
"Mau kemana?" Tanya Kairan, saat ia merasakan pergerakan Ela, pria itu meraih ponselnya di atas nakas, menyalakan layar ponsel itu untuk melihat jam yang tertera di sana. masih pukul 03:00.
"Toilet." Jawab Ela pelan, Kairan pun melepaskan pelukannya dari pinggang wanita itu.
Setelah mendengar pintu kamar mandi terbuka dan tertutup lagi, Kairan kembali memejamkan matanya usai meletakkan ponselnya ke tempat semula.
Saat ia hampir terlelap, lelaki itu kembali membuka kedua matanya saat merasakan kehadiran seseorang orang merangkak diatasnya.
"Sayang, Kenapa hmm." Tanya pria itu lembut dengan suara seraknya.
"Nggak papa bang! Cuma sedikit nyeri di perut." Jawabnya pelan sembari membenamkan wajahnya pada dada Kairan.
"Tamu bulanan." Tanya Kairan, langsung diangguki Ela." Sini sayang, lebih keatas." Pinta Kairan.
Ela pun menuruti ucapan Kairan. Kini wajahnya ia benamkan pada leher pria itu sementara Kairan mengusap perut, agar Ela nyaman. " Tidur lagi, besok kerjakan? Atau mau libur aja?"
__ADS_1
"Kerjalah bang! Emangnya rumah sakit punya aku, gimana sih." Jawabnya sedikit kesal. Sedangkan Kairan hanya menanggapi hal itu dengan senyuman.
"Ya udah tidur lagi, sayang." Pinta Kairan lagi, Ela pun mencoba untuk memejamkan matanya lagi, namun rasa sakit di perutnya membuat ia kesulitan untuk terlelap.
Wanita itu turun dari turun Kairan dan berbaring disamping suaminya itu, untuk mencari posisi yang nyaman. Namun rasa nyeri di perut bagian bawah membuatnya kesulitan untuk tidur lagi.
Kairan sendiri juga tidak bisa tidur melihat istrinya seperti itu, ia mengusap perut Ela, pindah ke pinggang begitupun sebaliknya, berharap hal itu bisa membantu Ela agar sedikit meredakan rasa sakitnya, walaupun hal itu nyatanya tidak berpengaruh sama sekali, tapi Kairan tetap melakukannya.
Dan akhirnya Ela pun tertidur setelah hampir satu jam ia berguling kesana-kemari.
Melihat Ela tertidur, Kairan langsung menyelimuti tubuh wanita itu, dia tidak ikut tidur dan memilih mengerjakan pekerjaannya sambil menjaga Ela.
Disaat Kairan tengah berbahagia dengan Ela, Di tempat lain Amna juga sudah mulai menerima keadaannya.
Wanita itu merasa bersyukur karena dipertemukan dengan lelaki hebat seperti suaminya, yang begitu tulus mencintainya serta mau menerimanya apa adanya.
__ADS_1
Walaupun kehidupannya tidak semewah saat masih bersama orangtuanya dan Kairan, tapi Amna benar-benar merasa kebahagiaan dan kehangatan keluarga ada pada lelaki itu, apa yang tidak dia dapat pada Kairan semuanya ada pada suaminya.
Dan Amna tidak menyesali keputusannya waktu itu, walaupun terkadang ada sedikit rasa bersalah kepada Kairan dan kakeknya.
Namun wanita itu selalu berdoa yang terbaik untuk mantan kekasihnya itu, ia juga berharap Tuhan membuka hati Ela untuk Kairan.
"Mikirin Kairan lagi." Tanya seseorang dari belakangnya, membuat Lamunan Amna buyar seketika.
Wanita itu berbalik, lalu menunjukkan senyum terbaiknya untuk pria di hadapannya itu. " Teh kamu mas." Ucapnya memberi segelas teh yang baru ia buat untuk suaminya itu. " Aku hanya merasa bersalah dengan mereka, mana kakeknya sering sakit-sakitan, aku takut apa yang kita lakukan kemarin, akan mempengaruhi kesehatan kakek." Jelasnya.
Pria itu tersenyum mengerti, ia mengambil segelas teh dari tangan istrinya Lalu meminumnya sedikit demi sedikit, kemudian meletakkannya di atas meja.
"Terus berdoa, semoga kakeknya Kairan baik-baik saja." Ucap pria itu seraya mengusap kepala Amna, lalu mencium keningnya dengan sayang.
Setelah itu ia berlutut dihadapan wanita itu, hingga wajahnya berhadapan dengan perut buncit Amna." Selamat pagi, anak papa lagi apa didalam." Tanya pria itu sembari mengecup perut Amna membuat wanita itu kembali tersenyum. " Papa mau kerja kamu sama mama di rumah ya! Ingat nggak boleh minta aneh-aneh, Sama mama." Pesannya. Seakan janin dalam perut istrinya itu bisa mendengar ucapannya.
__ADS_1
Pria itu kembali menincium perut istrinya, lalu berdiri memeluk Amna, mencium kening wanita itu lagi.' Aku tidak peduli seperti apa kamu dulu, seberapa banyak pria yang telah bersama kamu, yang aku tahu aku mencintai kamu, sekarang akulah pemenangnya, akulah laki-laki terakhir itu. Kamu adalah ratuku dengan sekuat tenaga dan cinta yang aku punya, aku akan membuatmu bahagia selama bersamaku.' Ucap pria itu dalam Hatinya.
"Mas berangkat ya! Hati-hati di rumah! Kalau butuh sesuatu telpon mas." Ujarnya, kemudian mengambil gelas teh yang ia letakkan di atas meja dan meminumnya hingga habis, setelah itu ia pun pergi setelah mendapat anggukan dari Amna.