
Disaat Rini dan Diana sedang asik bersantai dikamar asrama nya. Terdengar keributan dari kamar Lani. Lani yang sedang kehilangan sendalnya, kini tengah sibuk mengintrogasi teman-teman sekamarnya. Dan keributan yang dibuat oleh Lani pun sampai terdengar dikamar nya Rini dan Diana.
"Itu ada keributan apa ya mbak? Kok rame banget diluar"
"Gue juga gak tau. Kita liat keluar aja yuk"
"Ayo mbak" Mereka pun bergegas keluar mencari sumber suara keributan itu.
"Sekarang lebih baik kalian semua ngaku deh, siapa yang ngumpetin sendal gue, dari pada lu senmua gue laporin ke ustadzah Hani" ucap Lani pada teman-teman sekamarnya
Rini yang senang melihat Lani panik tidak bisa menemukan keberadaan sendal nya. la pun mencoba untuk mengejek nya.
"Ciieee.. yang kehilangan sendal nih yee. Sendal aja ogah deket-deket sama lu apa lagi orang lain" ejek Rini
Lani yang mengetahui kedatangan Rini ke kamar nya. la pun langsung bergegas menghampiri nya.
"Lu ngapain masuk ke kamar gue? Ini kan bukan kamar lu, pergi lu sana dari kamar gue"
"Diihh.. sewot bener. Makanya jadi orang jangan galak-galak. Jangan kan temen, sendal lu sendiri aja kabur ninggalin lu. Hahahaha"
"Lu kok bisa tau kalau sendal gue
ilang. Jangan-jangan lu ya yang ngumpetin sendal gue. Ngaku aja deh lu. Lu kan yang ngumpetin sendal gue?"
"Gak usah fitness deh jadi orang"
"Loh kok fitness sih mbak?" tanya Diana
"Itu loh, yang suka nuduh orang tanpa bukti, itu namanya apa sih?"
"Ohh.. itu mah fitnah mbak bukan fitness. Kalau fitness mah olahraga mbak"
"Nah itu dia maksud gue. Lu gak usah fitnah gue deh kalau gak ada bukti nya"
"Heh! Gue gak perlu ada bukti nya juga, gue yakin 100% kalau lu yang udah ngumpetin sendal gue. Secara yang nyari ribut sama gue akhir-akhir ini kan cuma lu aja" ucap Lani sambil mendorong tubuh Rini
"Lu kok jadi dorong-dorongan gue sih"
Rini yang tidak terima didorong oleh Lani. la pun langsung membalas Lani dengan mendorong tubuh nya juga.
"Syukurin, emang nya enak jatoh. Gak usah sok-sokan ngajakin gue ribut deh. Sampe kapan pun lu gak akan menang ngelawan gue" ucap Rini setelah mendorong Lani hingga terjatuh dilantai
Rini yang merasa puas setelah mendorong Lani hingga terjatuh. la pun langsung mengajak Diana untuk keluar dari asrama putri.
"Udah kita keluar aja dari sini Din"
"Mau kemana mbak?"
"Nyari angin. Panas gue kalau disini. Apalagi deket-deket sama setan jadi-jadian kayak dia"
Rini dan Diana pun langsung bergegas pergi meninggalkan Lani. Sementara itu Lani yang tidak terima disindir oleh Rini, ia pun langsung berdiri dan mengejar Rini.
"Heh! Lu bilang apa tadi? Lu bilang gue setan? Terus lu sendiri apa? Malaikat? Gak usah munafik deh jadi irang. Lu sama gue itu sama-sama setan jadi gak usah saling sindir"
"Emang nya siapa yang ngatain lu setan?"
"Lu, tadi didepan kamar gue. Lu kan yang nyindir gue, seolah-olah gue ini setan"
"Ciieee... jadi ceritanya ada yang ke sindir nih. Gue sih niatnya bukan nyindir lu. Tapi kalau lu ngerasa ke sindir. Berarti lu beneran setan. Hahaha... kita langsung pergi aja yuk Din, setan nya sebentar lagi mau ngamuk. Liat aja tuh mukanya udah mulai kebakar gitu"
Saat Rini hendak melangkah kan kakinya. Lani pun langsung menyelengkat kakinya Rini. Dan hal itu pun membuat Rini langsung tersungkur ke lantai saat itu juga.
__ADS_1
Rini yang murka, ia pun langsung berdiri untuk menghajar Lani. Namun belum sempat pukulan tangan nya mendarat di wajah nya Lani, Diana langsung menghentikan pergerakan tangannya Rini.
"Jangan berantem disini mbak. Liat tuh ada ustadzah Hani yang lagi jalan kesini. Lebih baik kita pergi dari sini aja deh. Dari pada nanti mbak, dihukum lagi sama ustadzah Hani" ucap Diana sambil menarik tangan Rini agar pergi secepatnya dari sana
"Kali ini lu bisa selamet. Tapi lain kali jangan harap lu bisa selamet dari amukan gue"
"Berisik lu. Cabut sana lu"
Rini dan Diana pun langsung pergi meninggalkan Lani seorang diri. Sementara itu ustadzah Hani mulai berjalan menghampiri Lani.
"Assalamualaikum, ustadzah"
"Wa'alaikumsalam, Lani. Kamu ngapain disini sendirian? Kamu juga kenapa tidak pakai sandal?"
"Hhhm.. jadi gini ustadzah. Sendal saya hilang, ini juga dari tadi saya udah coba nyari sendalnya tapi belum ketemu juga"
"Sendal? Kok bisa hilang? Memang nya kamu menaruhnya dimana?"
"Tadi sih ada didepan kamar saya, ustadzah. Tapi pas saya mau keluar, sendalnya udah hilang entah kemana"
"Mungkin sendal kamu itu tertukar dengan teman sekamar mu"
"Bisa jadi, ustadzah"
"Ya sudah, kalau gitu kamu silahkan dilanjutkan lagi mencari sendal nya. Saya juga mau lanjut berkeliling lagi. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam, ustadzah"
Selepas kepergian ustadzah Hani. Lani pun berkeliling kesetiap sudut di asrama putri untuk mencari keberadaan sendal milik nya. Namun di saat ia tengah sibuk mencari sendal nya. la pun melihat para santri putri yang berlarian menuju ke arah yang sama. Karena ia penasaran dengan apa yang terjadi. Lani pun juga mengikuti langkah kaki para santri putri tersebut.
Tidak lama kemudian Lani pun sampai ditaman. Disana sudah terlihat banyak sekali santri putri yang sedang berkumpul sambil berbisik perihal siapa pemilik sendal yang sedang tergantung di salah satu dahan pohon yang ada ditaman tersebut.
"Sialan, siapa nih yang berani-beraninya ngegantung sendal gue diatas pohon gini, mana ada tulisan diobral nya lagi. Enak aja dia mau jual sendal gue semurah ini"
"Woy, siapa nih yang berani-berani nya ngegantung sendal gue. Jawab lu semua jangan pada diem aja. Gak punya mulut lu semua" teriak Lani
Lani yang geram karena tidak ada yang menjawab pertanyaan nya ia pun langsung bergegas menaiki pohon tersebut untuk mengambil sendalnya. Disaat Lani sedang berusaha memanjat pohon tersebut. Rini dan Diana pun datang ke taman tersebut.
"Din. Lu mau liat monyet pake kerudung gak?" tanya Rini
"Emang nya beneran ada mbak?"
"Ada lah"
"Dimana mbak?"
"Tuh, lu liat aja. Sekarang monyet nya lagi diatas pohon" tunjuk Rini pada Lani yang sedang memanjat pohon tersebut
"Astaghfirullah, mbak. Itu mah Lani, bukan monyet mbak"
"Sama aja lah. Orang kelakuan nya juga sama ngeselin nya kayak monyet"
Lani pun terus memanjat pohon tersebut untuk mengambil sendalnya tanpa memperdulikan ucapan Rini dibawah sana. Setelah ia berhasil mendapatkan sendal nya kembali. Lani pun bergegas turun dari pohon tersebut untuk membalas perbuatannya Rini.
"Heh! Lu kalau mau ngajak gue ribut langsung bilang aja. Gak usah pake ngegantung sendal gue diatas pohon segala" ucap Lani sambil mendorong tubuh Rini
Rini yang tidak terima didorong oleh Lani. la pun langsung berdiri dan balas mendorong Lani. Adegan pukul memukul, jambak-menjambak dan cakar mencakar antara Rini dan Lani pun tidak bisa terhindar kan.
Keributan yang terjadi saat itu pun menarik perhatian para ustadz dan ustadzah. Mereka pun langsung menghampiri kerumunan para santri.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya ustadz Malik
__ADS_1
"Itu ustadz. Ada santri putri yang sedang berkelahi" ucap salah seorang santri putri
"Astaghfirullah itu kan istrinya ustadz Farhan. Ustadzah Hani anda tunggu disini sebentar ya, saya mau melaporkan hal ini kepada ustadz Farhan dulu" ucap ustadz Malik saat melihat Rini sedang berkelahi dengan Lani
"Iya, silahkan ustadz. Kalau bisa suruh ustadz Farhan datang kesini secepatnya ustadz" ucap ustadzah Hani
"Baiklah, Kalau gitu saya permisi, assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Ustadz Malik pun langsung bergegas berlari ke ruangan nya ustadz Farhan. Tidak lama kemudian ia pun sampai didepan ruangan nya ustadz Farhan.
Tok! Tok! Tok!
Ceklek!
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam. Kamu kenapa ngos-ngosan gitu Lik? Ada apa?
"Hah hah hahh .. i-itu Far, istrimu" ucap ustadz Malik dengan nafas tersengal-sengal
"Istriku? Memang nya apa yang terjadi dengan istriku?"
"Istri mu saat ini sedang berkelahi dengan santri putri lain ditaman"
"APA? Kamu serius Lik?"
"Serius Far. Udah ayo buruan kesana, kalau kebanyakan nanya, santri putri itu bisa babak belur karena terus dipukuli oleh istrimu"
"Ya sudah, ayo kita langsung ke sana"
Tidak lama kemudian ustadz Malik dan Farhan pun datang. la pun langsung masuk didalam kerumunan tersebut dan menghentikan pertikaian istrinya dengan santri putri itu.
"Rini! Hentikan! Apa-apaan kalian ini? Kalian ini santri dipesantren ini bukan preman pasar. Ngapain kalian bertengkar seperti ini. Memalukan!" maki Farhan saat menghentikan pertikaian istrinya dengan santri putri tersebut
"Dia duluan yang mulai, mas"
"Bohong.! Rini duluan yang mulai, ustadz"
"Enak aja, lu duluan tadi yang dorong gue"
"Rini Diam!! Sekarang kamu ikut saya. Dan ustadzah Hani, saya minta tolong anda urus santri yang satu ini" ucap Farhan pada ustadzah Hani sambil menunjuk Lani
"Baik, ustadz Farhan" sahut ustadzah Hani
Farhan pun langsung menarik tangan istrinya meninggal kan kerumunan tersebut.
"Mas, lepasin dong. Tangan ku sakit nih"
"Diam Rini. Saat ini saya benar-benar marah sama kamu. Lebih baik kamu diam sebelum saya berbuat kasar padamu"
Farhan pun terus menarik angan istrinya tanpa menghiraukan keluhan istrinya. Sesampainya di rumah nya. la pun langsung menyuruh istrinya masuk kedalam kamar.
"Masuk kedalam sekarang!"
"Mau ngapain mas"
"MASUK!! Saya bilang!"
Tanpa banyak tanya lagi Rini pun langsung masuk kedalam kamar nya. Setelah Rini masuk, Farhan pun langsung mengunci pintu kamar nya dari luar. la pun langsung pergi begitu saja tanpa memperdulikan teriakkan Rini dari dalam kamar yang terus saja meminta untuk dibukakan pintu nya.
__ADS_1