Istri Tomboy milik Pak Ustadz

Istri Tomboy milik Pak Ustadz
Salah Paham


__ADS_3

Rini pun merasa puas saat melihat Suaminya diceramahi oleh Abah nya sendiri. Karena kesal melihat Rini yang tersenyum-senyum sendiri karena melihat nya diceramahi oleh Abah nya. Farhan pun tidak tinggal diam.


"Far, paham tentang semua itu Abah. Tapi sebagai suami bukan nya Far juga berhak mendapatkan hak Far sebagai suami kan, Bah" tanya Farhan sambil melirik kearah istrinya


'Hak? Maksud dia apa coba ngomong masalah hak?' batin Rini


"Kamu benar, Far. Sebagai seorang istri sebaiknya kamu juga harus siap Memberikan hak nya untuk suami mu, Rini"


"Hak? Hak apa ya Abah? Apa hak sepatu? Tapi kan mas, Far cowok bukan cewek ngapain juga aku harus ngasih dia sepatu yang ada hak nya" tanya Rini


"Kamu ini ada-ada aja. Bukan hak sepatu yang Abah maksud, nak. Tapi hak nya Farhan untuk mendapatkan pelayanan dari kamu sebagai istri nya"


"Pelayanan? Pelayanan seperti apa Abah?"


"Ya, banyak. Dalam hal mempersiapkan segala keperluan nya. Mulai dari makanan nya, pakaian nya bahkan sampai dalam hal ranjang pun kamu harus bisa melayani suami mu dengan baik"


"Tapi kan Rini masih muda Abah. Rini mana paham, bagaimana caranya melayani mas Far di ranjang. Rini juga kan belum siap. Gak apa-apa kan Abah kalau Rini belum bisa memberikan hak yang satu itu untuk mas, Far"


"Abah mengerti kekhawatiran kamu. Tapi ada satu hal yang harus kamu ingat. Jika suami mu ingin menggauli mu, namun kamu menolak ajakan nya. Maka malaikat akan mengutuk mu sampai terbit nya fajar"


Mendengar penjelasan dari Abah. Seketika Rini pun langsung menelan salivanya saat itu juga. la tidak tau bahwa hukuman nya semenakut itu. Dikutuk sampai pagi? Kalau dia mintanya siang bolong, terus gue nolak. Otomatis dari siang sampai Besok pagi hidup gue dikutuk malaikat dong. Iihh serem banget sih. Yang ada hidup gue tambah sial kalau dikutuk sepanjang hari. Tapi gue kan juga belum siap ngelakuin nya sama dia. Apalagi dari artikel yang gue baca, kalau baru pertama kali itu katanya sakit banget. Akhh.. kok jadi gue yang serba salah gini sih' batin Rini


"Kamu gak apa-apa kan, nak" ucap kiyai Saleh sambil menepuk pundakRini untuk menyadarkan nya dari lamunannya sendiri


"I-iya, bah. Gak apa-apa"


"Ya sudah kalau begitu. Abah duluan ya. Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam,bah" Setelah kepergian kiyai Saleh. Rini Pun masih melamun memikirkan perkataan Abah nya tadi. Melihat istrinya melamun seperti itu, Farhan pun langsung mendekati nya.


"Bagaimana? Udah siap belum memberikan hak untuk ku nanti malam?"


"lissh.. ngapain deket-deket sih, mas. Ini tempat umum loh" ucap Rini sambil mendorong tubuh suaminya


"Jadi kalau ditempat private boleh dong deket-deket"


"Hhhmm.. i-iya gak gitu juga. Au ah, kamu mah nyebelin. Curang!"


"Loh kok ngambek sih? Emang nya saya curang dari mana sih?"


"Iya kamu, curang. Saya kan deketin kamu tadi gara-gara kamu gak mau Ngasih saya duit. Tadi nya saya udah seneng kamu diceramahi Abah, tapi ujung-ujungnya saya juga ikut diceramahi"


"Hahaha... jadi gara-gara itu kamu ngambek. Ya udah, nih ambil" ucap Farhan sambil membuka dompetnya dan memberikan kartu ATM pada istrinya


"Katanya tadi gak punya duit, sekarang malah ngasih kartu ATM"

__ADS_1


"Saya memang gak punya duit cash. Nih liat saja gak ada selembar pun kan" ucap Farhan sambil menunjukkan isi dompetnya


"Bilang kek dari tadi kalau gak ada uang cash. Kan gak perlu pake acara pegang pegang segala"


"Gak usah kesel gitu. Saya liat tadi Kan kamu juga yang semangat banget pegang-pegang nya"


"Ish.. apaan sih. Mas, juga sama. Kesenangan kan dipegang-pegang"


"Tentu seneng lah. Apalagi kan yang megang istri sendiri. Cuma tempat nya aja yang gak mendukung Bagaimana kalau acara pegang-pegang nya dilanjut dikamar aja" goda Farhan


"Dasar ustadz mesum. Minggir, aku mau lewat nih" Karena tidak tahan dengan rayuan nya Farhan. Rini pun langsung berlari meninggalkan suaminya.


"Nanti malam harus jadi ya. Kalau gak, kamu dikutuk malaikat loh sampai pagi


"Au ah.. aku gak mau denger. Mas, Far rese, nyebelin" ucap Rini sambil menutup telinga nya dan berlari menjauhi suaminya.


"Dasar bocah, baru diledek begitu aja udah ketakutan gitu. Gayanya aja sok jagoan. Ternyata cuma jagoan neon" Farhan pun melanjutkan langkahnya kembali ke ruang pengajar. Sedangkan Rini pun langsung mencari keberadaan Diana di dalam asrama putri.


"Woy. Lagi ngapain lu? Bengong aja" tegur Rini saat melihat Diana sedang melamun di dalam kamar seorang diri


"Astaghfirullah, mbak. Kamu ngagetin aku aja. Kalau mau masuk tuh pake salam dulu jangan langsung ngagetin orang gitu"


"Iya sorry sorry. Lu lagi ngapain sih? Bengong aja sendirian. Entar kesambet loh"


"Astaghfirullah, amit-amit loh mbak. Jangan ngedoain yang aneh-aneh deh"


"Emang nya aku boleh cerita sama mbak?


"Ya tentu boleh lah. Lu kan satu-satunya temen baik gue disini, ya walaupun lu sedikit kampungan plus nyebelin sih"


"Mbak, kalau gak niat muji saya. Lebih baik gak usah muji deh kalau ujung-ujungnya di jatohin juga"


"Hahaha.. iya sorry. Tapi emang begitu kenyataannya kan"


"Au ah"


"Iya maaf deh. Udah sekarang buruan cerita, lu punya masalah apa? Siapa tau gue bisa bantu"


"Jadi gini mbak. Tadi ibu saya nelpon, dan mengabarkan bahwa adik saya sakit dan sekarang sedang dirawat dirumah sakit. Ibu saya bingung harus nyari uang kemana lagi, sedangkan bapak saya cuma petani"


"Ouwh. jadi itu masalah nya. Ya udah kalau gitu, sekarang lu temenin gue makan bakso diluar yuk. Gue lagi pengen bakso nih"


"Saya udah cerita panjang masalah saya loh mbak, tapi kenapa respon nya cuma'oh' malah sekarang ngajak makan bakso diluar. Saya gak mau ah, Nanti bisa-bisa saya dihukum karena keluar pesantren tanpa izin"


"Soal izin mah gampang gue yang urus. Sekarang lu tunggu gue di depan gerbang ya. Awas kalau sampe lu gak dateng, gue pecat lu jadi temen"

__ADS_1


"Iya, mbak! Sebenarnya mbak mau ngajak saya makan bakso apa ngajak ribut sih. Pake ngancem segala"


"Dua-duanya. Ya udah, gue keluar dulu minta izin. Lu langsung ke gerbang ya"


Siap, mbak"


Rini pun langsung berlari menuju ruang pengajar untuk mencari keberadaan suaminya itu. Karena semua ustadz maupun ustadzah sudah mengetahui tentang pernikahan Farhan dan Rini. Saat Rini datang pun, mereka sama sekali tidak terganggu.


"Mas" sapa Rini


"Ucapkan salam dulu, Rini'"


"Iya iya lupa. Assalamualaikum, mas Far. Suami ku yang paling tampan dipesantren ini. Udah puas kan"


"Wa'alaikumsalam. Lumayan, hehehe. Tapi kenapa saya tampan nya cuma dipesantren ini aja, kenapa gak di seluruh dunia gitu"


"Masih untung di bilang ganteng, bersyukur dikit kek. Ini malah protes"


"Iya iya, terimakasih udah ngakuin kalau saya ini ganteng"


"Terpaksa tau"


"Hhmm.. pasti ada mau nya nih?"


"Itu tau, hehehe"


"Mau minta apa lagi?"


"Gak minta yang aneh-aneh kok. Aku cuma minta izin buat keluar pesantren aja sebentar"


"Mau ngapain? Sama siapa? Lama gak? Mas anterin ya"


"Huusstt... bisa gak nanya nya satu-satu jangan diborong sekaligus" ucap Rini sambil menempelkan jari nya dibibir suaminya itu


"Aku tuh cuma mau makan bakso aja sebentar sama Diana temen sekamar ku. Sekalian minta pin ATM nya. Kan gak mungkin juga aku bayar baksopake kartu ATM" sambung Rini Oh begitu. Ya sudah, tapi jangan lama-lama. Kalau dalam waktu satu Jam kamu belum kembali ke pesantren. Saya akan mencari kamu kesetiap tukang bakso"


"Lebay banget deh. Udah buruan nomor PIN nya berapa?"


"Sini deketan, mas bisikin nomor PIN nya"


Rini pun langsung mendekatkan telinganya untuk mendengarkan nomor PIN ATM pemberian suaminya. Namun saat Farhan sedang membisikkan nomor PIN ATM nya. Tiba-tiba....


"Astaghfirullah, kalian ini. Kan sudah Abah bilang. Kalau ingin bermesraan, lakukan dikamar kalian jangan ditempat umum"


"Abah? Maaf, bah. Far, hanya membisikkan nomor PIN ATM saja tidak bermesraan kok"

__ADS_1


"Awalnya sih begitu, tapi kalau Abah gak dateng kan bisa ada plus-plus nya" ucap Rini


Mendengar ucapan istrinya, Farhan pun langsung mendelik tajam kearah istrinya itu. Dan seketika Rini pun langsung berlari keluar dari ruangan pengajar setelah ia berpamitan pada suami dan juga mertuanya. Ia buru-buru pergi karena tidak ingin mendapatkan ceramah tambahan dari suami dan juga mertuanya itu.


__ADS_2