
" Kakek berharap, dia segera melupakan wanita itu dan belajar untuk mencintai kamu nak." Lanjutnya.
Mendengar ucapan Kakek mertuanya! Membuat Ela tersenyum getir, lagian apa yang bisa dia harapkan dari seorang Kairan.
Sejak awal pria itu hanya ingin bermain-main dengan perasaannya tanpa memikirkan apa yang dia rasakan.
Andai saja hati dia buatan manusia mungkin sudah hancur lebur sejak lama, sayangnya Hati yang Ela punya buatan tuhan, sehingga ia tetap kuat walaupun sakit yang dia rasakan tidak berdarah.
" Kakek jangan terlalu memikirkan kita berdua! Sebaiknya kakek pikiran kesehatan kakek, agar kita bisa berkumpul bersama di rumah." Sahut Ela.
Wanita itu tidak ingin berbicara lebih jauh tentang perasaan Kairan karena dia tahu, itu hanya akan membuatnya semakin sakit hati.
"Kakek tahu, apa yang kamu rasakan dan kakek minta maaf sudah melibatkan kamu dengan hubungan yang rumit ini, namun kakek percaya suatu saat kalian akan hidup bahagia." Ucap pria paruh bayah itu lagi dan ia selalu berharap yang terbaik untuk kedua cucunya itu.
" Amiin." sahut Ela dalam hatinya sembari memaksa kedua sudut bibirnya untuk tertarik keatas membentuk sebuah senyuman.
Ceklek.
Pintu kamar ruang rawat inap itu terbuka, Kai masuk kedalam ruangan itu tanpa di bantu siapa pun.
__ADS_1
Dari tempatnya KAI dapat melihat sang istri dan kakeknya tengah berbicara sesuatu yang serius, namun keduanya sengaja berhenti begitu dia datang.
" Apa kalian sedang membicarakan aku?" Tebak Kairan dengan percaya dirinya, Sayangnya apa yang di ucapkan pria itu sepenuhnya benar.
" Apa yang aku dan kakek bicarakan tidak semuanya tentang kamu, benar kan kek?" Sahut Ela sembari meminta dukungan pria sepuh itu.
" Ya! Yang di katakan Ela memang benar." Ujar sang kakek.
" Baiklah terserah kakek saja." Sahut Kai mengiyakan ucapan istri dan kakeknya, karena tidak ingin banyak berdebat dia ingin menikmati kebersamaan mereka.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Seperti saat mereka pergi, saat pulang pun Ela lebih memilih untuk diam, walaupun Kai sudah sering mengajaknya berbicara namun wanita itu tetap mengabaikannya hingga keduanya tiba di mansion keluarga Kairan.
Tidak seperti semalam, Hari ini Ela tidak menunggu Kairan sedikit pun. Begitu ia keluar dari mobil yang mengantar mereka, Ela langsung masuk kedalam mansion tanpa ingin menunggu.
"Kenapa suasana hatimu cepat sekali berubah dan selalu menganggap aku salah." Tanya KAI sembari menatap punggung wanita itu yang perlahan menjauh darinya.
Kairan pun di bantu sang supir menuju kamar yang pagi tadi dia gunakan untuk Menganti pakaiannya.
__ADS_1
Dan siang tadi sebelum dia dan Ela pergi, pria itu telah meminta Bi Ina untuk memindahkan beberapa potong pakaiannya ke kamar itu.
Setibanya di kamar itu, Kairan langsung beranjak berdiri dari kursi roda, kemudian mengunci pintu itu agar tidak ada yang mengetahui keadaannya yang sebenarnya atau lebih tepatnya Ela tidak mengetahui keadaannya.
Setelah itu ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Selesai membersihkan dirinya dan berganti pakaian, Pria itu langsung menuju kamar mereka untuk beristirahat.
Ketika dia melangkah masuk kedalam kamarnya itu, bersamaan dengan Ela yang juga keluar baru keluar dari walk in closed mereka.
Wanita itu mengunakan kemeja putih milik Kairan dan hanya menguntungkan ****** ******** saja tanpa mengunakan penutup aset bagian atasnya.
Ela sempat melirik sesaat Kepada Kairan, sebelum pria itu berjalan ke arah ranjang dan bersiap-siap untuk tidur namun suara Kairan menghentikan langkahnya. " Kita harus bicara El." Ucap Pria itu membuat Ela mengurungkan niatnya untuk berbaring, lalu berbalik menatap kepada pria yang berstatus Suaminya itu.
" Apa yang ingin kamu bicarakan lagi?" Tanya Ela, wanita itu Sengaja menunjukkan ekspresi tidak sukanya kepada Kairan.
" Hubungan kita, apa kamu tidak ingin menjalani hubungan normal? apa kamu tidak ingin seperti pasangan lainnya." Tanya Kairan membuat wanita itu tersenyum.
" Sekarang aku tanya dengan pertanyaan yang sama! apa jawabanmu." Ela sengaja membalikkan pertanyaan itu.
__ADS_1