
Keesokan paginya.
Mereka pun sedang bersiap-siap untuk ke berangkatan mereka ke Lombok. Farhan membantu Rini untuk mengemas baju dan keperluan mereka lainnya kedalam koper.
"Masssss" teriak Rini
"Ada apa sih sayang? Ini masih subuh loh kenapa teriak-teriak sih"
"Mas, kamu liat sunblock sama sunscreen punya aku gak mas?"
"Itu apa sayang?"
"Iiihhh... itu tuh cream yang biasa aku pake untuk ngelindungin tubuh dan wajah aku dari sinar matahari, apalagi kita kan pergi nya kepantai, aku kan gak mau pulang dari sana jadi zebra gara-gara dua barang itu ketinggalan. Mas liat gak kedua barang itu dimana?"
"Jangan kan letaknya, mas aja belum tau wujud dari kedua barang yang kamu maksud itu"
"Norak banget sih mas, masa barang begituan aja gak tau"
"Mas, kan memang gak tau sayang. Sekarang coba kamu cari dilaci meja kamu dulu atau dilemari kamu, siapa tau nyelip ditumpukkan baju kamu atau nyelip di ditumpukkan sampo sama parfum kamu"
"Gak ada mas! Dari tadi juga udah aku cari kemana-mana tetep gak ada juga"
"Dicari yang bener sayang. Nyari nya pakai mata bukan pakai mulut. Sebenarnya barang yang kamu cari itu hanya diam disatu tempat aja gak mungkin jalan-jalan ketempat lain. Kamu nya aja yang kebiasaan setiap ada barang yang ilang, mulut kamu cenderung ngedumel sedangkan mata kamu cenderung ngebuta"
"Iya iya. Ini aku coba cari lagi deh di tempat biasa"
Rini pun kembali mencari lagi kedua barang yang hilang itu ditempat biasa nya ia menyimpan barang itu. Dan benar saja, kedua barang itu ada disana hanya saja letaknya berada dibelakang deretan parfum milik nya.
"Nah ini dia barang nya akhirnya ketemu juga"
"Gimana? Barang yang kamu cari udah ketemu sayang?"
"Udah mas"
"Ketemu dimana?"
"Dimeja rias aku mas, dibelakang parfum aku ternyata. Hehehe" ucap Rini sambil menunjukkan deretan gigi putih nya
"Makanya lain kali nyari barang yang ilang itu fokus mata nya jangan ngedumel mulu"
"Iya, mas. Maklum lah namanya juga lagi panik, mana sempet mikir"
"Ya, udah sekarang kamu masukin kedua barang kamu itu kedalam koper, jangan sampe ketinggalan apa lagi ilang"
"Iya, mas" ucap Rini sambil menyimpan kedua barang tersebut kedalam koper yang akan mereka bawa
"Sayang, ini barang-barang sama baju yang mau dibawa udah semua, atau masih ada lagi yang mau kamu bawa?"
"Sebentar mas, aku cek lagi" ucap Rini sambil melihat kembali catatan barang yang akan mereka bawa "Pakaian, sendal, sepatu, sunscreen, sunblock, sampo, parfum, topi pantai,kacamata hitam, charger, kamera, mukenah, sarung, sejadah, seperti nya udah semua deh" ucap Rini sambil mengabsen barang bawaan nya
"Bagaimana sayang? Ada yang ketinggalan gak?"
"Gak ada mas. Udah semuanya"
"Ya, udah. Kalau gitu kita berangkat sekarang"
"Iya, mas"
Setelah selesai berkemas mereka pun langsung berpamitan pada kiyai Saleh dan ummi Maryam.
"Rini pamit pergi dulu ya, ummi. Doakan semoga perjalanan kami lancar sampai tujuan"
"Aamiin. Ummi pasti selalu berdoa semoga selama kalian disana, kalian baik-baik saja dan bisa kembali ke pesantren ini dengan selamat"
"Aamiin, ummi"
"Far, pamit pergi dulu ya Bah. Doakan kami selamat sampai tujuan"
"Pasti nak. Abah akan selalu mendoakan keselamatan kalian dimana pun kalian berada. Kamu juga harus jagain istrimu baik-baik ya, Far"
"Iya, Bah. Ummi, Far pamit dulu ya"
"Iya, nak. Hati-hati disana ya. Jaga istrimu baik-baik. Dan jangan lupa pulang nya bawa oleh-oleh untuk ummi"
"Insyaallah ummi, doakan saja"
"Rini, juga pamit dulu ya Bah"
"Iya, nak. Jaga dirimu baik-baik ya"
"Kalau begitu kami, pamit dulu Ummi, Abah. Assalamualaikum" ucap Farhan
"Wa'alaikumsalam" sahut ummi dan abah
Setelah mereka selesai berpamitan, mereka pun langsung bergegas pergi ke bandara yang diantar oleh ustadz Malik menggunakan mobil pribadi kiyai Saleh.
"Nyetir nya hati-hati ya nak Malik" ucap kiyai Saleh
"Baik, pak kiyai. Kalau begitu kami pamit dulu pak kiyai.
Assalamualaikum"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam"
Perlahan mobil yang mereka tumpangi mulai menjauh dari pesantren. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, mereka pun akhirnya sampai dibandara.
"Saya titip, Abah, ummi dan pesantren sama kamu ya Lik, tolong dijaga baik-baik" ucap Farhan saat berpamitan pada sahabat nya itu
"Kamu tenang aja Far. Insyaallah saya bisa menjaga semua yang ada dipesantren dengan baik. Kamu jaga istrimu saja baik-baik" ucap ustadz Malik
"Ya sudah kalau begitu kami pamit dulu ya, Lik. Assalamualaikum" ucap Farhan, ia pun langsung bergegas mengajak istrinya masuk kedalam bandara
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati dijalan ya" sahut ustadz Malik sambil melambaikan tangannya Usai mengantarkan Farhan dan Rini, ustadz Malik pun langsung kembali ke pesantren. Setelah 1 jam 20 menit kemudian, pesawat yang ditumpangi oleh Farhan dan Rini pun akhirnya mendarat dengan selamat di Bandar Udara Internasional Lombok Zainuddin Abdul Madjid setelah menempuh perjalanan sejauh 652km. Sesampainya disana mereka pun langsung bergegas menuju hotel Sikara Lombok yang letaknya hanya berjarak 28 menit dari Bandara dan 25 untuk menuju sirkuit Mandalika.
Sesampainya di hotel yang didominasi oleh warna putih dengan gaya arsitektur semi modern dan tradisional dengan sentuhan suasana tropis. Mereka pun langsung masuk kedalam kamar hotel setelah melakukan check in.
"Huh! Akhirnya kita sampai di Lombok juga ya, mas" ucap Rini saat merebahkan dirinya ditempat tidur hotel yang cukup bersih dan nyaman
"Alhamdulillah, sayang. Walaupun perjalanan nya cukup melelahkan tapi terbayarkan oleh pemandangan yang kita lihat sepanjang perjalanan tadi. Bahkan pemandangan di hotel ini juga tidak kalah indah nya" ucap Farhan sambil terus menatap istrinya
"Hheemm... yang indah itu aku atau hotel ini mas?"
"Dua-duanya sayang. Tapi bagi mas, kamu jauh lebih indah dari apapun"
Ucap Farhan sambil terus mendekatkan wajahnya pada istrinya lalu perlahan mulai membelai tubuh istrinya
Rini yang sudah paham dengan apa yang diinginkan oleh suaminya, ia pun langsung meladeni keinginan suaminya itu. Sebenarnya tubuh nya sangat lelah untuk melakukan semua itu, namun melihat hasrat suaminya yang sudah tidak bisa dibendung lagi, mau tidak mau ia pun memberikan apa yang diinginkan oleh suaminya. Setelah melakukan penyatuan cukup lama, mereka pun langsung mengistirahatkan tubuh mereka masing-masing dikarenakan terlalu lelahnya permainan yang keduanya lakukan ditambah lagi perjalanan cukup jauh yang sudah mereka tempuh membuat mereka dengan mudah nya terlelap begitu saja.
Setelah sore hari nya mereka pun langsung bersiap-siap untuk pergi ke pantai Kuta Lombok. Pantai yang berpasir putih dengan panorama alam yang sangat indah. Karena alam yang ditawarkan oleh pantai tersebut, pantai Kuta sering dijadikan lokasi tour bulan madu bagi pasangan yang baru menikah. Selama disana, mereka sibuk mengobrol dan bersantai ditepi pantai sambil menikmati pemandangan sunset di pantai tersebut. Setelah puas menikmati sunset, mereka pun langsung kembali ke hotel untuk kembali beristirahat sebelum nantinya mereka akan melakukan berbagai aktivitas menyenangkan keesokan paginya.
Keesokan paginya.
"Hari ini rencana nya kita mau kemana dulu sayang?" tanya Farhan sambil menikmati sarapan paginya bersama sang istri
"Hhhmm.. bagaimana kalau kita langsung ke sirkuit Mandalika aja. Aku udah gak sabar nih pengen nyobain trek yang ada di sirkuit itu. Boleh ya. Inget loh mas kan udah janji ngizinin aku balapan di trek itu"
"Iya iya mas masih inget kok. Kamu itu kalau urusan balap motor aja paling semangat coba kalau disuruh ngapalin surat pendek, alesan nya banyak banget, sampai sekarang belum khatam juga surat pendek nya"
"Hehehe... maklum mas, aku kan kalau dalam hal menghapal memang kurang bersemangat. Kecuali untuk melakukan hal-hal yang sifatnya praktek, itu baru aku semangat" ucap Rini sambil menunjukkan deretan gigi putih nya
"Pantesan aja kemarin pas nyampe disini, kamu semangat banget main nya. Awalnya aja sok jual mahal. Tapi kalau udah dipraktekin aja paling semangat"
"Gak usah diingetin gitu sih mas. Aku kan jadi malu sendiri denger nya. Dari pada pembahasan nya kesana mulu. Lebih baik kita langsung berangkat ke sirkuit nya aja yuk mas" ajak Rini
"Tapi itu roti kamu masih tinggal satu lagi loh sayang"
"Gak mau, mas. Udah kenyang"
"Kenyang dari mana sih? Kamu aja tadi cuma makan roti setengah itu pun setengahnya lagi kamu kasih ke mas. Kamu abisin dulu ya rotinya nanti kita langsung ke sana deh kalau rotinya udah abis"
"Alesan, bilang aja pengen buru, balapan di sirkuit"
"Hehehe.. itu mas paham. Ya udah, buruan yuk. Aku udah gak sabar nih pengen langsung nyobain treknya"
"Kalau gitu kamu sebentar ya. Mas mau ke toilet dulu"
"Jangan lama-lama ya mas"
"Iya, sayang"
Farhan pun bergegas pergi ke toilet. Tidak lama kemudian ia pun keluar dari toilet.
"Udah selesai kan mas?"
"Udah, sayang"
"Ya, udah kalau gitu kita berangkat sekarang mas" ucap Rini sambil menarik tangan suaminya
"Pelan-pelan sayang. Sirkuit nya juga gak akan pindah kok"
"Aku juga tau mas. Aku kan udah gak sabar pengen liat sirkuit nya mas. Ayo buruan"
"Iya iya"
Setelah itu mereka pun langsung keluar dari hotel menuju ke sirkuit Mandalika yang jaraknya sekitar 25 dari hotel tempat mereka menginap. Sesampainya di sirkuit Mandalika, mereka pun langsung menyewa motor latihan yang ada di sirkuit tersebut.
"Mas, kita balapan bareng yuk"
"APA? Balapan? Sama kamu?"
"Iya, mas" ucap Rini sambil mengangguk kan kepalanya
"Ohh gak deh, terimakasih. Mas gak minat, mas masih sayang jantung dan nyawa"
"Iiihh.. aku itu ngajakin mas balapan lawan aku, bukan ikut naik sama aku satu motor"
"Tapi mas gak pernah balapan di sirkuit seperti ini sayang"
"Gini deh, aku muter dulu satu kali puteran abis itu nanti gantian mas yang muterin sirkuit ini. Setelah itu mas pakai motor yang lain buat balapan sama aku, gimana? Mau ya mas" pinta Rini
"Tapi aman gak nih?"
"Aman mas, sirkuit ini kan juga sepi, jadi gak mungkin tabrakan atau senggolan sama motor lain"
__ADS_1
Sebenarnya dalam lubuk hatinya, Farhan sangat takut untuk memacu motor di sirkuit tersebut. Namun demi menyenangkan hati istrinya, ia pun mau tidak mau memberanikan dirinya untuk melakukan apa yang diinginkan oleh istrinya.
"Aku muter satu putaran dulu ya mas"
Wuussshh!!
Rini pun langsung memacu motor balap nya dengan kecepatan tinggi melewati setiap tikungan tajam yang ada di sirkuit tersebut dengan sangat lancar. Sedangkan Farhan yang tengah menonton aksi istrinya dalam memacu motor balap, ia pun berkali-kali hanya mampu menelan ludah nya. Disatu sisi ia kagum dengan kemampuan yang dimiliki oleh istrinya. Namun disatu sisi ia khawatir apakah ia bisa mengimbangi kemampuan istrinya itu dalam hal memacu motor balap. Tidak lama kemudian Rini pun menghampiri suaminya setelah ia menyelesaikan satu putaran nya dalam waktu yang singkat.
"Sekarang giliran kamu yang muterin sirkuit ini mas" ucap Rini saat turun dari motor tersebut dan memberikan kunci nya kepada suaminya
"Seperti nya mas gak yakin deh, bisa bawa motor ini sehebat kamu tadi, sayang"
"Dicoba aja dulu mas. Mas kemarin kan bisa tuh bawa motor sport aku. Aku yakin mas pasti bisa kok bawa motor balap ini. Ayo mas, semangat! Kamu pasti bisa" ucap Rini sambil memberikan semangat pada suaminya
'Huh!! Ayo Far, kamu pasti bisa. Jangan mau kalah sama istrimu. Kalau Rini yang perempuan aja bisa, masa kamu laki-laki malah ketakutan gini. Kan gak lucu kalau orang-orang tau, masa istrinya jago balap motor, suaminya justru takut naik motor balap. Bismillah Far, kamu pasti bisa.
Ya Allah tolong selamatkan nyawa ku hari ini Ya Allah. Kan gak lucu kalau harus pingsan duluan sebelum nyampe garis finish' batin Farhan
"Mas. Mas Far!" ucap Rini sambil melambaikan tangannya didepan wajah suaminya
"Eeumm... i-iya kenapa sayang?"
"Kok malah nanya kenapa sih mas? Udah buruan dinyalain motor nya, kenapa malah bengong sih dari tadi"
"Iya, sayang. Ini juga motor nya mau mas hidupin" ucap Farhan sambil menghidupkan motor balap tersebut, sebelum ia menjalankan motor nya tidak lupa ia berdoa terlebih dahulu
Bismillahirrahmanirrahim...
Wuussshh!!
Motor yang dikendarai Farhan pun melaju dengan sangat kencang. Jika Rini berhasil melewati setiap tikungan yang ada dengan sangat lancar. Berbeda dengan Farhan, ia nampak belum berani untuk memiringkan motor nya ketika melewati setiap tikungan yang ada di sirkuit tersebut, ia hanya mengurangi kecepatan motor nya setiap melewati berbagai tikungan yang ada di sirkuit tersebut. Tidak lama kemudian akhirnya Farhan pun sampai di garis finish, di sana Rini telah menunggu nya.
'Alhamdulillah ya Allah Terimakasih engkau telah menyelamatkan nyawa ku kali ini' batin Farhan
"Mas, kamu kenapa sih? Kalau ngelewatin tikungan, kamu itu harus miringin badan kamu, dilenturin aja ikutin tikungan nya jangan terlalu kaku. Malah bahaya kalau kaku kayak kamu tadi"
"Sayang, mas ini masih shock loh setelah nyelesain satu putaran ini, kenapa kamu jadi marah-marahin mas sih. Kamu tau gak sih beberapa detik yang lalu nyawa suami kamu ini diujung kematian loh, bukan nya bersyukur mas bisa sampai digaris finish dengan selamat justru kamu marahin"
Rini yang mengetahui respon suaminya yang terlihat sangat tidak suka. Ia pun langsung meminta maaf karena telah memaksa nya untuk menaiki motor balap tersebut.
"Iya iya aku yang salah. Aku minta maaf, mas" ucap Rini sambil menundukkan kepalanya
Karena ia masih kesal karena dimarahi oleh suaminya, ia pun langsung bergegas pergi meninggalkan suaminya begitu saja.
Melihat istrinya pergi begitu saja, Farhan pun langsung bergegas turun dari motor balap tersebut dan mengembalikan kunci motor tersebut kepada petugas yang berjaga disana. Ia yang menyadari bahwa kata-kata nya tadi telah menyakiti hati istrinya. Ia pun langsung bergegas menyusul istrinya.
"Rini!! Rini tungguin mas" ucap Farhan sambil berlari mengejar istrinya
Rini yang mengetahui bahwa suaminya tengah berlari mengejar nya, ia pun memperlambat gerakan supaya suaminya bisa menyusul nya.
"Sayang, mas minta maaf ya. Mas tadi gak bermaksud marahin kamu seperti tadi" ucap Farhan sambil menahan tangan istrinya agar tidak pergi dari nya
Rini pun hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dan hal itu pun membuat Farhan semakin bersalah karena telah menyakiti hati istrinya. Ia pun langsung memeluk istrinya sebagai permintaan maafnya.
"Sayang, kamu ngomong dong jangan diem terus. Mas, lebih suka kamu ceria, bawel seperti biasa. Mas, benar-benar minta maaf ya, mas beneran gak bermaksud berkata seperti tadi dengan mu. Maafin mas ya" ucap Farhan sambil mengusap punggung istrinya dan sesekali ia memberikan ciuman dikepala istrinya
Rini yang tidak tahan jika harus mendiamkan suaminya. Akhirnya ia pun menangis sekencang-kencangnya sambil melampiaskan segala emosi yang sejak tadi ia tahan.
"Huuwwaaa... mas Far jahat, jahat, jahat. Aku kan tadi hanya ingin mengajarkan mas aja bagaimana cara nya melewati tikungan yang benar, tapi mas justru marah-marah dan nyalahin aku seperti tadi. Huuwwaaa.. jahat, mas Far jahat, aku benci sama mas Far" ucap Rini sambil menangis dan memukuli dada bidang suaminya
"Iya, sayang. Mas yang jahat. Kamu boleh pukulin mas sampai puas, tapi setelah itu kamu harus janji untuk maafin mas ya"
"Gak mau! Aku baru maafin mas, kalau mas mau ikutan main dipantai yang kemarin sama aku"
"Main?? Main apa sayang?"
"Ya macem-macem, pokoknya mas harus ikut nyobain semua permainan yang ada disana mulai dari banana boat, jet sky, windsurfing, dan yang terakhir paralayang. Kalau mas nolak, aku gak mau maafin mas titik"
'Waduhh.. wahana ekstrem lagi? Yang tadi aja belom ilang sport jantung nya. Ini malah minta nambah, udah gitu wahana permainan nya menantang maut semua. Kalau di iyain, bisa-bisa aku mati berdiri. Kalau di tolak nanti Rini tambah ngambek. Ya udah deh, di iyain aja dulu dari pada gak dapet jatah gara-gara dia ngambek. Kan gak lucu kalau lagi honeymoon tapi dipaksa puasa' batin Farhan
"Mas! Gimana? Setuju gak? Jawab dong jangan kebanyakan mikir"
"Iya, sayang. Mas mau kok. Apapun wahana yang mau kamu naikin, mas pasti ikut juga kok"
"Asik, gitu dong mas. Kalau gini kan liburan nya jadi lebih menyenangkan. Ya udah kalau gitu kita langsung ke pantai nya sekarang aja ya"
"Iya, tapi kamu tunggu sebentar ya. Mas kan harus lepasin baju balap nya ini"
"Oh iya, aku lupa mas masih pake baju balap nya. Ya udah, aku tunggu disini aja deh. Jangan lama-lama ya mas"
"Iya, sayang. Kamu tunggu disini sebentar ya, jangan kemana-mana loh"
Rini langsung mengangguk kan kepalanya dengan cepat "Iya, mas"
Farhan pun langsung bergegas untuk menganti baju balap yang dari tadi ia kenakan. Setelah berganti baju, ia pun langsung menghampiri istrinya.
"Kita langsung berangkat sekarang aja, sayang" ucap Farhan sambil menggandeng tangan istrinya
"Iya mas"
Mereka pun langsung bergegas pergi meninggalkan sirkuit tersebut untuk menuju ke pantai Kuta Lombok untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1