
Setelah tiga hari kemudian.. Rini pun kini sudah sembuh sepenuhnya, ia pun kembali mengikuti kegiatan belajar nya sebagai santri di pondok.
"Door.."
"Astaghfirullah, mbak. Kebiasaan deh kalau dateng tuh ngucapin salam dulu gitu. Ini dateng-dateng malah ngagetin. Lama-lama aku kena serangan jantung gara-gara mbak"
"Ya elah gitu aja ribet lu. Kalau lu kena serangan jantung, ya lu serang balik aja"
"Serangan jantung itu penyakit mbak, bukan perang-perangan main serang aja"
"Hehehehe... ya udah sih gak usah sewot gitu. Oh iya, hari ini yang ngajar dikelas ini siapa aja ustadz atau ustadzah nya?
"Hhmm. berdasarkan jadwal sih hari ini jadwal nya ustadz Farhan yang ngajar dikelas ini. Tapi yang aku denger sih, katanya ustadz Farhan mau keluar kota jadi digantikan dengan ustadz Malik"
"Keluar kota? Kemana?"
"Mana saya tau mbak. Kan mbak istrinya bukan saya, seharusnya mbak yang lebih tau"
'Kok dia gak bilang sih mau keluar kota. Mana perginya hari ini. Gak bisa dibiarin ini, gue harus tanya sedetail mungkin sama dia. Awas aja kalau sampe dia keluar kota buat nyari cewek baru, atau bahkan dia nemuin pacar nya diluar kota. Gak bisa, gak bisa dibiarin nih gue harus tanya langsung sama dia' batin Rini
"Loh mbak. Mau kemana toh? Kelasnya kan sebentar lagi dimulai" ucap Diana saat melihat Rini pergi begitu saja
Rini pun langsung berlari kedalam rumah. Ia ingin langsung menanyakan alasan suaminya yang hendak pergi keluar kota hari ini.
"Mas!"
"Astaghfirullah, Rini! Bisa gak sih kalau masuk itu ketuk pintu dulu atau beri salam dulu"
"Iya iya maaf. Aku ulang dari awal"
Rini pun kembali keluar dan menutup pintu kamar nya. Lalu ia mengetuk pintu kamar nya dan memberi salam sesuai yang dikatakan oleh suaminya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk"
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
"Mas"
"Hhmm"
"Mas bener mau keluar kota?" tanya Rini saat melihat suaminya sedang mengepakkan bajunya kedalam koper kecil
"Iya, kenapa emangnya?
"Kok malah nanya kenapa sih"
Melihat istrinya sudah mulai merajuk. Farhan pun menghentikan kegiatan nya mengemas pakaiannya. Lalu ia pun duduk diranjang dengan posisi menatap wajah istrinya.
"Maaf ya, mas gak bilang dulu sama kamu kalau mas mau keluar kota hari ini" ucap Farhan sambil menggenggam kedua tangan istrinya
"Memang nya mas perginya berapa hari? Lama gak sih? Sama siapa perginya? Kemana? Ada keperluan apa?"
__ADS_1
"Huusstt... pelan-pelan nanya nya. Mas, bingung nih jawab nya kalau kebanyakan pertanyaannya"
"Hhmm. Ya udah buruan jawab
"Jadi gini, sebenarnya mas pergi keluar kota karena ingin menemui klien yang ada diluar kota"
"Klien?"
"Iya. Kamu kan tau, dipesantren ini ada kegiatan wirausaha pembuatan kerajinan tangan dari kain batik. Jadi supaya produk yang dibikin oleh para santri disini berkembang pesat, oleh karena itu mas, bantu promosi kan produk nya secara online. Nah kebetulan ada orang dari luar kota yang tertarik dengan produk nya. Dan dia menawarkan kontrak kerja sama jadi mas kesana untuk membawa beberapa sampel produk nya sekaligus membicarakan perihal kontrak kerja sama nya. Begitu sayang"
"Ohh.. begitu. Terus perginya berapa hari?
"Paling cepet sih 3 hari"
"Perginya sama siapa aja?"
"Rame-rame kok. Ada dua ustadz dan dua ustadzah juga"
"Jadi gimana? Mas dibolehin pergi kan?" sambung Farhan
Rini pun langsung membalikkan tubuhnya dan melepaskan tangannya dari genggaman suaminya saat Farhan meminta izin untuk pergi.
Sebenarnya Rini tidak ingin Farhan pergi. Karena semenjak kehadiran Farhan, Rini perlahan mulai menyukai suaminya itu. la terbiasa berdebat dengan suaminya, tidur sambil memandangi wajah suaminya. Jika Farhan pergi, maka Rini akan kehilangan semua momen manis itu selama beberapa hari. Namun rasa gengsi yang begitu tinggi, membuat Rini enggan mengungkapkan perasaan nya.
Farhan yang mengetahui bahwa istrinya itu tidak ingin ia pergi. Farhan pun langsung berdiri dan memeluk tubuh istrinya.
"Maafin mas, ya udah bikin kamu jadi sedih. Mas, janji deh. Saat semua urusannya udah selesai, mas langsung pulang"
Mendengar ucapan Farhan yang begitu lembut ditelinga nya. Seketika air mata nya Rini pun menetes saat itu juga. Rini yang mengetahui air mata nya keluar pun langsung menyeka air matanya itu.
'Kenapa gue jadi melow gini sih. Harusnya kan gue seneng kalau dia pergi tiga hari. Dengan begitu gue bisa bebas ngelakuin apa pun tanpa ada yang ngomelin gue. Tapi kenapa rasanya gue berat banget ya ditinggal sendirian' batin Rini
"Gak! Siapa juga yang nangis
"Masa sih? Terus kalau gak nangis, itu mata kamu kenapa berair begitu"
"Hhmm.. i-itu tadi cuma kelilipan aja kok"
"Yakin cuma kelilipan?"
"Yakin lah. Udah sana pergi, tadi katanya mau pergi"
"Bener nih mas boleh pergi?
"Iya, bawel deh nanya mulu. Jadi pergi gak sih"
"Jadi dong. Ya udah mas, berangkat dulu ya. Kamu dirumah hati-hati jangan lupa sholat" pamit Farhan sambil mendorong koper kecil nya
"Iya iya"
"Oh iya, mas hampir lupa. Nanti setelah mas pulang, kamu harus setor hapalan yang mas suruh tempo hari lalu. Inget 10 surat pendek gak boleh kurang" ucap Farhan sebelum membuka pintu kamar nya
"Masih inget aja sih. Kirain karena udah lama dia udah lupa. Ternyata masih inget. Kalau gitu yang ada gue gak bisa nyantai dong selama dia pergi' batin Rini
"Kok mas, masih inget aja sih. Padahal aku kira mas udah lupa loh"
__ADS_1
"Sekali hukuman tetep hukuman sayang, walaupun sekecil atau selama apapun mas akan tetep inget. Jadi selama mas, pergi. Dari pada kamu melakukan hal yang tidak berfaedah. Lebih baik kamu menyelesaikan hapalan kamu"
"Kalau aku berhasil ngapalin nya ada hadiahnya gak nih?"
"Hhhmm.. hadiah?? Ada kok"
"Beneran ada?"
"lya ada. Hadiahnya udah, mas siapkan malah"
"Hadiahnya apa mas?
"Rahasia"
"Kok gitu sih main rahasia-rahasiaan segala"
"Biar kamu semangat ngapalin nya sayang. Ya udah, kalau gitu mas, pergi sekarang ya"
"Ya udah, aku ikut anterin ke depan ya, mas"
"Boleh, ayo"
Rini pun mengantar suaminya sampai kedepan rumah. Saat mereka keluar rumah, disana sudah berkumpul ustadz dan ustadzah yang akan ikut serta dalam perjalanan ke luar kota.
"Ya sudah kalau gitu mas pergi dulu, kamu baik-baik ya selama mas tinggal. Assalamualaikum" pamit Farhan sambil mencium kening istrinya
"Wa'alaikumsalam"
Farhan pun langsung memasukkan kopernya kedalam bagasi mobil nya. Sedangkan para ustadz dan ustadzah yang ikut pun sudah masuk kedalam mobil terlebih dahulu. Saat Farhan hendak masuk kedalam mobil tiba-tiba...
"Mas" panggil Rini
"Ada apa sayang?
"Peluk"
Mendengar permintaan istrinya yang secara tiba-tiba itu. Farhan pun langsung menghampiri istrinya fengan senyum yang mengembang. la pun langsung memeluk istrinya dengan hangat sambil sesekali mengusap kepala istrinya.
"Coba aja kamu manja seperti ini dari awal pernikahan kita. Mas pasti seneng banget"
"Cepet pulang ya, mas. Aku bakalan kangen nanti kalau mas, perginya kelamaan"
"Kamu gak salah kan ngomong kayak gitu?"
"Gak. Emang gak boleh kangen sama suami sendiri?" tanya Rini sambil melepaskan pelukannya
"Boleh, sayang. Siapa bilang gak boleh. Memang nya apa sih yang kamu kangenin dari mas?"
"Kartu ATM nya mas" ucap Rini sambil tertawa puas
"Hhmm.. dasar matre"
"Bukan matre mas. Tapi itu kan kebutuhan hidup"
"Hhhmm... terserah kamu aja deh. Ya udah, mas pergi dulu ya. Assalamualaikum'"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati dijalan mas" ucap Rini sambil melambaikan tangannya melepas kepergian suaminya ke luar kota
Setelah memastikan bahwa mobil Suaminya sudah pergi jauh dari pesantren. Rini pun langsung berlari menuju kelas. Karena ia lupa bahwa saat ini kelasnya sudah berlangsung dari tadi.