
Setengah jam berlalu, Ela dan Kai kini telah duduk berhadapan di ruang makan sembari menikmati sarapan mereka.
Disela-sela waktu sarapan, Ela hanya memasang ekspresi datar dan kurang bersahabat. " Pagi ini aku akan berangkat ke kantor, karena ada meeting yang tidak bisa di wakilkan." Ucap KAI sembari memasukkan potong roti yang telah di olesi selai kacang itu kedalam mulutnya.
Pandangan pria itu tidak berpindah sedikit pun dari wajah istrinya yang berada tepat dihadapannya.
Melihat wajah sang istri membuat nafsu makannya semakin bertambah Sayangnya masih ada yang kurang di wajah itu.
Senyum, andai istrinya itu mau sedikit saja tersenyum kepadanya, mungkin pagi ini akan menjadi pagi paling cerah di hidupnya, mengalah cerahnya mentari di luar sana.
" Terus! Aku harus apa?" Tanya Ela sembari menikmati sandwich-nya.
"Kamu tidak perlu melakukan apapun! Cukup berikan aku senyum termanis mu untuk aku mengawali pagi ku, sayang." Sahut Kai membuat Ela memutar bola matanya jengah.
__ADS_1
" Apa ini trik sama yang kamu lakukan untuk mendapatkan hati Amna juga, sayang sekali aku tidak akan tertipu dengan kebohonganmu lagi, tuan Kairan yang terhormat." Ucap wanita itu kemudian meletakkan sendok yang ia gunakan di atas piring makannya, lalu mengambil gelas berisi air putih di hadapannya, kemudian meneguknya sampai habis.
Tuk.
Ela meletakkan gelas itu dengan begitu kasar ditempat semula, sehingga terdengar bunyi sampai ke telinga pelayan dan bi Ina yang berada tidak jauh dari mereka berdua. " Aku sudah selesai." Lanjutnya, kemudian beranjak dari tempat duduknya itu, meninggalkan Kai yang hanya bisa terdiam sembari melihat punggung Ela yang perlahan menjauh sebelum hilang di balik dinding pembatas ruangan itu.
" Tuan, anda baik-baik saja?" Tanya Bi Ina, wanita paruh bayah itu menatap Iba kepada tuan mudanya itu. Namun tidak dapat melakukan apa-apa untuk membantu.
Karena Wanita itu tidak begitu tahu hubungan Kai dan Ela seperti apa. Hati kecilnya bahkan sempat menyalahkan Ela atas perbuatannya barusan namun buru-buru ia menepis hal itu.
" Baik tuan," jawab bi Ina, samar-samar masih terdengar di telinga Kairan.
Setelah Kairan pergi, bi Ina pun naik ke kamarnya tuanya itu dengan Ela, untuk menyampaikan pesan Kairan kepada sang nyonya barunya.
__ADS_1
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Sesuai janjinya pagi tadi, tepat pukul dua belas siang, Kairan tiba di mansion keluarganya. Pria itu nampak terlihat sedikit lelah, namun semua itu hilang saat melihat wajah Ela.
Wanita itu sudah siap. Sehingga tidak ada drama-drama menunggu lagi.
" Hai sayang, Kita pergi sekarang?" Tanya KAI mencoba bersikap romantis dengan istrinya itu. Namun Ela justru menatapnya horor.
" Jangan merusak mood-ku dengan gombalanmu itu. Kau membuat aku ingin muntah." Ucapnya sembari memasang wajah judesnya sembari mendapatkan bokongnya di samping kai pada jok belakang.
Berbeda dengan Hatinya yang tidak kuat menahan pujian dan godaan sang suami. Andai Kairan tahu semua yang Ela katakan itu hanya untuk membentengi dirinya agar tidak terjatuh dalam bujuk rayunya. Mungkin pria itu akan berjingkrak-jingkrak kesenangan karena nyatanya cinta yang dia punya untuk Ela tak bertepuk sebelah tangan.
" Kamu sudah makan siang? Bagaimana kalau kita makan siang terlebih dulu sebelum menjenguk kakek." Kai tidak mengambil Hati ucapan Ela sebelumnya, pria itu justru menawarkan untuk makan siang bersama sama namun sekali lagi Ela langsung menolak rencana itu mentah-mentah.
__ADS_1
" Kita langsung ke rumah sakit saja! Kasihan kakek tidak ada yang menemani." Ucapnya kemudian memandang kearah kaca mobil, begitu mobil itu bergerak dengan perlahan meninggalkan mansion tempat tinggal mereka.