
" Terima kasih, kamu boleh meninggalkan aku, sisanya aku bisa melakukannya sendiri." Ucap pria itu.
Kai tidak ingin di bantu lebih jauh lagi oleh Ela membuat wanita itu mengerutkan keningnya bingung.
Namun sedetik kemudian, Ela langsung mengiyakan pemintaan Kai." Baiklah dengan senang hati," ucap wanita itu kemudian melenggang keluar kamar mandi sembari bersenandung.
Sebab Ela tidak mau banyak berpikir! baginya semakin sedikit interaksinya dengan Kai, maka akan semakin baik pula untuk untuk kesehatan hatinya.
Sementara di belakang sana Kai hanya tersenyum simpul, sembari menggeleng-geleng kepalanya melihat tingkah istrinya itu, jujur saja hatinya sedikit kecewa karena Ela begitu bahagia tidak harus membantunya.
Tok.... tok.... tok...
Suara ketukan dari balik pintu kamar itu membuat Ela yang baru keluar dari kamar mandi langsung berjalan kearah pintu untuk membuka pintu itu," sebentar," ucapnya seraya memutar kunci yang tergantung pada lubang kunci, lalu memutar lagi handel pintu.
Ceklek
Suara pintu yang terbuka." Ada apa bi?" tanya Ela saat mendapati bi Ina berdiri di depan pintu kamar mereka.
" Maaf non, bibi sudah mengganggu waktu non Ela dan tuan Kairan, ini bibi cuma mau mengantarkan kiriman dari rumah orang tua non, tadi ada sopir yang mengantarnya ke sini." Jelas-nya dengan sedikit menunduk, takut jika nyonya baru nya itu akan marah. Wanita paruh baya lalu menunjuk ke arah security yang sedang membawa dua buah koper besar, membuat ela melongo seketika.
Wanita itu merasa seakan baru saja di buang oleh keluarganya sendiri ." Mau bibi bantu untuk menyusunnya di lemari." Tanya wanita paruh bayah itu lagi, sengaja menawarkan dirinya untuk membantu nyonya barunya.
__ADS_1
"Terima kasih bi." Ucap Ela, kemudian berbalik masuk kembali ke dalam kamar setelah membuka pintu kamar itu lebar-lebat untuk bi Ina dan security yang membawa kopernya masuk. Sebagai tanda jika dia setuju untuk dibantu oleh bi Ina.
Tanpa menunggu di perintah, keduanya langsung masuk kedalam walk in closed milik Kai yang sebentar lagi akan menjadi milik Ela juga. Tak berselang lama security itu keluar, menyisakan bi Ina seorang di ruangan itu.
" Permisi nona," ucap sang security melangkah keluar kamar itu dan Ela hanya mengangguk kepalanya sebagai jawaban. Sebab wanita itu sedang fokus dengan benda pipi di tangannya.
Melihat dua buah koper besar yang di kirim mamanya, Ela tidak perlu menebak apa isi koper itu karena wanita itu sudah tahu pasti isinya adalah pakaian dan segala keperluannya, untuk itu
Dia memutuskan untuk menghubungi Luna, Mamanya.
Di percobaan pertama panggilannya tidak di jawab oleh Luna, Ela pun tidak menyerah dia kembali menghubungi Luna lagi walaupun hasilnya sama dan ketiga, keempat.
" Halo sayang! Tumben hari libur kamu bangun cepat! Padahal mama nggak ada disana buat bangunin kamu." Ucap Reval dari seberang sana, membuat Ela memutar bola matanya malas.
Tidak mama, tidak papa! Semuanya sama saja. " Mama mana pa." Tanya Ela, wanita itu tidak menghiraukan ucapan papanya barusan, karena apa yang di katakan papanya tidak sepenuhnya salah.
Lagian bukan salah dia juga suka bangun terlambat di hari libur, karena banyak teman-temannya yang melakukan itu saat tinggal bersama kedua orang tua mereka, pengecualian untuk Haaniya dan Lita, karena menurutnya kedua wanita itu terlalu serius hidupnya dan kurang menikmati hidup.
" Mama-mu di dapur seperti biasa, menjalani tugas istri dengan baik, cobalah belajarlah dari mamamu Ela. Selain bekerja dia juga pandai mengurus keluarga kita dengan baik, papa harap kamu disana juga melakukan hal yang sama, patuhilah suamimu dan layani dia dengan baik, jangan membuat malu keluarga dan semua sikap malas mu itu." Ela mendesah panjang, saat mendengar jawaban papanya sekaligus nasihat yang membuat telinganya panas di pagi hari.
" Pa, Ela datang ke rumah bang kai sebagai istri! Dan dimana-mana seorang istri itu di ratu-kan, bukan di babu-kan. Percuma dong Mansion Segede ini dengan pelayan yang begitu banyak, kalau ujung-ujungnya Ela juga yang harus turun tangan mengerjakan semuanya, maaf pa Ela nggak suka pencitraan dalam bentuk apapun." Terdengar helaan nafas berat dari seberang sana, yang mana membuat Ela yakin jika papanya itu sedang mengelus dadanya.
__ADS_1
Ela tidak tahu saja, jika di seberang sana Reval tengah berulang kali mengucapkan syukur, karena sang istri mengambil keputusan di saat yang tepat dengan menikahkan putri sulungnya itu dengan Kai, walaupun awalnya dia sempat kecewa dengan keputusan Luna, tapi pada akhirnya pria itu tersadar jika Putrinya itu sudah di berikan kepada orang yang tepat, mengingat sikap anaknya yang terlalu judes itu.
" Sayang apapun alasannya_"
" Pa ini masih pagi, jika papa masih ingin menasehati Ela nanti saja! Lagian Ela juga bukan anak kecil lagi, Ela tahu mana yang baik dan Mana yang buruk, tanpa papa katakan Ela tahu harus melakukan apa oke? Sampaikan salam-ku kepada mama jangan hanya mengirim koper Ela, sekalian saja hapus nama Ela dari kartu keluarga kalian." Katanya kepada pria paruh bayah di seberang sana, saat teringat alasannya menelpon.
" Sayang, kamu memang akan di keluarkan dari kartu keluarga _"
" Apa!" Teriak wanita itu membuat Reval langsung menjauh ponselnya." Jangan bilang kalian tidak mau lagi mengakui aku sebagai anak." Tanya Ela, suaranya terdengar mulai serak dan sendu memikirkan kenyataan orangnya membuang dirinya.
" Ela, jangan berlebihan, setiap anak yang sudah menikah akan memiliki keluarga sendiri termasuk kartu keluarga. Kamu ini."
" Memangnya harus ya?" Tanya Ela yang tidak tahu akan hal itu.
" Tentu saja! Makanya kalau di suruh sekolah, sekolah yang benar jangan main-main aja! Masa hal kaya begini aja kamu nggak tahu. " Omel Reval, pria itu begitu mood meladeni kelabilan putrinya yang baru sehari berganti status itu.
" Pa, di sekolah itu hanya ada pelangi matematika, bahasa Indonesia dan kawan-kawannya. Tidak ada tentang data penduduk." Sahutnya yang tidak ingin kalah dengan lelaki paruh baya yang telah membuatnya itu.
" Terserah kamu saja! Papa sedang sibuk sekarang! Nanti papa akan menyuruh mama untuk menghubungi kamu kembali, bye sayang jadi istri yang benar ya, Papa sayang kamu." Ucap Reval.
" Ela juga sayang papa." Balas Ela, Setelah itu mereka sepakat untuk mengakhiri panggilan itu dan Ela pun beranjak dari tempat duduknya, wanita itu melangkah masuk kedalam walk in closed untuk membantu bi Ina merapikan pakaiannya.
__ADS_1