
"Selamat pagi." Bisik Kairan di telinga Ela membuat wanita itu langsung membuka kedua matanya, bukan karena bisikan Kairan saja tapi napas pria itu yang membuatnya kegelian saat menerpa langsung kulit lehernya.
"Bang, geli iihh." Ujar Ela dengan suara serak khas bangun tidurnya, sembari mendorong pria itu untuk menjauh darinya. " Jangan dekat-dekat." lanjutnya.
"Kenapa hmm? Masih marah!" Tanya pria itu lagi, bukannya menjauh, ia justru mengecup pundak dan leher Ela berulang-ulang, membuat wanita itu semakin tak tahan dengan semua itu.
"Bukan gitu bang! Tapi Ela ada ship pagi."Jawabnya sembari menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan suara lauknat-nya.
Lagian wanita mana yang bisa tahan untuk tidak mende-sah jika dihadapkan pada situasi seperti ini. Belum lagi Ela masih ingin perang dingin dengan suaminya itu.
"Berarti kamu sudah tidak marah lagi sama Abang." Ujar pria itu memastikan suasana hati istrinya.
"Bukan gitu juga! Ela juga masih marah sama bang Kai, sana jauh-jauh." Ucapnya mencoba membentak pria itu, agar menjauh darinya.
Tapi bukannya menjauh, Kairan justru semakin berani, pria itu kini sudah membalikkan tubuh Ela lalu menindihnya.
"Masih marah?" Tanya Kairan lagi, membuat Ela memutar kedua bola matanya malas.
__ADS_1
Apa pria ini sengaja menulihkan telinganya atau dia hanya ingin menggoda Ela, sebab Ela sudah menjawabnya dengan jelas tadi jika di masih marah kepada pria itu lalu kenapa dia masih bertanya lagi, sungguh menyebalkan bukan.
"Bang, Ela masih marah sama Abang, apa itu kurang jelas!"
"Mau sampai kapan, tidak bisakah kita mengakhiri ini semua, aku sungguh tersiksa Ela." Kairan berkata sembari menelisik wajah Ela yang berada di bawahnya. " Aku minta maaf Ela, bisakah kita melupakan semua itu dan memulai dari awal, kita sudah menikah sekarang dan kita juga sama-sama tahu perasaan satu sama lain. Kamu cinta sama, aku juga sangat mencintaimu." Sambungnya lagi.
Pria itu menunduk untuk mencium bibir Ela, namun wanita itu dengan cepat menahan dadanya.
" Aku harus berkerja." Ucapnya tanpa menyahuti ucapan Kairan, kemudian mendorong dada pria itu sekuat tenaga agar menyingkir dari tubuhnya, setelah terlepas.
Naela langsung bergegas turun dari tempat tidur itu dan berlari ke kamar mandi, wanita itu juga tidak lupa untuk mengunci pintu kamar mandi itu.
Ela kemudian berjalan ke arah wastafel sembari menatap pantulan dirinya di cermin. " Kenapa kamu begitu bodoh dan lemah kepadanya, baru di rayu sedikit saja sudah langsung luluh, untungnya kamu cepat menghindar." Ucap Ela pada bayangannya di cermin. " Ela lupakan semua ini, sebaiknya kamu mandi dan bersiap-siap untuk berkerja." Lanjutnya sembari mengacak-acak rambutnya frustasi.
Bagaimana tidak hatinya mendorongnya kepada Kairan tapi otaknya terus memutar ulang semua kelakuan Kairan selama ini.
"Aku bisa gila kalau terus begini." Gumamnya sembari melepaskan satu per satu pakaian yang menempel di tubuhnya hingga tak tersisa sehelai pun, kemudian ia berjalan ke arah shower dan mulai membasahi tubuhnya di sana.
__ADS_1
Wanita itu menikmati setiap tetes air yang membasahi rambut dan tubuhnya hingga membuat pikirannya sedikit lebih tenang.
Sementara diluar sana Kairan masih termenung di atas ranjang memikirkan cara apa untuk meluluhkan Hati Ela serta mendapatkan maaf dari wanita itu.
Sungguh Kairan kini benar-benar menyesali perbuatannya dulu, andai dia dapat memutar waktu kembali dia akan memeluk wanita galak itu ketika dia menangis, tapi semua hanyalah sebuah kata andai, sebab ia tidak dapat memutar waktu kembali yang harus dilakukan adalah berjuang untuk mendapatkan maaf dari Ela.
Pria itu kemudian turun dari ranjangnya, ia keluar dari kamar mereka, melangkah masuk kedalam lift turun ke lantai bawah lalu berjalan ke taman belakang dimana taman bunga neneknya berada, walaupun sang nenek sudah lama tiada, tapi taman bunga itu masih di rawat dengan baik oleh kakeknya.
Kairan memetik beberapa tangkai mawar putih, karena sang istri begitu menyukai bunga mawar, warna apa saja pasti dia akan suka selama itu bunga mawar.
Setelah itu Kairan kembali kedalam mansion sembari membawa bunga mawar di tangannya.
Ia mengunakan lift kembali ke kamarnya, setibanya di kamar Kairan melihat pintu kamar mandi telah terbuka, pria itu kemudian melangkah ke arah walk in closed karena dia yakin Ela pasti berada di sana.
" Aakkhh, Bang Kai." Teriak Ela ketika pintu walk in closed itu di buka dari luar, sementara dirinya baru mengunakan dalaman saja.
Kairan menutup matanya sejenak, untuk mengembalikan berkonsentrasi dan tidak langsung menerkam wanita itu, dia tidak ingin membuat Ela semakin marah kepadanya.
__ADS_1
Kairan membuka kedua matanya kembali Dan " Untukmu, istriku." Ucap Kairan sembari menyerahkan bunga mawar yang baru ia petik itu kepada Ela.