
Setelah pulang dari rumah sakit, Farhan pun langsung menggendong istrinya kedalam kamar dan membaringkan tubuh istrinya diatas tempat tidur.
"Sekarang kamu istirahat saja dikamar, tidak boleh keluyuran kemana-mana apa lagi bikin ulah. Mas, gak mau ya anak yang didalam kandungan kamu itu kenapa-kenapa" ucap Farhan setelah membaringkan tubuh istrinya ditempat tidur
"Iya, mas. Posesif banget sih. Kata dokter aja kandungan aku ini kuat loh mas. Jadi mas gak perlu berlebihan seperti itu" ucap Rini sambil mengusap perutnya yang masih rata
"Gak ada yang berlebihan, sayang. Mas, hanya berjaga-jaga supaya hal buruk tidak terjadi pada kamu atau pun calon anak kita"
"Terserah mas aja deh. Saat ini aku juga udah ngantuk mas. Sebaiknya mas, pergi aja kalau masih ada urusan lain"
"Gak! Hari ini, mas gak akan kemana-mana. Mas, akan terus ada disamping kamu untuk menjaga kamu dan calon anak kita" ucap Farhan sambil ikut berbaring disamping istrinya
"Ck. Terserah mas aja deh"
Mereka pun akhirnya tidur bersama dengan raut wajah yang begitu bahagia setelah mendengar kabar baik yang mereka dengar hari ini. Setelah dua jam kemudian, Farhan pun bangun terlebih dahulu. Sedangkan Rini masih tertidur pulas disamping nya. Farhan yang tidak ingin mengganggu waktu tidur istrinya, ia pun turun dari ranjang dengan sangat hati-hati. Setelah itu ia langsung bergegas keluar dari kamar nya.
"Loh, Far. Kamu kok masih dirumah? Katanya kamu mau keluar ada urusan?" tanya ummi Maryam
"Tidak jadi, ummi. Hari ini Far ingin fokus merawat Rini dulu ummi"
"Memang nya Rini sakit?"
"Tidak ummi. Saat ini Rini sedang hamil 4 minggu ummi"
"Hamil? Kamu serius Far?"
Farhan pun langsung mengangguk kan kepalanya dengan cepat "Iya, ummi"
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah atas karunia yang telah engkau titipkan dirahim menantu ku" ucap ummi Maryam
"Mulai saat ini kamu harus menjaga istri kamu dengan baik Far. Kalau sampai Rini dan kandungan nya kenapa-kenapa, ummi akan sangat marah kepada mu" ucap ummi Maryam sambil memberikan ultimatum pada putra sulung nya
"Iya, ummi. Far pasti akan menjaga Rini dan calon anak kami dengan baik. Kalau begitu, Far titip Rini sebentar ya ummi. Far mau ke minimarket untuk membeli susu ibu hamil untuk Rini. Saat ini Rini sedang tertidur pulas didalam, ummi"
"Ya sudah, kamu pergi aja ke minimarket. Biar ummi yang menjaga Rini"
"Terimakasih, ummi. Kalau begitu Far pamit dulu, ummi. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Farhan pun langsung bergegas pergi ke minimarket untuk membeli susu ibu hamil yang akan dikonsumsi oleh istrinya. Sesampainya di dalam minimarket tersebut. Farhan langsung bertanya kepada petugas minimarket tersebut dimana letak susu untuk ibu hamil. Setelah ditunjukkan oleh petugas minimarket tersebut dimana letak susu ibu hamilnya. Ia langsung bergegas menuju rak tempat menyimpan berbagai produk susu untuk ibu hamil.
"Kenapa jadi sebanyak ini sih susu hamil nya? Terus aku harus beli yang mana? Gak mungkin juga kan aku beli semua merek susu hamil yang ada dirak ini. Bisa bangkrut aku yang ada" ucap Farhan ditengah kebingungan nya
Karena ia tidak tau, susu mana yang harus ia beli. Akhirnya ia pun kembali menanyakan kepada petugas minimarket tersebut tentang susu ibu hamil merek apa yang paling banyak dibeli oleh orang-orang. Setelah mengetahui merek susu ibu hamil yang biasa dibeli oleh orang-orang, Farhan pun langsung mengambil masing-masing satu kotak untuk setiap rasa yang ada.
"Seperti nya segini udah cukup deh"
Setelah selesai membeli susu ibu hamil untuk istrinya. Ia pun langsung menyimpan kotak susu tersebut didapur. Ia pun tidak lupa untuk langsung membuat kan susu tersebut untuk diminum oleh istrinya. Setelah selesai membuat susu tersebut. Ia langsung bergegas kembali ke kamar nya untuk memberikan susu tersebut pada istrinya.
"Assalamualaikum" salam Farhan "Kamu kok udah bangun sayang?" tanya Farhan
"Wa'alaikumsalam salam Nak. Karena kamu udah ada disini. Ummi kembali kekamar dulu ya" ucap ummi Maryam
"Iya, ummi. Terimakasih sudah membantu menjaga Rini, ummi" ucap Farhan
"Tidak perlu berterima kasih seperti itu, sayang. Rini kan sudah ummi anggap sebagai putri ummi juga. Jadi ummi tidak merasa direpotkan. Ya sudah, kalau begitu. Ummi kembali ke kamar ummi dulu ya. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam, ummi"
Setelah ummi Maryam keluar dari kamar mereka. Rini pun langsung bertanya pada suaminya tentang gelas minuman yang sedang dipegang oleh suaminya.
"Aku bosen mas tidur mulu. Oh iya, itu apa yang ditangannya mas?" tunjuk Rini pada gelas yang dibawa oleh suaminya
"Oh ini. Ini namanya susu untuk ibu hamil sayang. Mulai hari ini setiap hari mas sendiri yang akan membuatkan kamu susu ini. Sekarang kamu minum susu nya dulu ya, supaya bayi nya tetap sehat didalam sini" ucap Farhan sambil mengusap perut istrinya yang masih rata
Rini pun langsung meminum susu pemberian suaminya. Namun baru seteguk ia meminum nya. Ia pun langsung memberikan kembali gelas susu tersebut pada suaminya.
"Loh, kenapa gak dihabiskan, sayang?"
"Rasanya gak enak mas. Bikin aku mual nyium aroma susu nya"
"Terus kamu mau yang rasa apa sayang?"
"Emang ada berapa rasanya mas?"
"Ada 5 sayang, ada coklat, vanilla, moka, kacang hijau dan strawberry.
__ADS_1
Kamu mau yang mana, sayang?"
"Kamu buatin empat rasa yang lain deh mas. Nanti baru aku bisa tau, susu mana yang aku suka"
"Ya sudah. Kalau begitu. Kamu tunggu sebentar ya. Mas akan kedapur untuk membuat susu dengan empat rasa yang lain" ucap Farhan sambil bergegas pergi membawa kembali susu coklat disukai yang tidak disukai oleh istrinya.
Setelah cukup lama berada di dapur. Farhan pun langsung kembali masuk kedalam kamar nya dengan membawa nampan yang berisi empat gelas susu ibu hamil dengan rasa yang berbeda-beda.
"Ini, sayang. Mas udah bikinin susu dengan empat rasa yang berbeda. Sekarang kamu bisa langsung mencicipi nya"
Rinipun langsung mengambil gelas susu tersebut dan mencicipi nya satu persatu.
"Bagaimana, sayang? Rasa apa yang kamu suka?"
"Rasa strawberry mas. Rasanya lebih enak dari pada rasa yang lain dan gak bikin aku mual"
"Oke. Kalau begitu. Untuk kedepannya mas akan menyetok susu yang rasa strawberry untuk kamu minum setiap hari ya, sayang"
"Iya, mas"
Setelah selesai menghabiskan susu strawberry bikinan suaminya. Rinipun langsung bergegas turun dari tempat tidur nya. Namun belum sempat kaki nya menyentuh lantai. Farhan pun langsung menghentikan pergerakan istrinya.
"Kamu mau kemana sayang?"
"Aku mau kedepan aja mas. Bosen aku kalau didalam kamar terus"
"Tapi kan dokter meminta kamu untuk istirahat sayang"
"Aku udah kenyang istirahat nya mas. Aku cuma mau duduk di teras depan aja, mas"
"Ya sudah. Kalau gitu, biar mas temenin ya"
"Boleh deh. Dari pada didalam kamar terus"
Farhan pun langsung membawa istri nya keluar dengan sangat hati-hati.
Sesampainya didepan teras, ia pun langsung menduduki istrinya dikursi yang ada di teras depan dengan sangat hati-hati.
"Udah, sekarang kamu duduk diem dengan tenang disini. Jangan kemana-mana ya. Mas, mau kekamar mandi dulu, sebentar"
"Iya, mas"
"Mbak, Rini" panggil Diana
"Hhhmmm"
"Kenapa jutek banget sih mbak?"
"Siapa yang jutek? Biasa aja kok gue"
"Oh iya mbak. Tadi aku liat, mbak dibawa ustadz Farhan pergi pakai mobil nya. Mbak tadi dibawa kemana sama ustadz Farhan?"
"Ke rumah sakit"
"Rumah sakit? Mbak baik-baik aja kan? Ada yang luka parah gak mbak?" tanya Diana sambil memeriksa tubuh Rini untuk memastikan temannya itu baik-baik saja atau tidak
"Woy. Gue baik-baik saja tau. Jadi berhenti deh lu megang-megang gue, geli tau"
"Saya kan khawatir sama mbak"
"Gue baik-baik aja, Diana. Justru sekarang ini gue itu lagi hamil"
"Hamil? Mbak lagi hamil? Kok bisa sih mbak?"
Karena kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh temannya itu. Rinipun langsung mencubit lengannya Diana.
"Auuww... Kenapa mbak nyubit tangan aku sih? Kan sakit tau mbak" keluh Diana
"Syukurin, maka nya jadi orang kalau mau ngomong itu disaring dulu jangan asal manggap. Tomboy tomboy begini kan gue tetep perempuan, apalagi gue udah punya suami. Tentu aja bisa hamil lah"
"Jadi mbak beneran hamil nih?"
"Iya, gue lagi hamil 4 minggu"
"Wah. Selamat ya mbak. Aku jadi gak sabar deh nungguin mbak lahiran"
"Masih lama woy, gue aja baru hamil 4 minggu"
__ADS_1
"Hehehe.. maklum mbak, saya kan udah gak sabar pengen liat anaknya mbak sama pak ustadz. Apalagi mbak sama pak ustadz kan sama-sama cakep. Pasti anaknya juga cakep dan lucu-lucu"
"Terserah lu aja deh. Oh iya. Kalau lu lagi gak ada kerjaan. Gimana kalau lu ngajak muter-muter deh disekitar sini atau ke asrama putri deh. Bosen gue disuruh tidur didalem kamar mulu"
"Boleh, mbak. Tapi mbak harus minta izin dulu sama pak ustadz. Nanti dia kebingungan loh nyariin mbak"
"Lu tenang aja, tadi gue udah bilang kok sama mas Far. Ya udah, kita jalan sekarang aja yuk"
"Ya sudah, bagus deh kalau mbak udah izin sama pak ustadz. Mari saya bantu mbak" ucap Diana sambil membantu Rini berdiri dari kursinya
Setelah Rini dan Diana pergi, Farhan pun telah kembali dari toilet. Sesampainya ia didepan teras. Ia pun langsung terkejut saat mengetahui istrinya sudah tidak ada dikursi tersebut.
"Rini kemana sih? Kan udah aku bilang jangan kemana-mana. Kenapa susah banget dibilangin sih"
Farhan pun langsung bergegas menuju ke asrama putri untuk mencari keberadaan istrinya. Karena menurut nya, jika Rini tidak ada dirumah. Pasti ia ada diasrama putri untuk menemui Diana. Sesampainya disana ia pun melihat istrinya tengah asik berbincang dengan Diana dan teman-teman sekamarnya.
"Ayo pulang sekarang" ucap Farhan sambil menarik tangan istrinya
"Gak mau mas. Aku masih betah disini"
"Seharusnya kamu izin dulu sama mas, kalau kamu mau main kesini. Mas dari tadi khawatir loh saat tidak melihat kamu diteras tadi"
"Tadi kata mbak. Mbak udah izin sama pak ustadz. Jadi yang bener yang mana nih, mbak?" bisik Diana
"Lu diem aja dulu deh, jangan memperkeruh suasana" bisik Rini pada telinga Diana "Sekarang tidak ada tawar menawar lagi. Kamu harus ikut mas pulang sekarang"
"Iya mas. Aku ikut kamu pulang kok. Jangan marah-marah gitu dong. Nanti anak kita takut loh kalau bapaknya marah-marah terus" ucap Rini sambil mengusap perutnya yang masih rata
"Huh! Iya iya. Maafin Abi yang sayang, Abi gak maksud marah-marah kok tadi" ucap Farhan sambil berjongkok dan mengusap perut istrinya yang masih rata
"Kok panggilan nya Abi sih mas?"
"Iya, sayang Abi itu kan artinya bapak atau ayah. Jadi setelah anak kita lahir nanti dia akan manggil mas dengan sebutan Abi dan manggil kamu dengan sebutan umma"
"Abi dan umma? Gak mau ah mas. Terlalu islami banget gak cocok sama aku yang tomboy ini mas. Aku mau sesuatu yang beda dari yang lain"
"Terus kamu maunya dipanggil apa, sayang?"
"Hhmmm.. bagaimana kalau nama panggilan nya papski dan mamski. Biar lebih keren mas"
"Tidak, mas tidak mau dipanggil seperti itu oleh anak-anak kita nantinya"
"Anak-anak? Memang nya mas yakin akan punya banyak anak dari aku"
"Ya yakin dong. Bahkan firasat mas mengatakan bahwa, anak yang ada didalam perut kamu ini gak cuma satu, sayang" ucap Farhan sambil mencium perut istrinya
"Kenapa harus lebih dari satu sih mas? Ngurusin satu anak aja udah repot apalagi kalau lebih dari satu"
"Astaghfirullah. Istighfar sayang. Kamu gak boleh mengatakan hal seperti itu. Seharusnya kamu bersyukur dikasih keturunan lebih dari satu. Diluar sana justru banyak loh, pasangan yang sudah menikah lebih dari 5 tahun atau bahkan 10 tahun tapi belum dikasih kepercayaan untuk merawat seorang anak"
"Astaghfirullah. Maafin ucapan ku yang tadi ya mas. Aku bukan bermaksud menolak rezeki. Aku cuma khawatir aja kalau nanti kerepotan ngurusin mereka sendirian"
"Kamu gak perlu khawatir seperti itu sayang. Mas, akan selalu siap siaga untuk membantu kamu merawat dan membesarkan anak-anak kita nantinya. Ya sudah, kalau begitu kita pulang sekarang ya"
"Iya, mas. Aku pamit dulu sama temen-temen aku ya mas"
Farhan pun langsung mengangguk kan kepalanya "Iya, sayang"
"Teman-teman gue pulang duluan ya. Lain kali kita ngobrol lagi. Bye semua nya. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Farhan pun langsung bergegas membawa istrinya meninggalkan asrama putri dengan penuh kehati-hatian.
"Jalan nya bisa cepetan dikit gak sih mas? Kalau jalan nya kayak siput gini, yang ada tiga hari lagi kita baru nyampe rumah loh mas"
"Sayang, kata dokter kan kamu kan harus jalan pelan-pelan, gak boleh buru-buru apalagi sampai lari. Mas gak mau loh kandungan kamu kenapa-kenapa"
"Terserah mas, aja deh. Tapi jalan nya bisa dicepetin dikit gak mas? Aku kebelet pipis nih"
"Apa? Kamu kebelet pipis sayang? Kenapa gak bilang dari tadi sih?" ucap Farhan sambil menggendong tubuh istrinya setelah itu ia pun langsung berlari dengan hati-hati agar istrinya tetap aman dalam gendongan nya.
'Ck. Tadi aja katanya jalan nya harus pelan-pelan. Baru dikasih tau, kebelet pipis aja. Malah dia sendiri yang semangat banget lari nya. Tapi bagus deh, biar lebih cepet nyampe rumah nya. Dari pada jalan kayak keong seperti tadi. Gak nyampe-nyampe yang ada' batin Rini
Tidak lama kemudian mereka pun sampai didepan rumah. Farhan pun langsung menurunkan kembali tubuh istrinya. Sedangkan Rini yang sejak tadi sudah menahan kencing nya pun langsung bergegas masuk kedalam kamar mandi.
"Jangan lari-lari sayang" teriak Farhan saat melihat istrinya sedang berlari menuju kamar mandi
__ADS_1
"Iya, mas. Aku udah gak lari-larian lagi kok" sahut Rini sambil berhenti berlari. Ia pun langsung kembali masuk kedalam kamar mandi dengan berjalan secara perlahan setelah diperingati oleh suaminya untuk tidak berlarian
Farhan pun langsung kembali ke kamar nya setelah memastikan istrinya masuk kedalam kamar mandi dengan aman. Sesampainya di kamar, ia pun langsung bergegas duduk di meja kerja dan langsung membuka laptopnya untuk mengecek perkembangan bisnis yang ia miliki selama ini.