Istri Pengganti Tuan Lumpuh

Istri Pengganti Tuan Lumpuh
Baru sehari.


__ADS_3

Malam Harinya, semua orang telah pulang ke rumah masing-masing, tinggal Kai dan Ela yang masih berada di ruangan itu untuk menemani kakek mereka.


Sudah satu jam berlalu setelah Luna dan yang lainnya pamit pulang. Tapi baik Ela maupun Kai tidak ada yang mengeluarkan sepatah-katapun, seperti biasanya saat kedua orang itu bertemu.


Mereka sama-sama diam, hingga membuat ruang itu Hening. Sampai kai- lah yang lebih dulu menyudahi keheningan di antara mereka.


" Kamu lapar Nggak El?" Dari sekian banyak pertanyaan, hanya pertanyaan itu yang terlintas di benak Kai.


" Menurut kamu." Jawab Ela dengan mode judesnya. " Kalau nggak bisa menghidupi anak orang, nggak usah sok-sokan nikah deh." Lanjutnya. Membuat Kai menatap bingung wanita yang kini telah menjadi istrinya itu.


Wanita yang dia cintai, sejak pertama kali, dia datang ke rumah Narendra waktu itu.


Kairan masih diam, tanpa mengalihkan pandangannya dari Ela, pasalnya dia cuma bertanya lapar nggak! Kalau iya kan dia bisa pesan makanan untuk mereka, tapi kenapa Ela justru balik bertanya dan yang paling tidak masuk akal, hubungannya apa Antara pertanyaan Kai dan dia bisa hidup-in anak orang atau tidak.


Jangan kan buat menghidupkan Ela, hartanya bahkan lebih dari cukup untuk mensejahterakan mereka, tujuh turunan, delapan tanjakan.


Kairan tidak tahu saja, jika istrinya itu adalah jelmaan wanita yang sesungguhnya. Tidak pernah bisa langsung ke intinya.


" Oke maaf! Mau makan apa?" Kali ini Kai memilih mengalah, sembari mengambil ponselnya, bersiap untuk menghubungi asistennya, yang akan membeli mereka makanan.


Tapi siap sangka jawab Ela membuat, Kai mengelus dadanya. " Terserah." Emangnya ada menu makanan terserah.

__ADS_1


" Ya udah aku pesan aja ya."


" Hamm."


Tak ingin berdebat dengan sang istri, Kai pun memesan makanan kesukaan Ela. Berharap wanita itu akan senang dengan bentuk perhatiannya.


Tapi sayangnya semua itu hanya berada dalam angan Kai seorang. Karena begitu pesanan makanan, mereka datang.


Ela kembali membuatnya pusing. " Kenapa kamu pesan ini, aku nggak mau makan itu ya, Kai."


" Terus kamu mau makan apa, El! Hmmm." Kai masih berusaha untuk sabar menghadapi semua tingkah Ela.


" Terserah, yang jelas aku nggak mau itu." Kai menarik nafas panjang, baru sehari ini loh, kenapa rasanya berat sekali.


" Nggak."


Kai terus menyebut menu makan yang di tahu Ela juga suka, tapi jawaban wanita itu tetap sama. Nggak, Nggak dan Nggak.


" Ela." Panggil Kakek yang baru saja terbangun, karena terganggu dengan perdebatan pengantin baru itu.


" Iya kek! Kakek butuh sesuatu?" Tanya Ela, seraya menghampiri kakek mereka. Raut wajah Ela yang tadinya judes kini langsung berubah, tersenyum ramah kepada kakek mertuanya.

__ADS_1


" Haus." Ucap kakek begitu pelan, hampir tak terdengar.


" Kakek mau minum! Sebentar ya Ela ambil-in." Wanita itu kemudian mengambil air minum, untuk kakeknya Kai, lalu membantu kakeknya minum, mengunakan sedotan.


" Sudah nak!" Ela pun meletakkan sisa air itu di tempat semula. " Kenapa belum ganti baju?" Tanya kakek, saat melihat Ela masih mengunakan kebaya yang sama dengan yang dia gunakan siang tadi.


" Tadi kita langsung kesini kek, makannya nggak sempat buat ganti baju." Belum sempat Ela membuka mulutnya untuk menjawab, Kai sudah lebih dulu menjawabnya.


" Dimana suster dan pelayan yang biasanya mengurus kakek?" Tanya pria sepuh itu lagi.


" Mereka sedang keluar kek." Jawab Kai seadanya.


Pria sepuh itu mengangguk, kemudian meminta Ela dan Kai untuk pulang. karena dia tidak ingin keadaannya membuat kedua cucunya itu menghabiskan malam pertama mereka di rumah sakit.


Naela sebenarnya langsung menolak permintaan kakeknya, tapi karena kakek terus mendesak, mereka pun akhirnya menurut saja.


Naela.



Kairan.

__ADS_1



__ADS_2