
Setelah mendapatkan izin untuk pergi keluar dari pesantren. Rini pun langsung berlari ke gerbang pesantren. Diana yang sudah menunggu dari tadi pun merasa lega saat melihat kedatangan Rini.
"Aku kira, mbak gak jadi dateng loh. Hampir saja tadi aku balik lagi ke asrama, gara-gara kelamaan nungguin, mbak"
"Ya jangan dong. Masa udah susah payah minta izin. Malah gak jadi pergi. Ya udah yuk, kita langsung cari abang bakso aja"
"Kalian mau kemana?" tanya penjaga gerbang
"Kita mau keluar, cari bakso, pak"
"Udah dapet izin blom?"
"Udah pak. Bapak lupa ya, saya ini menantu nya kiyai Saleh loh. Bahkan tadi saya minta izin nya langsung ke kiyai Saleh dan juga sama suami saya ustadz Farhan. Dan mereka membolehkan saya kok untuk keluar sebentar"
"Ya sudah kalau begitu kalian bisa keluar, tapi sebelum maghrib kalian harus sudah kembali"
"Beres, pak"
Rini dan Diana pun langsung keluar setelah gerbang pesantren dibuka oleh penjaga gerbang.
"Sebelum kita nyari tukang bakso. Kita cari mesin ATM dulu ya"
"Mesin ATM?? Untuk apa?"
"Untuk narik uang lah. Gak mungkin kan bayar tukang bakso nya pake kartu ATM"
"Kamu punya kartu ATM? Bukan nya gak boleh pegang kartu ATM ya selama di pesantren?"
"Ini kartu ATM nya, mas Farhan. Bukan punya aku. Tadi dia ngasih kartu ini buat aku jajan"
"Enak banget ya jadi kamu, minta uang buat beli bakso malah dikasih kartu ATM"
"Dia juga ngasih kartu ini karena gak ada uang tunai aja"
"Oh begitu. Terus kita mau cari mesin ATM nya dimana, mbak?"
"Lu kan yang asli orang sini. Kenapa jadi malah balik nanya ke gue sih?Seharusnya kan gue yang nanya ke lu, gimana sih"
"Iya sih, mbak. Saya memang orang asli daerah ini. Tapi masalah nya saya belum pernah liat mesin ATM itu seperti apa. Hehehe" ucap Diana sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu
"Capek deh" ucap Rini sambil menepuk dahinya "Ya udah, kita keliling aja nyari mesin ATM nya nanti juga ketemu"
"Kalau sudah ketemu, mesin ATM nya boleh dibawa pulang gak, mbak?"
"Boleh
"Serius boleh, mbak?"
"Iya, paling juga abis itu lu dibawa ke kantor polisi. Hahaha"
"Maling dong itu namanya mbak"
"Itu lu tau"
Mereka pun berkeliling sambil menengok ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan mesin ATM. Setelah berkeliling cukup jauh. Mereka pun menemukan SPBU dan tidak jauh dari sana terdapat mesin ATM.
"Akhirnya ketemu juga" ucap Rini setelah sampai didepan mesin ATM
"Jadi ini mbak, yag namanya mesin ATM?"
__ADS_1
"Iya. Lu tunggu disini. Oh iya lu jagain pintunya jangan sampai ada orang yang ngintip"
"Ngintip? Emang mbaknya ma ngapain sih? Atau jangan-jangan mbaknya mau buka baju disini ya? Jangan toh mbak, ini kan tempat umum udah gitu kaca nya juga bening banget. Kalau saya tutupin juga semua orang tetep bisa ngeliat mbak dari arah lain"
Tuing!
Rini pun langsung menoyor kepalanya Diana setelah mendengar ucapan nya yang aneh itu.
"Aduuhh... sakit tau mbak"
"Lu sih aneh-aneh aja. Gue tuh nyuruh lu jagain pintunya supaya gak ada orang yang ngintip saat gue masukin nomor PIN nya. Bukan mau buka baju disini. Lu kira gue orang gila kali mau buka baju ditempat umum"
Oh begitu toh. Bilang dong dari tadi mbak. Saya kan belum pernah ke ATM, liat mesin ATM aja baru sekarang ini. Jadi saya mana tau kalau nomor PIN itu gak boleh diintip orang lain"
"Suka-suka pemikiran lu aja deh. Pokoknya lu jagain tuh pintunya"
"Siap, mbak" Rini pun langsung menarik sejumlah uang untuk jajan. la pun tidak lupa menarik sejumlah uang untuk diberikan pada Diana.
"Nih, lu ambil uang ini. Mudah-mudahan cukup buat biaya berobat adik lu" ucap Rini setelah selesai menarik sejumlah uang dan memberikan uang sebanyak 5 juta pada Diana
"Mbak?? Mbak serius ngasih uang sebanyak ini buat aku?"
"Bukan buat lu, tapi buat berobat adik lu"
"Terimakasi, mbak. Terimakasih banyak" ucap Diana yang langsung memeluk Rini dengan air mata yang sudah mengalir karena terharu dengan perhatian yang diberikan oleh Rini pada nya.
"Udah gak usah cengeng. Kan udah gue bilang. Lu itu temen gue, jadi selagi gue bisa bantuin lu, pasti gue bantuin. Udah ah, dari pada peluk-pelukan mulu. Lebih baik nyari bakso yuk, laper nih gue"
"Ayo, mbak. Saya tau kok tempat makan bakso paling enak"
"Dijamin enak gak nih?"
"Saya jamin 100% enak mbak"
"Siap, mbak. Dijamin enak kok. Mbak, gak akan nyesel deh"
Mereka pun langsung pergi ke tempat tukang bakso langganan Diana.
Sesampainya disana, Rini dibuat terkejut karena baru kali ini dia makan bakso seenak itu. Saking enaknya bahkan ia sampai nambah hingga 4 mangkok.
"Akhh.. akhirnya kenyangjuga. Ternyata lu gak bohong. Ini bakso adalah bakso paling enak yang pernah gue makan"
"Mbak. Mbak ini laper apa doyan sih?? Sampe habis 5 mangkuk gitu. Saya satu mangkuk aja belum habis"
"Dua-duanya. Udah buruan habisin bakso nya. Setelah ini kita langsung balik ke pesantren"
"Iya, mbak"
Tidak lama kemudian mereka pun telah selesai menyantap bakso. Mereka pun langsung bergegas kembali ke pesantren. Setelah sampai di pesantren, mereka pun berpisah. Diana kembali ke asrama putri sedangkan Rini kembali ke rumah keluarga suaminya. Setelah sampai dikamar, ia pun langsung merebahkan diri nya diranjang karena ia sudah lelah berkeliling cukup jauh saat mencari mesin ATM tadi.
Ceklek!
"Assalamualaikum" sapa Farhan saat memasuki kamar nya
"Wa'alaikumsalam'"
"Udah selesai makan bakso nya?" tanya Farhan sambil meletakkan peci diatas meja dan bersiap untuk mandi
"Udah mas. Oh iya tadi uang yang ada di ATM. Aku tarik 5 juta gak apa-apa kan, mas?"
__ADS_1
'Apa? 5 juta? Dia itu abis beli bakso apa abis beli motor bekas sih?' ucap Farhan dalam hati sambil melirik istrinya
"Mas, gak salah dengar kan?" tanya Farhan
Farhan pun mendekati istrinya yang sedang berbaring ditempat tidur. Ia pun langsung duduk disebelah Istrinya.
"Gak salah kok, mas"
"5 juta itu banyak loh. Kalau kamu beli bakso 5 juta. Itu bisa bikin orang-orang di pesantren ini kenyang selama 3 hari loh gara-gara makan bakso"
"5 Juta nya gak aku beliin bakso semua kali, mas"
"Terus buat apaan 5 juta nya?"
"Aku kasih ke Diana temen sekamar ku"
"Untuk apa?"
Rini pun langsung bangun dan meraih tangan suaminya.
"Jadi gini loh, mas. Diana itu adik nya lagi dirawat dirumah sakit dan butuh biaya, sedangkan orang tua nya tidak punya uang. Jadi karena aku kasihan sama dia, ya aku kasih aja dia duit. Sebenarnya aku mau kasih dia duit dari ATM aku. Tapi berhubung semua kartu ATM aku dipegang ayah. Jadi aku pake ATM kamu, gak apa-apa kan"
Mendengar penjelasan istrinya itu Farhan pun dibuat terharu. Menurut nya istrinya itu hanya mampu membuat onar saja. Ternyata dibalik semua sifat aneh dan menyebalkan nya, Rini juga memiliki rasa kepedulian yang cukup tinggi terhadap teman nya.
Cup
Farhan pun langsung menghadiahkan kecupan singkat dikening istrinya itu.
"Gak apa-apa sayang. Mas, justru bangga. Karena kamu sudah membantu meringankan beban teman mu"
"Iidiihh.. pake sayang-sayangan segala. Emang nya mas, udah sayang gitu, udah cinta sama aku?"
"Udah"
"Sejak kapan?
"Sejak, mas. Mengucapkan ijab qobul atas nama mu"
"Kok bisa secepat itu cinta nya??"
"Kamu dengerin mas, baik-baik ya. Menikahi orang yang kita cintai itu harapan semua orang. Tapi mencintai orang yang kita nikahi itu kewajiban. Paham"
"Paham, mas"
"Kalau udah paham, bisa dong kita melakukan nya sekarang" pinta Farhan
Farhan pun perlahan langsung mendekatkan diri pada istrinya.
Rini yang tau apa yang ingin dilakukan oleh suaminya itu pun, tampak gugup. Untung saja suara adzan yang berkumandang saat itu bisa menyelamatkan diri nya dari terkaman suaminya.
"Udah adzan mas, sholat dulu sana"
"Huhh! Baiklah. Sekarang ini kamu selamat sayang. Tapi tidak setelah selesai sholat isya"
"Udah sana buruan ke mesjid"
"Tya, ini mas juga mau berangkat. Kamu juga jangan lupa sholat ya. Awas kalau gak sholat"
"Iya iya. Bawel deh"
__ADS_1
"Bawel untuk kebaikan tidak apa-apa, sayang. Ya udah, mas berangkat ya. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalamn"