
Waktu berlalu bagaikan berlari tidak terasa seminggu sudah hubungan keduanya membaik.
Walaupun keduanya sangat di sibukkan dengan pekerjaan masing-masing, namun Kairan tidak pernah lupa memberikan perhatiannya kepada Ela, pria itu selalu menghubungi Ela hanya untuk sekedar bertanya lagi apa dan sudah makan apa belum di saat ia di sibukkan dengan tumpukan dokumen yang harus segera ia selesaikan.
Bahkan tak jarang ia mengirim makan atau cemilan ke rumah sakit saat istrinya itu sedang bekerja, tidak hanya ke rumah sakit, bahkan saat Ela sedang berada di rumah pun ia pasti akan mengirim sesuatu kepada Ela.
Hingga membuat sang asisten memiliki pekerjaan tambahan, karena pria itu yang selalu direpotkan untuk urusan ini dan itunya.
Bahkan saat pulang kerja pun Kairan tidak pernah pulang dengan tangan kosong, selalu saja ada buah tangan untuk istrinya itu.
Entah itu buket, coklat, perhiasan, boneka atau makanan kesukaan Ela. Seperti sekarang ini. Pria itu membeli buket dan makanan kesukaan istrinya itu.
"Kamu sengaja ya." Tanya Ela sembari meraih kantung kertas dari tangan Kairan beserta buketnya.
"Sengaja apa saya." Kairan bingung dengan ucapan istrinya, ia pun memilih bertanya, kemudian membenamkan bibirnya pada belahan bibir istrinya itu. Mengecupnya singkat, sebelum Ela menarik tangannya untuk mencium punggung tangan Suaminya.
Semenjak baikkan! Ela selalu turun untuk menjemput Kairan begitu melihat mobil suaminya itu masuk gerbang mansion itu dari balkon kamarnya, jika ia masih di rumah sakit maka pria itu akan menyusulnya. Bahkan tak jarang ia menunggu Ela sampai selesai.
Walaupun wanita itu sudah sering mengusirnya untuk pulang dan menunggu di rumah. Kairan selalu punya alasan yang sama agar dia tetap bersama Ela dan akhirnya wanita itu mengalah dan membiarkan Ela melakukan apapun yang dia inginkan.
__ADS_1
"Kamu sengaja ingin buat aku gendut dengan terus memberi aku makanan." Jawab Ela, membuat pria itu terkekeh.
"Sayang! Kenapa takut gendut, justru itu membuat kamu makin cantik dengan pipi chubby ini." Sahut Kairan sengaja mengigit pelan pipi Ela, membuat wanita itu geli sendiri.
"Bang Kai! Apaan sih, geli tahu." Sungutnya tidak suka.
"Maaf jangan marah! I love you. Nyonya Kairan." Ucap Kairan pria itu melingkarkan tangannya pada pinggang Ela lalu membenamkan wajahnya pada leher wanita itu dengan sedikit mendusel-duselnya.
Diperlakukan seperti itu, membuat Ela merasa seakan jutaan kupu-kupu di perutnya. Kakinya sampai lemas, syukurnya Kairan dengan sigap menahan tubuhnya.
"Udah, bang lepas! Sana mandi. Ela udah siapin baju ganti Abang di ranjang." Pria itu mengangguk, lalu melepaskan pelukannya setelahnya ia pun melangkah masuk kedalam kamarnya, sementara Ela menuju ruang makan untuk menghidangkan makanan yang dibeli Kairan sambil menunggu pria itu selesai dan mereka akan maka sama-sama.
"Bang bisa nggak kita nggak usah ke Bali." Tanya Ela, sembari memasukan potongan buah kedalam mulutnya.
Mereka sudah selesai makan dan kini sedang menonton tv di ruangan keluarga.
"Nggak bisa gitu dong sayang! Biar bagaimanapun, kak Arga itu kakak kita sahabat aku juga." Ucap Kairan sembari mengelus kepala Ela.
"Tapi aku nggak suka sama Lisa bang! Lagian kenapa sih, kak Arga tuh bodoh banget, mau-maunya menikahi Lisa, kaya nggak ada perempuan aja." Ujarnya kesal mengingat wanita yang akan menjadi iparnya itu.
__ADS_1
"Mau gimana lagi, ini sudah pilihannya kak Arga! Walaupun kita nggak suka sama Lisa, kita nggak boleh nyakitin kak Arga dengan tidak hadir." Selembut mungkin Kairan memberi penjelasan kepada istrinya itu, walaupun dia sendiri tidak suka dengan sih Lisa itu.
Ela mengangguk kepalanya paham. " Ya udah sayang kita istirahat yuk, udah malam! Besok-kan kita akan berangkat pagi." Ela kembali mengangguk kepalanya, wanita itu lalu meneguk air putih di hadapannya hingga tandas, barulah ia menyambut uluran tangan Kairan.
Setibanya di kamar, kedua masuk kedalam kamar mandi untuk menyikat gigi terlebih dulu.
Setelah itu mereka berbaring di ranjang sambil mengobrol sekaligus menunggu kantuk mereka.
"Ela." Panggil pria itu pelan.
" Iya bang!" Jawabnya.
"Kamu sudah selesai?" Tanya Kairan ambigu.
"Apa? Yang selesai." Ela yang bingung kemana arah pembicaraan Kairan justru Balik bertanya.
"Tamu bulanannya?"
DEG.
__ADS_1
Jantung Ela langsung berdetak tak menentu. Dia sudah lama menginginkan hal ini tapi kenapa sekarang dia jadi ragu dan takut.