Istri Tomboy milik Pak Ustadz

Istri Tomboy milik Pak Ustadz
Amarah Mas Far!


__ADS_3

"Mas, bukain pintu nya. Mas Far!" ucap Rini sambil menggedor-gedor pintu kamar nya


Tidak lama kemudian Farhan pun kembali membuka pintu kamar nya dan masuk kedalam dengan membawa baskom kecil yang berisikan air es dan juga handuk kecil yang akan ia gunakan untuk mengompres tangan dan juga wajah istrinya yang sedikit memar.


Ceklek!


"Kamu dari mana aja sih mas? Kok tadi pintu nya kamu kunci sih?"


"Duduk disini sekarang!" ucap Farhan sambil menepuk tepi ranjang sebagai kode agar istrinya duduk disana


Rini pun hanya bisa pasrah menuruti perintah suaminya. la pun duduk di tepi ranjang nya dengan menghadap ke arah suaminya.


"Ulurkan tanganmu"


"Nih" ucap Rini sambil mengulurkan tangannya


Farhan pun dengan telaten langsung mengompres tangan istrinya yang sedikit memar karena ia menggenggam nya terlalu kuat saat menarik tangan istrinya tadi.


"liisshhh.. pelan-pelan mas" ringgis Rini saat Farhan mulai mengompres pergelangan tangannya


"Tahan sebentar"


Setelah selesai mengompres tangan dan wajah istrinya. la pun tidak lupa untuk mengoleskan salep untuk mengurangi memar dan luka yang ada di tangan dan wajah istrinya.


"Lebih baik kamu istirahat aja, jangan keluyuran kemanapun apa lagi bikin keributan yang baru. Tindakan yang kamu lakukan itu sudah bikin mas, benar-benar kecewa sama kamu.


Untuk itu, mas akan menskors kamu selama satu minggu begitu pun dengan santri putri yang bertengkar dengan kamu. Jadi selama seminggu kedepan kamu tidak boleh keluar dari rumah ini. Paham!"


"Paham, mas" ucap Rini sambil menundukkan kepalanya


Farhan pun langsung bangkit dari tempat duduknya. la pun mengambil beberapa buku miliknya yang berada dirak buku kamar nya.


"Ambil ini, dari pada kamu sibuk dengan ponsel kamu aja. Lebih baik selama dikamar, kamu baca dan pahami semua isi buku ini" ucap Farhan sambil memberikan setumpuk buku miliknya pada istrinya


"Sebanyak ini? Mas, serius nyuruh aku baca semua buku ini?"


"Bukan hanya dibaca namun dipahami juga isinya"


"Memang nya ini semua buku apa mas?"


"Itu semua buku tentang akidah akhlak dan ada beberapa buku juga mengenai cara menjadi istri yang sholehah. Kamu pahami isinya dengan baik.


Kalau kedepannya sikap kamu masih urakan seperti tadi. Mas, sendiri yang akan menghukum kamu didepan semua santri yang ada dipesantren ini. Paham!!"


"Ya elah, gimana gue mau paham isi dari buku sebanyak ini. Baca tulisan nya aja gue gak bisa' ucap Rini dalam hati sambil mengerucutkan bibirnya


"Gak usah cemberut gitu. Kalau cemberut terus nanti mas cium loh"


Mendengar ucapan suaminya, ia pun langsung menyipitkan matanya kearah suaminya.


"Modus banget sih mas, lagi marah masih aja sempet-sempetnya genit sama aku"


"Oohh. Jadi kamu maunya, mas marah-marah sama kamu seharian ini gitu?"


"Ya gak harus gitu juga. Cuma heran aja, biasa nya kalau suami yang lain tau istri bikin masalah apa lagi berantem sama orang lain pasti dia langsung marahin istrinya, ngebentak atau bahkan sampe mukul istrinya"


"Itu kan suami orang lain bukan suami kamu" ucap Farhan sambil mencubit hidung mancung istrinya


"Terus kalau mas sendiri itu tipe suami yang seperti apa kalau lagi marah?"


"Kalau mas lagi marah. Justru mas akan lebih banyak diam"


"Kenapa begitu mas?"


"Karena menurut mas, marah-marah itu bersumber dari bisikan setan. Dan biasanya kalau orang lagi marah-marah dia cenderung tidak bisa mengontrol ucapan nya.

__ADS_1


Kalau mas marah-marah sama kamu, dalam waktu satu atau dua jam emosi mas mungkin akan mereda, tapi apakah menjamin bahwa setiap ucapan kasar yang mas keluarkan saat mas sedang marah bisa hilang atau bahkan bisa kamu lupakan begitu saja dalam waktu satu atau dua jam kedepan?"


"Ya belom tentu mas"


"Itu dia maksud nya mas, terkadang kita gak tau apakah perkataan yang kita anggap sepele itu bisa menyakiti perasaan orang lain atau tidak. Jadi itu sebabnya mas lebih memilih diam untuk meredakan emosi mas.


Ya udah, kalau gitu mas keluar sebentar kamu disini saja jangan kemana-mana dan baca buku nya dengan baik. paham"


"Pahamn mas" ucap Rini sambil menundukkan kepalanya


Farhan yang memahami bahwa istrinya sama sekali tidak ingin membaca semua buku miliknya dikarenakan ia tidak tau cara membaca nya, ia pun memberikan sedikit dukungan untuk istrinya itu.


"Baca yang ada terjemahannya aja dulu, sisa nya nanti mas yang bantu bacain. Mas, keluar dulu ya.


Assalamualaikum" ucap Farhan sambil mengusap kepala istrinya


"Wa'alaikumsalam, mas"


Farhan pun langsung bergegas keluar dari kamar. la pun langsung menuju ke dapur untuk menaruh kembali baskom dan juga handuk yang tadi ia gunakan untuk mengompres tangan dan wajabh istrinya. Setelah itu ia pun langsung bergegas menuju ke pondok pesantren.


Sesampainya disana Farhan pun langsung masuk kedalam keruangan nya. Diruang nya tersebut sudah ada ustadz Malik, ustadzah Hani dan juga Lani yang sudah menunggu kedatangannya untuk mendengarkan hukuman apa yang hendak diberikan kepada Lani.


"Assalamualaikum" sapa Farhan


"Wa'alaikumsalam"


"Maaf sudah menunggu lama"


"Tidak apa-apa ustadz, silahkan duduk"


Farhan pun langsung duduk dikursi nya. Setelah itu ia pun mulai mengajukan pertanyaan kepada Lani sebelum mengatakan hukuman yang akan ia berikan kepada Lani.


"Baiklah. Sebelum saya memberikan kamu hukuman. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada mu. Saya harap kamu mengatakan nya dengan jujur. Bisa kan?" tanya Farhan pada Lani


"Bisa ustadz"


"Sejak beberapa hari yang lalu ustadz"


"Awal mula kalian bertengkar karena masalah apa?"


"Sebenarnya hanya karena masalah sepele ustadz"


"Masalah sepele? Masalah apa itu?"


"Jadi gini ustadz, beberapa hari yang lalu. Rini dihukum oleh ustadz Malik untuk membersihkan kamar mandi. Dan kebetulan saat itu saya ingin kekamar mandi karena udah kebelet buang air.


Waktu itu saya tidak tau kalau Rini sedang membersihkan kamar mandi, jadi saya masuk begitu saja. Dan tiba-tiba Rini marah dan memukuli kaki saya dengan tongkat sikat kamar mandi yang sedang ia gunakan untuk menyikat lantai kamar mandi. Sejak saat itu lah kami selalu bertengkar satu sama lain"


"Apa benar begitu, ustadz Malik?"


"Itu benar ustadz, saat itu memang saya sendiri yang memberikan Rini hukuman seperti itu"


"Memang nya dia melakukan kesalahan apa sampai bisa dihukum?"


"Dia telat masuk kedalam kelas selama setengah jam, ustadz'"


"Telat sampai setengah jam? Dihari apa dia telat?"


"Dia telat, waktu ustadz Farhan pergi keluar kota"


"Ouwh.. iya iya saya baru inget. Dia sebenarnya tidak telat. Tapi lebih tepatnya dia telat karena mengantar kepergian saya waktu itu"


"Maaf ustadz, saya tidak tahu perihal tersebut. Jika saja saya tahu kalau Rini telat karena mengantar kepergian ustadz waktu itu, saya tidak akan menghukum nya"


"Tidak perlu minta maaf ustadz Malik. Yang anda lakukan itu sudah benar. Walaupun Rini itu istri saya. Namun di pondok ini dia tetap lah santri biasa sama seperti santri yang lain. Jadi tidak perlu diberikan perlakuan khusus" ucap Farhan

__ADS_1


"Lantas hal apa yang membuat kamnu dan Rini bisa saling pukul ditaman tadi?" tanya Farhan lagi


"Itu karena Rini yang mulai duluan ustadz. Dia ngambil sendal saya dan menggantung nya di dahan pohon tadi. Dia juga membuat tulisan diobral 5 ribu didekat sendal saya yang dia gantung"


"Apa kamu yakin itu semua perbuatannya Rini?"


"Yakin ustadz, karena akhir-akhir ini yang selalu cari ribut sama saya hanya Rini"


"Apa kamu punya bukti nya, kalau Rini yang melakukan semua itu?"


"Tidak ada ustadz"


"Jika kamu tidak mempunyai bukti yang kuat kalau Rini pelaku nya. Itu sama saja kamu memfitnah Rini. Kamu tau kan fitnah itu jauh lebih kejam dari pembunuhan"


"Saya tau ustadz. Tapi saya yakin 100% kok kalau itu semua ulah nya Rini"


"Iya saya paham. Tapi kalau kamu mau menunjuk seseorang sebagai pelakunya, keyakinan kamu saja itu tidak cukup. Kamu butuh bukti ataupun saksi untuk memperkuat keyakinan kamu itu.


Dan berdasarkan laporan dari para ustadz dan ustadzah disini maupun berdasarkan kejadian yang hari ini sudah saya saksikan secara langsung. Saya memutuskan bahwa, selama satu minggu ke depan kamu di skors. Kamu tidak boleh mengikuti kegiatan belajar dipondok dan hanya boleh berdiam diri di kamar asrama kamu saja. Jelas!"


"Jelas, ustadz. Tapi apa Rini juga di skors juga ustadz?"


"Tentu, meskipun dia istri saya. Sekali hukuman tetap hukuman. Dia harus menerima apapun hukuman dari ulah yang dia perbuat. Sekarang kamu bisa kembali ke kamar kamu. Dan untuk kedepannya saya harap kamu jangan bertengkar dengan Rini lagi. Paham!"


"Paham ustadz, kalau gitu saya izin pamit kembali ke asrama ustadz, ustadzah. Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Lani pun langsung keluar dari ruangan nya Farhan setelah mengetahui hukuman yang ia terima. Sementara itu ustadz Malik dan ustadzah Hani masih sibuk melaporkan segala tindakan yang dilakukan oleh Rini selama di dalam kelas maupun di area asrama santri putri.


Farhan pun dibuat terkejut dengan laporan yang disampaikan oleh ustadz Malik dan ustadzah Hani mengenai kelakuan istrinya itu.


"Laporan dari saya cukup sampai disini, ustadz Farhan. Apa ada hal lain yang ingin ditanyakan?" tanya ustadzah Hani


"Saya rasa sudah cukup dan tidak ada yang perlu saya tanyakan lagi. Namun untuk kedepannya, apapun yang dilakukan oleh Rini diasrama putri tolong kamu catatan dan laporkan kepada saya tiap minggunya, apa bisa Ustadzah Hani?"


"Insyaallah bisa ustadz. Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya mohon izin untuk pamit. Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Setelah kepergian ustadzah Hani. Ustadz Malik pun langsung mendekati tempat duduknya Farhan untuk bertanya apakah ia baik-baik saja. Karena ia melihat dari tadi ustadz Farhan sesekali meringis seperti sedang menahan rasa sakit


"Kamu kenapa Far? Dari tadi saya liat kamu seperti sedang meringis gitu?" tanya ustadz Malik. Selain sebagai seorang pengajar dipesantren tersebut. Ustadz Malik merupakan sahabat karib ustadz Farhan sejak masih menjadi santri dipondok pesantren yang sama. Jadi, jika Farhan sedang ada keperluan mendesak, ia sering kali meminta bantuan ustadz Malik.


"Biasalah Lik. Sakit gigi saya kumat lagi"


"Kamu udah minum obat nya?"


"Udah. Tapi sepertinya kurang manjur obat nya"


"Apa perlu saya carikan obat sakit gigi yang lain?"


"Untuk sekarang, seperti nya tidak perlu. Terimakasih perhatian nya Lik"


"Ya sudah. Kalau begitu saya pamit keluar ya. Saya harus mengajar lagi di pondok putra. Kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa hubungi saya langsung"


"Nanti saya pasti akan hubungi kamnu, kalau saya memang membutuhkan bantuan kamu Lik, terimakasih atas tawaran nya"


"Baiklah. Kalau gitu saya permisi dulu, assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Ditengah rasa sakit yang kini tengah menyerang nya. Farhan tetap melanjutkan pekerjaannya. la pun tetap mengajar dikelas santri putra sambil sesekali merasakan gigi nya yang semakin berdenyut. Setelah sore hari, Farhan pun langsung bergegas kembali ke rumah nya. Karena kesibukan dan berbagai masalah yang ia hadapi hari ini ia merasa tubuh maupun pikiran nya sangat lelah. Ia pun tidak sanggup jika harus masuk kedalam kamar nya dan bertemu dengan istrinya, karena ia tau pasti nanti nya istrinya tidak berhenti mengajukan pertanyaan pada nya dan pastinya hal itu akan membuat sakit gigi nya semakin parah maka dari itu ia memilih untuk menenangkan diri nya dan tidur dikamar tamu.


Sementara itu Rini sejak tadi menunggu kedatangan suaminya kembali ke kamar mereka. Namun hingga larut malam Farhan pun tidak kunjung datang kekamar nya dan hal itu membuat Rini berpikiran macam-macam.

__ADS_1


"Mas Far kemana sih? Kok udah tengah malam gini belom masuk kamar sih? Padahal biasanya setiap selesai isya dia selalu ngajakin gue makan malem bareng. Kok sekarang malah gak dateng ke kamar sih? Apa mas Far marah beneran ya sama gue? Kalau mas Far marah beneran, terus apa guna nya tadi dia ngomong baik-baik begitu kalau ujung-ujungnya aku dicuekin gini. Lalu gimana caranya ya supaya mas Far bisa maafin gue sepenuh nya dan bisa baik lagi seperti sebelumnya?"


Begitu banyak pertanyaan yang terlintas dipikiran nya Rini saat menunggu kedatangan suaminya. Namun yang ia tunggu tidak kunjung datang sehingga tanpa sadar, ia pun sudah terlelap dengan sendirinya diatas kursi yang ada didekat meja kerja suaminya.


__ADS_2