
Setelah Farhan pergi ke kantor. Kini Rini tengah bersiap-siap untuk pergi ke kelasnya. Jika santri putri pada umumnya membawa buku tulis, buku pelajaran dan juga Al-Qur'an didalam tasnya. Lain halnya dengan isi tasnya Rini, ia justru hanya membawa satu buku tulis dan satu buah pulpen, karena sisanya akan ia isi dengan berbagai makanan ringan dan juga mainan yang akan ia gunakan untuk menjahili teman nya.
"Kira-kira apa lagi ya yang belum dibawa? Buku sama pulpen udah, roti, biskuit, permen karet, dan chiki udah ada. Oh iya, ketapel sama serangga remote control hampir aja lupa. Barang wajib ini, jangan sampe ketinggalan, lumayan kan buat ngejahilin si Lani" ucap Rini sambil memasukkan barang nya kedalam tas
Setelah semuanya selesai, ia pun langsung bergegas pergi ke kelas.
"Pagi, mbak. Tumben pagi-pagi gini udah cantik aja mbak" ucap Diana saat melihat kedatangan Rini
"Gak usah muji-muji gue, hari ini gak ada jatah jajanan buat lu" ucap Rini sambil duduk disebelah nya Diana
"Yaahh... baru aja mau minta jajanan nya, udah dilarang duluan" ucap Diana sambil mengerucutkan bibirnya
Setelah Rini duduk dikursi nya, ia pun langsung mengeluarkan mainan milik nya dari dalam tasnya.
"Iiihhh... mbak Rini cantik-cantik jorok deh" ucap Diana saat melihat Rini mengeluarkan mainan serangga dengan menggunakan remote control milik nya
"Jorok dari mana sih? Tiap hari gue mandi tau"
"Lah itu buktinya segala kecoak mati sama tikus mati, mbak bawa didalam tas lagi.. iihhh geli aku liat nya mbak"
"Woy, ini tuh kecoak sama tikus mainan bukan yang asli. Kalau yang asli gue juga takut kali. Ini tuh namanya serangga remote control, jadi buat gerakin serangga nya ini pake remote kecil yang ada ditangan gue ini. Nih, lu perhatiin baik-baik ya" ucap Rini sambil menunjukkan mainan nya pada Diana
"Wiihh... ternyata mainan nya orang kota canggih-canggih ya mbak. Kalau saya mah palingan mainan nya, lompat karet, egrang sama main masak-masakan aja. Mana pernah punya mainan secanggih mainan nya mbak Rini"
"Kalau lu mau pinjem, nanti gue pinjemin. Tapi sekarang gue mau ngejahilin si Lani dulu"
"Gak usah deh mbak. Lagi pula pak ustadz kan udah sering bilang sama mbak. Jangan nyari ribut mulu sama Lani. Nanti kalau ketauan sama pak ustadz, mbak Rini bisa-bisa kena hukuman lagi loh"
"Udah tenang aja, hari ini mas Far lagi ada urusan di kantor nya. Paling dia baru pulang menjelang sore nanti. Jadi ini kesempatan bagus buat gue jahilin si Lani"
"Terserah mbak aja deh. Tapi kalau mbak kena hukuman aku gak mau ikut-ikutan ya"
"Iya bawel banget sih lu"
Rini pun langsung meletakkan mainan tikus remote control nya kelantai. Kemudian ia mulai menjalankan tikus mainan tersebut kerah bangku nya Lani. Namun saat hendak memulai aksi jahil nya.
Ustadzah Lulu pun masuk kedalam kelas nya.
"Assalamualaikum, semua nya"
"Wa'alaikumsalam, ustadzah"
"Hari ini saya akan membagikan hasil latihan soal kalian yang kedua. Dan untuk santri yang mendapat nilai dibawah 70 harus mengikuti ujian ulang. Sedangkan untuk Rini, kamu harus mendapatkan tanda tangan suami kamu terlebih dahulu, baru setelah nya kamu bisa ikut ujian ulang. Yang namanya dipanggil, harap maju kedepan mengambil kertas ujian nya"
Disaat ustadzah Lulu sedang sibuk membagi kan hasil latihan ujian soal minggu lalu. Rini pun kembali melanjutkan aksinya. Ia mengarahkan mainan nya tepat dibawah kursi nya Lani. Setelah itu ia pun memencet sebuah tombol di remote control nya. Setelah tombol tersebut berhasil ditekan oleh Rini.
Tiba-tiba saja keluar bunyi kentut dari mainan tersebut, bukan hanya itu saja aroma tidak sedap pun keluar dari mainan tersebut. Sebenarnya mainan itu hanya mainan seperti remote control pada umumnya namun karena Rini telah memodifikasi mainan tersebut. Alhasil mainan tersebut bisa melakukan semua itu. Karena Rini cukup sering memencet tombol tersebut alhasil kini ruang kelas nya dipenuhi oleh aroma yang tidak sedap.
"Siapa diantara kalian yang buang angin sembarangan nih?" tanya ustadzah Lulu
"Lani, ustadzah. Dari tadi saya perhatikan duduk nya tidak bisa diam. Seperti orang yang sedang menahan buang air besar"
"Benar begitu Lani?"
"Gak, ustadzah semua itu gak bener. Dan bukan saya yang buang angin dari tadi"
Disaat Lani tengah melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Rini pun kembali menekan tombol tersebut dan keluarlah suara kentut dan bau yang menyengat. Dan hal itu pun membuat santri putri lainnya yang ada dikelas tersebut kompak mengarah kan pandangan nya pada Lani.
"Kalau udah cepirit ngaku aja deh, orang jelas-jelas bunyi sama bau nya berasal dari arah lu kok" ucap Rini
"Heh! Lu diem aja ya, gak usah sok tau dan ikut campur urusan gue" ucap Lani
"Sudah, kalian tidak perlu bertengkar. Lani, sekarang kamu ke toilet saja dulu untuk memastikan ucapan nya Rini atau tidak. Dan Rini, sekarang kamu maju kedepan dan ambil kertas ujian kamu, dan jangan lupa minta tanda tangan ustadz Farhan"
Akhirnya Lani pun keluar dari kelas dan langsung menuju ke kamar mandi. Sedangkan Rini pun maju kedepan untuk mengambil kertas hasil latihan ujian nya.
"Kalau gak ditanda tangani bagaimana, ustadzah?" ucap Rini setelah mendapatkan kertas ujian nya
"Jika tidak ditandatangani, maka kamu tidak bisa ikut ujian ulang dan otomatis nilai kamu berkurang"
'Haduuhh.. gimana minta tanda tangan nya mas Far kalau aku cuma dapet nilai 20? Yang ada aku nanti disuruh belajar terus ini, dan gak dibolehin main lagi' batin Rini
"Hei, Rini? Kamu baik-baik saja kan?" ucap ustadzah Lulu sambil menjentikkan jarinya dihadapan nya Rini
"Eh,iya ustadzah. Saya baik-baik saja ustadzah. Kalau begitu saya kembali ke tempat duduk saya dulu, ustadzah"
"Silahkan"
Setelah ustadzah Lulu membagikan kertas hasil latihan soal minggu lalu. Ia pun kembali melanjutkan pembelajaran nya seperti biasa.
"Sekarang kalian buka buku latihan halaman 20. Kalian kerjakan dari bagian A sampai dengan bagian B setelah itu dikumpulkan sebelum bel berbunyi. Paham semua nya?"
"Paham, ustadzah"
Disaat santri yang lain tengah sibuk mengerjakan tugas, justru Lani tengah kebingungan seorang diri didalam toilet wanita.
"Bukan gue kok yang cepirit. Tapi tadi siapa yang kentut ya? Udah gitu bau banget lagi. Apa jangan-jangan ini ulah nya si Rini? Secara kan cuma dia yang nuduh gue cepirit tadi. Udah pasti ini mah ulah nya Rini. Awas aja lu Rini, tunggu pembalasan dari gue" ucap Lani
Setelah memastikan bahwa dirinya tidak buang air besar dicelana. Lani pun langsung kembali masuk kedalam kelas nya.
"Assalamualaikum, ustadzah"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Bagaimana Lani?
Udah selesai buang air nya?" tanya ustadzah Lulu
"Alhamdulillah sudah, ustadzah"
"Ya sudah. Kamu bisa kembali ke tempat duduk kamu dan langsung buka buku latihan halaman 20. Kamu kerjakan dari bagian A sampai dengan bagian B"
"Baik, ustadzah. Kalau begitu saya permisi duduk dulu ustadzah"
"Ya, silahkan"
Setelah satu jam kemudian bel pun berbunyi.
Kring!
"Ayo, semuanya kumpulkan tugas kalian. Bel nya sudah berbunyi. Selesai tidak selesai harap langsung dikumpulkan"
"Udah selesai blom, mbak?" tanya Diana
"Iya, bentar lagi ini lagi tanggung"
Semua santri putri pun telah menyerahkan tugas mereka kini hanya tinggal Diana dan Rini saja yang belum mengumpulkan nya.
"Diana, Rini, ayo cepat kumpulkan tugas nya. Jam pelajaran ustadzah udah abis loh"
"Tuh kan mbak. Ustadzah Lulu nya udah mau pergi tuh. Buruan mbak"
"Iya iya. Nih lu kumpulin sana sekalian punya gue" ucap Rini sambil memberikan buku tulis nya pada Diana untuk dikumpulkan
Karena mereka mengumpulkan bukunya terlalu lama. Akhirnya ustadzah Lulu pun pergi terlebih dahulu sebelum Diana menyerahkan tugas nya. Mau tidak mau, Diana pun mengejar ustadzah Lulu sebelum ia memasuki ruang pengajar.
"Tunggu sebentar ustadzah. Ini buku tugas saya dan Rini" ucap Diana sambil menyerahkan buku tugas tersebut dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal
"Lain kali ngumpulin nya harus tepat waktu Diana. Karena kamu udah capek-capek ngejar saya, jadi buku tugas nya kali ini saya terima. Tapi jika terulang lagi, maka buku tugas nya tidak akan saya terima. Kamu mengerti kan, Diana?"
"Baik, ustadzah saya mengerti"
"Ya sudah, sekarang kamu bisa pergi istirahat bersama teman kamu yang lain"
"Baik, ustadzah. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum, ustadzah"
"Wa'alaikumsalam"
Setelah selesai memberikan buku tugas nya kepada ustadzah Lulu, Diana pun kembali ke dalam kelas untuk mengambil tasnya.
"Gimana? Diterima kan buku nya sama ustadzah Lulu?" tanya Rini saat melihat Diana kembali masuk kedalam kelas
Dikarenakan bel istirahat sudah berbunyi. Para santri putri yang lain pun langsung kembali ke asrama mereka. Sedangkan diruang kelas tersebut hanya tersisa Diana, Rini dan Lani. Lani yang sejak tadi sudah curiga dengan Rini, ia pun langsung menghampiri mejanya Rini.
Rini yang tidak terima dengan perlakuan Lani. Ia pun langsung mendorong tubuh Lani agar menjauh dari nya.
"Jangan sembarangan kalau nuduh. Punya bukti nya gak lu?" tanya Rini setelah mendorong tubuh Lani
Diana yang melihat akan terjadi pertengkaran antara Lani dan Rini. Ia pun langsung menarik tangan Rini untuk ikut keluar bersama nya.
"Kita keluar sekarang aja, mbak. Gak perlu berantem sama Lani" ucap Diana sambil menarik tangan Rini
"Iya iya. Gue juga mau keluar kok. Udah lu jalan duluan aja sana. Gue masih bisa jalan sendiri" ucap Rini sambil melepaskan tangannya dari genggaman tangan Diana
Disaat Rini sedang jalan sendiri menuju luar kelas. Lani pun langsung berlari ke arah Rini, ia pun langsung mendorong tubuh Rini dengan cepat. Tubuh Rini pun tersungkur kemeja yang ada didepannya. Untung saja ia bisa menahan perutnya agar tidak terbentur oleh meja tersebut. Namun sayangnya tangan justru berdarah karena tidak sengaja tergores paku kecil yang ada diujung meja tersebut.
"Auuww" rintih Rini saat merasakan tangannya terluka
Diana yang mendengar rintihan Rini, ia pun langsung menghampiri nya.
"Mbak, mbak Rini kenapa? Apa yang sakit mbak?" tanya Diana dengan panik
"Tangan gue Na, tangan gue perih banget" ucap Rini sambil menunjukkan telapak tangan kanannya yang kini sudah bergelimang darah segar
"Astaghfirullah, mbak. Darahnya banyak banget. Aku langsung anterin ke klinik aja ya mbak" ucap Diana
Rini pun hanya bisa mengangguk kan kepalanya "Iya, bawa gue ke sana sekarang Na. Rasanya sakit banget"
Diana pun langsung bergegas membawa Rini ke klinik pesantren untuk mendapatkan perawatan medis untuk mengobati tangan nya.
"Assalamualaikum, permisi. Dok" sapa Diana saat memasuki klinik
"Wa'alaikumsalam. Ada apa ini? Apa yang terjadi pada mu, Rini?" tanya dokter Miriam
"Tangan nya tergores paku yang ada dimeja kelas, dokter" ucap Diana
"Astaghfirullah, ya sudah. Kalau begitu masuk kedalam. Saya akan langsung mengobati nya"
Disaat dokter Miriam tengah mempersiapkan peralatan dan obat-obatan nya. Farhan yang telah selesai dengan urusan kantor nya, ia pun menghubungi ponsel istrinya untuk mengetahui keadaan nya
****Kring****! Kring! Kring!
Ponsel Rini pun terus bergetar.
"Na, lu tolong ambil ponsel gue dong"
__ADS_1
"Ponselnya dimana, mbak?"
"Dikantong baju sebelah kanan"
Diana pun langsung merogoh saku bajunya Rini dan mengambil ponselnya Rini.
"Siapa yang nelpon, Na?"
"Pak ustadz yang nelpon, mbak"
Diana pun langsung merogoh saku bajunya Rini dan mengambil ponselnya Rini.
"Siapa yang nelpon, Na?"
"Ya udah, lu angkat aja"
"Cara angkat nya gimana mbak?"
"Lu geser aja logo gagang telepon warna hijau nya keatas"
"Oke deh mbak"
Setelah Diana menjawab panggilan telpon tersebut, ia langsung menempelkan ponsel tersebut ke telinga nya Rini.
"Assalamualaikum, sayang. Kamu lagi ngapain?"
"Wa'alaikumsalam mas. Aku lagi di klinik pesantren mas, ditemenin sama Diana"
Mendengar kata klinik, Farhan langsung melakukan pengereman secara mendadak.
"Kamu kenapa bisa ada di klinik, sayang? Kamu baik-baik aja kan? Tidak terjadi apa-apa dengan anak kita kan"
"Pokoknya mas Far harus pulang sekarang. Tangan ku rasanya sakit banget mas. Hiks.. hiks.. hiks.." ucap Rini sambil menangis menahan luka yang ada pada tangan nya
"Kamu tenang dulu ya, ini sebentar lagi mas sampai dipesantren. Kamu tahan sebentar lagi ya. Kalau gitu telpon nya, mas matiin dulu ya. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam, mas"
Setelah mematikan ponselnya, Farhan pun langsung memacu mobil nya dengan kecepatan tinggi. Dan dalam waktu 15 menit ia pun telah sampai di pesantren. Sesampainya disana ia langsung bergegas pergi ke klinik pesantren.
"Assalamualaikum" sapa Farhan
"Wa'alaikumsalam" jawab dokter dan Diana yang dari tadi sudah ada disana
"Mas" ucap Rini sambil mengulurkan tangannya pada suaminya
Farhan pun langsung menyambut uluran tangan istrinya dan langsung memeluknya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada istri saya, dok?"
"Tangannya Rini, tergores paku cukup dalam pak. Oleh sebab itu saya harus melakukan penjahitan pada luka nya"
"Lantas kenapa sampai sekarang belum dijahit juga, dok?"
"Masalah nya, dari tadi Rini menolak dijahit dengan nya sebelum pak ustadz datang"
"Benar begitu, sayang"
"Iya, mas"
"Kenapa kamu gak mau dijahit tangan nya, sayang?"
"Aku takut mas. Kalau ada mas, disamping aku. Aku jadi lebih tenang"
"Ya sudah, sekarang kamu liat wajah mas aja ya. Gak usah liat
kemana-mana, fokus aja liat wajah nya mas" ucap Farhan sambil duduk diatas ranjang tempat tidur istrinya
"Tapi kalau mandangin wajah nya mas, belum cukup. Aku pengen nya nyium bibir mas juga. Tapi disini kan masih ada Diana, mas" ucap Rini sambil menengok ke arah Diana yang masih sabar berdiri menunggu Rini diobati
"Diana, sebaiknya kamu kembali ke asrama saja. Disini udah ada saya yang menjaganya. Terimakasih udah membawa dan menemani nya sampai saat ini"
"Baik, pak ustadz. Kalau gitu saya permisi dulu, assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Setelah Diana pergi dari klinik. Farhan pun langsung menyambar bibirnya mungil istrinya. Selagi ia sibuk ******* bibir istrinya. Ia pun memberikan kode pada dokter Miriam untuk mengobati tangan istrinya dengan cepat. Saat dokter Miriam mulai menjahit luka di tangan nya Rini. Seketika Rini sedikit menarik tangan nya ketika ia merasakan sakit saat jarum tersebut mulai menyentuh tangan nya. Farhan yang mengetahui penolakan yang dilakukan istrinya. Ia pun langsung menahan tangan istrinya agar tidak
bergerak lagi dan ia pun memperdalam ciuman nya agar istrinya bisa melupakan sejenak rasa sakit yang ada ditangannya. Setelah 20 menit kemudian, dokter Miriam pun telah selesai menjahit dan juga memberikan perban pada tangan nya Rini. Farhan pun juga langsung menghentikan ciuman nya.
"Semuanya sudah selesai pak ustadz"
"Yakin sudah semua, dok?"
"Iya, pak. Dan untuk selama seminggu ini tangannya jangan sampai kena air dulu ya pak ustadz, nanti bisa infeksi"
"Baik, dok. Kalau begitu saya izin bawa istri saya pulang dulu ya, dok"
"Silahkan saja pak ustadz"
"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu. Assalamualaikum"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, pak ustadz"
Farhan pun langsung menggendong tubuh istrinya dan membawa masuk kedalam kamar nya. Sesampainya disana, Rini yang masih lemas karena kehilangan darah tadi, ia pun hanya bisa berbaring di atas tempat tidur nya.