sebelum wanita itu sempet menyelesaikan ucapannya. " Aku akan membunuhmu kalau kamu sampai meneruskan ucapanmu itu." Ancamannya. Kedua wanita itu tidak sadar candaan mereka saat ini, membuat mereka tanpa sadar menindih kaki Hani yang berada di tengah-tengah mereka berdua.
" Ela, Lita kalian menindih kaki ku." Tegur Hani
"Maaf" Ucap keduanya kompak sembari menjauh dari Hani.
" Kalian ini." Keluh wanita hamil itu sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara ke-dua wanita itu hanya tertawa sembari menunjukkan deretan gigi mereka.
__ADS_1
Keributan yang di lakukan ketiga wanita itu, hanya di lihat saja oleh KAI dan Rendra. Sebab kedua pria itu mengerti bagaimana mereka saat berkumpul, pasti akan saling mengusili juga, seperti yang di lakukan Hani dan kedua sahabatnya itu.