
Setelah dua jam kemudian, mereka pun bangun dari tidur nyenyak nya dengan kondisi tubuh yang jauh lebih segar dari sebelumnya.
"Mas, mandi duluan ya. Kamu tolong siapkan baju nya mas ya"
"Iya, mas"
Farhan pun langsung bergegas untuk membersihkan dirinya dikamar mandi. Sedangkan Rini sendiri sibuk menyiapkan baju yang akan ia dan suaminya gunakan.
Setelah Farhan selesai mandi. Kini giliran Rini yang masuk kedalam kamar mandi. Setelah Rini selesai mandi, suaminya pun telah siap untuk kembali mengajar.
"Mas, pergi duluan ya. Kamu masih inget kan kalau kamu masih punya PR dari mas untuk membaca dan mempelajari buku-buku yang kemarin mas berikan?"
'Kirain udah lupa, ternyata masih inget aja. Kalau begini, sama aja dong aku gak bisa bebas' batin Rini
"Kamu tuh kebiasaan deh mas, untuk urusan ngasih tugas itu gak pernah lupa, padahal aku kira kamu udah lupa loh"
Farhan pun tersenyum saat mendengar ucapan istrinya itu
"Kamu itu ada-ada aja. Mas gak mungkin lupa, walaupun sekeras apapun kamu berusaha untuk mengalihkan pikirannya mas. Kan udah pernah mas bilang, sekali hukuman tetap hukuman tidak ada toleransi meskipun kamu itu istrinya mas, sampai disini kamu paham kan" ucap Farhan sambil mengusap kepala istrinya
"Iya, mas paham"
"Ya, sudah kalau gitu mas pamit dulu ya. Assalamualaikum" ucap Farhan sambil mengulurkan tangannya.
"Wa'alaikumsalam"
Rini pun meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Farhan pun tidak lupa untuk memberikan kecupan di kening istrinya sebelum berangkat ke pondok.
Farhan pun langsung bergegas pergi menuju ke ruang rapat para pengurus pesantren. Sesampainya disana ia pun langsung memulai rapat nya yang membahas acara apa saja yang akan dilakukan oleh para santri untuk memeriahkan acara peringatan pendirian pesantren Al-Imran. Pesantren milik keluarga kiyai Saleh.
"Jadi bagaimana keputusan nya? Kalian semua setuju dengan usulan acara yang telah dirancang oleh ustadz Malik?" tanya Farhan pada ustadz dan ustadzah yang hadir dalam rapat tersebut
"Setuju ustadz" ucap semua peserta rapat
"Lalu bagaimana dengan kegiatan belajar para santri sebelum maupun saat acara peringatan nya berlangsung, ustadz?" tanya ustadzah Hani
"Untuk kegiatan belajar para santri akan diliburkan selama dua hari sebelum hari H sampai selesai nya acara. Dan baru akan dimulai lagi seperti jadwal biasa nya keesokan harinya. Apa ada yang keberatan dengan keputusan saya?" sahut ustadz Farhan
"Tidak ada ustadz"
"Jika tidak ada lagi yang ingin dibahas, rapat nya saya akhiri sampai disini, terimakasih atas kehadiran nya dan semoga acara yang telah kita rancang dapat terlaksana dengan baik. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Semua ustadz maupun ustadzah yang menghadiri rapat tersebut pun langsung membubarkan diri.
"Nanti kamu kirim ke email saya mengenai hasil rapat hari ini dan juga susunan acara nya, Lik"
"Baik, Far. Nanti setelah saya selesai merangkum hasil rapat hari ini. Akan langsung saya kirim ke email kamu"
"Baiklah, kalau begitu saya duluan ya"
"Buru-buru banget Far. Emang nya kamu gak ngajar?"
"Saya lupa hari ini tidak ada jadwal mengajar" ucap Farhan sambil tersenyum dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu
"Ada-ada aja kamu Far. Tumben sekali kamu lupa sama jadwal kamu sendiri. Ini efek sakit gigi kemarin atau efek dari ulah istri mu yang selalu ajaib itu, jadinya pikiran kamu gak fokus belakangan ini?"
"Hhhmm.. mungkin bisa jadi dua-duanya Lik. Ya sudah, kalau gitu saya pulang duluan ya. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
__ADS_1
Farhan pun langsung bergegas kembali ke rumah nya. Sesampainya didepan rumah nya, terlihat ada banyak orang yang mengantarkan barang ke rumah nya.
"Assalamualaikum, sayang" sapa Farhan saat melihat Rini berdiri diteras rumah nya
"Eh, ada mas Far. Wa'alaikumsalam, mas" ucap Rini sambil mencium tangan suaminya
"Ini barang-barang dari siapa, sayang? Banyak banget. Kamu gak pesen semua barang ini kan?" tanya Farhan saat melihat begitu banyak makanan dan juga barang-barang elektronik yang diantar oleh kurir ke rumah nya
"Ya gak lah mas. Semua barang ini adalah hadiah dari ketiga kakak ku, ayah, dan juga dari Alhan"
"Hadiah?"
Rini pun langsung mengangguk kan kepalanya
"Iya, mas"
"Dalam rangka apa mereka ngasih kamu hadiah sebanyak ini?"
"Itu loh mas, mas inget gak waktu aku dirawat dirumah sakit dan ketiga kakak ku menjenguk ku disana. Dan saat mereka datang itu kan aku sempat meminta hadiah atas pernikahan kita. Masih inget gak mas?"
"Ouwh. Iya iya, mas sekarang inget. Jadi kamu minta hadiah sebanyak ini dari mereka?"
"Iya, mas. Gak apa-apa kan?"
"Mas, sih gak mnempermasalahkan semua hadiah ini sayang. Lagi pula semua ini kan pemberian keluarga kamu juga jadi aku gak bisa ngelarang mereka buat memberikan kamu hadiah. Tapi apa nantinya semua ini kan kamu nikmati dan gunakan sendiri? Sayang loh kalau semua hadiah ini ujung-ujungnya gak kamu manfaat kan, nanti yang ada mubazir. Kamu tau kan mubazir itu temen nya setan. Memang nya kamu mau jadi temen nya setan?"
Rini pun langsung menggeleng kan kepala nya setelah mendengar ucapan suaminya
"Gak mau mas"
"Ya sudah, kalau begitu. Kamu pilih dulu barang yang mau kamu simpan dan kamu gunakan. Sisa nya bisa kamu sedekahkan pada orang yang lebih membutuhkan. Itu akan jauhclebih bermanfaat dari padacmubazir nanti nya"
"Iya, mas. Nanti mas, bantuin aku pilih-pilihin barang nya yang akan disedekahkan ya mas"
Saat mereka tengah asik berbincang. Sebuah mobil pick up yang tengah mengangkut sebuah motor sport pun masuk kedalam pekarangan rumah mereka. Dan Rini pun langsung bersorak gembira ketika melihat motor sport itu sudah datang.
"Permisi, apa benar ini kediaman nya Mbak Rini?" tanya kurir yang mengantarkan motor sport tersebut Rini pun langsung menghampiri kurir tersebut.
"Iya, mas. Rini itu nama saya"
"Baiklah mbak. Kalau gitu mbak tanda tangan disurat ini terlebih dahulu. Setelah itu kami akan menurunkan motor nya"
Rini yang tidak sabar ingin melihat motor nya diturunkan dari atas mobil. la pun langsung mengambil surat dan pulpen milik kurir tersebut dan dengan cepat ia langsung membubuhkan tandatangan nya diatas surat tanda terima tersebut.
Selagi Rini sibuk menandatangani surat tanda terima tersebut, kurir yang lain pun langsung menurunkan motor tersebut.
"Ini, mas. Sudah saya tanda tangani" ucap Rini sambil mengembalikan surat dan pulpen milik kurir tersebut
"Baiklah mbak. Kalau gitu silahkan diterima kunci motor nya. Motor nya sudah kami turun kan. Kalau begitu kami permisi"
Setelah kepergian kurir tersebut. Rini pun langsung bergegas menaiki motor sport terbaru nya.
"Astaghfirullah, sayang. Kamu mau ngapain sih?" tanya Farhan saat melihat istrinya menaikkan baju gamis yang sedang Rini gunakan hingga sebatas pinggang saat ia menaiki motornya itu
"Aku kan mau nyobain motor nya mas. Kalau gamis nya gak diangkat, kan susah naiknya"
Farhan pun langsung menggeleng kan kepalanya mendengar jawaban istrinya. Lalu ia pun langsung mematikan motor tersebut dan mengambil kunci motor tersebut.
"Loh kenapa diambil kuncinya, mas?"
"Kalau kamu mau naik motor ini, kamu harus ganti baju kamu terlebih dahulu. Pakai baju lengan panjang yang longgar dan juga celana panjang yang longgar juga"
__ADS_1
"Kelamaan mas, kalau harus ganti baju dulu"
"Ya sudah, kalau gitu. Mas juga gak akan mengizinkan kamu menaiki motor sport ini"
Farhan pun langsung bergegas kembali masuk ke dalam rumah meninggalkan Rini yang masih betah duduk diatas motor barunya itu.
"Arrggh.. mas Far nyebelin banget sih. Ngerusak momen aja"
Dengan berat hati, Rini pun turun dari motor nya. Ia pun langsung bergegas masuk kedalam kamar nya untuk berganti baju sesuai perintah suaminya tadi.
Setelah ia selesai berganti baju. la pun keluar dari kamar nya dan menghampiri suaminya yang tengah bersantai diruang keluarga.
"Mas, liat nih. Baju nya udah aku ganti seperti yang kamu suruh tadi kan. Sekarang balikin dong kunci motor nya"
"Eits. Memang tadi siapa yang mengizinkan kamu mengendarai motor itu sendirian?"
"Lah, itu kan motor aku mas. Yang ngasih juga kak Randa. Jadi aku lah yang berhak mengendarai motor itu, emang nya siapa lagi kalau bukan aku"
"Selain kamu, hanya mas yang berhak mengendarai motor itu. Dan selama mas, disini mas tidak akan mengizinkan kamu mengendarai motor itu sendirian"
"Tapi kan mas"
"Gak ada tapi-tapian sayang. Kalau kamu masih membantah. Maka detik ini juga mas akan mengembalikan motor itu kepada kakak kamu"
Mendengar ancaman suaminya, seketika ekspresi wajah Rini langsung berubah murung.
"Gak usah manyun gitu. Lebih baik kamu ikut sama mas. Mau kan?"
"Kemana?"
"Jalan-jalan"
"Naik apa?"
"Naik becak. Ya jelas naik motor kamu tadi lah, sayang" ucap Farhan sambil mencubit hidung mancung istrinya
"Serius mas? Emang nya mas bisa naik motor sport?"
"Bisa lah. Naikin kamu aja mas bisa, apalagi cuma naik motor sport"
"Mas, genit banget sih. Masih siang tau mas" ucap Rini sambil melayangkan cubitan di pinggang suaminya
"Auw.... Sakit tau sayang. Kamu ngapain sih nyubit-nyubit pinggang mas segala. Memang nya ada aturan nya gitu kalau gak boleh main siang-siang?"
"Ada kok aturan nya"
"Masa sih ada? Emang nya siapa yang buat peraturan nya?"
"Aku barusan yang buat peraturan nya. Mulai hari ini dan seterusnya, mas gak boleh ngajakin aku main siang-siang bolong gini"
"Lah, memang nya kenapa sayang?"
"Aku gak mau, nanti anak kita jadi gosong kalau bikin nya siang-siang" ucap Rini sambil bergegas keluar
Farhan yang mendengar ucapan polos istrinya itu hanya bisa tertawa sambil menggeleng kan kepala nya.
'Rini Rini, kamu itu ya ada-ada aja pemikiran nya. Lama-lama kamu bikin saya semakin jatuh cinta saja setiap detik nya sama kamu' batin Farhan
"Mas Far cepetan. Jadi gak sih jalan-jalan nya!" teriak Rini dari luar rumah
"Iya, sayang. Tunggu sebentar ya, mas ganti sarung nya dulu"
__ADS_1
Farhan pun langsung bergegas masuk kedalam kamar nya untuk mengganti sarung nya dengan celana panjang. la pun tidak lupa membawa dompet milik nya yang langsung ia masukkan kedalam saku celananya.