
Mentari bersinar cerah pagi itu, Menghadirkan semangat baru pada setiap penghuni yang ada di bumi, semangat untuk memulai aktivitasnya di pagi hari.
Begitu pun dengan Kairan, pria itu sudah bangun beberapa menit yang lalu dan kini dia sedang berdiri menghalau mentari yang akan mengusik tidur Istrinya. " Cantik." Puji Kairan.
Pandangannya tertuju pada wanita yang masih nyaman terlelap di bawah selimut yang menutupi tubuh polosnya.
Kedua sudut bibir Kairan tertarik keatas membentuk sebuah senyuman, mengingat pertempuran panas mereka malam tadi.
Tahu jika saat ini sang istri masih sangat kelelahan, Kairan memutar tubuhnya, sedikit melangkah ke arah jendela lalu menarik tirai jendela itu untuk menghalau sinar matahari yang masuk kedalam kamar mereka.
Setelahnya ia kembali menghampiri Ela yang masih terlelap dalam tidurnya. Mengecup singkat dahi, setelah itu barulah ia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Kairan juga harus bersiap-siap untuk berkerja, walaupun posisinya di perusahaan sebagai pemimpin, dia tidak mungkin berleha-leha dan datang ke kantor seenaknya bukan.
Beberapa saat kemudian, Kairan sudah siap dengan setelan kerjanya. Dia kembali melihat kearah ranjang di mana sang istri masih tertidur dengan nyaman.
Kairan tersenyum melihat halnya dan kepingan-kepingan percintaan mereka semalam kembali terlintas di kepalanya, ia melangkah mendekati Ela, menunduk untuk mencium bibir wanita-nya membenarkan selimut yang menutupi tubuh Ela lalu meninggalkannya.
__ADS_1
Kairan menuruni tangga begitu santai "Pagi Tuan." Sapa Bi Ina, Saat ia memasuki ruangan makan.
Wanita paruh baya itu, sedang membantu kakeknya. "Hmm, pagi bi." Kairan membalas sapaan wanita paruh bayah itu sembari tersenyum hangat. " Selamat pagi kakek." Ujarnya seraya menghampiri sang kakek lalu memeluknya.
"Selamat pagi, dimana cucu menantuku? Kenapa tidak mengajaknya untuk sarapan bersama?" Tanya sang kakek.
"Ela kelelahan dan aku membiarkannya untuk tetap istirahat." Jawab Kairan, menarik kursi di samping kakeknya lalu duduk di sana.
"Kamu harus memperlakukannya dengan baik jangan samakan dia dengan jala-ng, Jala-ng yang pernah kamu tiduri, sebelum menikah." Tegur sang kakek karena tanpa di jelaskan pun sang kakek mengerti akan maksud cucunya.
Kairan tidak menyahuti ucapan kakeknya ucapan kakeknya, bukan karena dia membenarkan apa yang di ucapkan kakeknya.
"Tanpa kakek minta pun, Kai sudah mencintai Ela." Sahut Kairan lalu memasukkan potong roti yang telah di olesi selai coklat kedalam mulutnya.
Mendengar pengakuan sang cucu, kakek Kairan menghentikan gerakan tangannya lalu menatap kepada Kairan.
"Yang kakek dengar tidak salah! Untuk kakek harus tetap sehat, karena awal bulan depan Kai akan mengadakan resepsi pernikahan kita." Ucapnya lagi.
__ADS_1
"Jangan bercanda kamu, kamu akan membuat pesta seperti apa dalam tiga belas Hari?" Tanya sang kakek.
"Sesuai ingin Ela! kakek bisa duduk diam dan biarkan Kai yang menyiapkan semuanya, Kai nggak akan mengecewakan kakek juga Ela." Jawabnya, membuat sang kakek terdiam. " KAI sudah selesai, Kai berangkat dulu." Lanjutnya, berpamitan kepada sang kakek lalu meninggalkan ruangan makan itu.
\=\=\=\=\=\=
Setibanya di kantor, Kairan langsung menghubungi asistennya dan meminta pria itu untuk segera ke ruangannya.
Tok.. tok...
"Masuk." Titah Kairan.
Tanpa diminta dua kali sang asisten langsung masuk dan berdiri didepan meja kerja tuanya.
"Tolong Carikan Wedding organizer terbaik untuk saya, Atur juga pertemuan saya dengan mereka, paling lambat makan siang." Ucap Kairan tanpa menatap kepada asistennya.
Sementara sang asisten hanya bisa mengelus dadanya. Bosnya ini terkadang tidak memiliki perasaan saat menginginkan sesuatu."Baik tuan, ada lagi?" Tanya Sang asisten.
__ADS_1
"Tidak kamu boleh keluar." Ujarnya, sang asisten pun meninggalkan ruangan Kairan dengan perasaan dongkol.
Bagaimana tidak, dia dan sekertaris Kairan harus menyusun ulang schedule Kairan untuk hari ini, karena diwaktu makan siang, Kairan ada pertemuan dengan klien, belum lagi ia harus mencari Wedding organizer yang diminta Kairan.