
"Kayanya itu gak adil buat Nesya, om. Dia yang seharusnya berhak dapetin semua warisan om Surya."
"Dia tetap dapat, kok." Om Surya menjawab capat, "Mobil, rumah, tanah, semua dia dapat. Tapi saham, kamu yang dapat." Kepalaku jadi gatal. Sebenarnya siapa anak kandungnya sih?
Belum sempat ngasih jawaban lagi, om Surya ngelanjutin.
"Kamu tahu sendiri, Nesya gak punya sense of buisnes. Dia cuma pintar ngabisin duit. Dia pake cara pertama buat berhubungan sama uang. Kalau dia yang pegang saham, perusahaan bakal hancur. Dan yang paling parah, proyek-proyek pemancing senyum itu adalah yang pertama yang bakal tergerus."
Jalan gak terlalu rame malam ini. Yang rame tiba-tiba otakku. Segala isinya bersilang-sengkarut sampe nyaris gak bisa mikir. Pernikahan ini cuma pura-pura. Tapi sahamnya beneran.
"CSR ini sebenarnya di tentang oleh mereka yang ngerasa ini cuma proyek zonk. Gak ada hasilnya. Maksudnya gak ada hasil duit yang masuk ke kita. Gak bagus juga buat branding karena pendidikan butuh waktu melewati satu generasi untuk menghasilkan sesuatu. Makanya mereka yang cuma mikirin duit lagi duit lagi selalu berusaha menghentikan aliran dana perusahaan ke program ini. Kalau gak punya kuku yang kuat, kapan aja proyek ini bakal berhenti."
"Yah, saya akan bantu om Surya. Gak usah pake warisan, saya bantu karena saya sepakat dengan visi pendidikan yang om sampaikan tadi."
Om Surya ngebales kalimatku cepat, hampir kaya orang sesak nafas. "Kalau saya masih ada, kamu bisa kaya gitu. Tapi kalau saya udah gak ada, kamu harus punya pegangan biar bisa tetap bertahan."
"Kan ada Nesya, om. Saya yakin dia sekarang keliatan cuma ngabis-ngabisin duit aja karena belum dikasih kesempatan buat terjun langsung ke perusahaan."
Di om berdecak keras. "Dia sama sekali gak tertarik sama perusahaan. Kamu lihat sendiri, kuliah aja dia ambil jurusan elektro, Gak ada hubungannya sama sekali dengan perusahaan kita."
Mendengar om Surya ngomong perusahaan kita, bikin aku gemes pengen nampol. Ini perusahaan om, bukan perusahaan kita.
"Yah, mungkin perlu dicoba sesekali melibatkan dia, om." Aku masih berusaha sabar, gak nge-gas biar pun dalam hati agak kesel.
Gimana anak bisa berkembang kalau orang tuanya gak percaya sama dia?
"Gak ada waktu, yan!" Napas om Surya memburu. Dia menarik-menghembuskan udara pendek-pendek dari hidung.
Aku berusaha tetap tenang. "Memang harus pelan-pelan, om. Karena ini pasti hal yang baru banget buat Nesya. Tapi saya akan bantu, om." Seenggaknya ada waktu buat mendampingi si anak manja itu dalam proses adaptasi.
"Pelan..." Suara om seperti tersekat di tenggorokan, " Pelan.." Fia meremas d**a sambil ngatur napas.
"Kenapa, om?" Tanyaku dengan perasaan yang mulai sedikit gak enak. Jalanan emang gak terlalu rame, tapi gimana bisa konsentrasi di samping ada calon mertua lagi sesak napas.
"Terlalu...lama.." Ucapnya dan suaranya hilang entah kemana setelahnya.
"Om?" Aku jangkau badannya dengan tangan kiri. Om Surya gak bergerak lagi. "****!" Banting setir, langsung berseru.
"Ok, google! Rumah sakit terdekat!" Berkat kecanggihan teknologi memandu perjalanan, hanya butuh waktu lima menit buat nyampe di IGD. Sambil gendong om Surya di punggung, aku teriak-teriak minta tolong nyaris kaya orang gila.
__ADS_1
Om Surya dibaringkan di brangkar, waktunya ngambil napas dikit. Benar-benar dikit, karena kemudian ada perawat datang nanya-nanya sambil bawa papan jalan. "Maaf, pak. Penjaminnya siapa, ya?"
Hah? Penjamin? Ada orang mau mati, dia malah nanya penjamin? "Saya. Tulis aja, Zian Prasetyo."
"Maaf, pak boleh pinjam KTPnya?" CK! Urusan administrasi gini, benar-benar bikin malas sekaligus mules.
"Cepet tanganin om saya, mbak!" Aku keluarin KTP sambil pamer kartu kredit. Dan manjur, saat itu juga om Surya langsung di tanganin.
Dasar rumah sakit mata duitan! Selesai administrasi, aku langsung telpon nomor dokter yang tadi udah dikasih pak Joko, supir pribadi om Surya. "kalau ada apa-apa." Gitu katanya pas ngasih kunci mobil. Filing pak Joko memang tepat, hari ini kasih kartu nama hari ini langsung dibutuhkan.
Hebat! telpon langsung diangkat gak pake lama. "halo, salammelekum," Yang jawab suara cadel anak kecil.
"Eh?" Jadi ragu, bener gak, nomornya. "Waa'laikumsalam. Ini bener nomornya dokter Ahmad?"
"Iya, abi-nya lagi bobo." Oh, ternyata yang ngangkat anaknya.
"Bangunin Abi, dong dek. Bilang darurat, ya?"
Gak terdengar apapun, hanya suara gemercik, lalu, "*Gak bisa, om. kamalna di kunci*."
Hadeh! kamarnya dikunci, anaknya dikasih main hape. Lagi ngapain ya? kebelet kali ya? Hahaha!
Lalu terdengar teriakan. "Abi! Abi! ulatan!" Kok ulatan? Siapa yang yang kena ulat? wah, kebangetan ni anak.
"Abi! Abi! ulat!" Omaigat! sabar, Zian. Ini ujian.
Terdengar suara kunci pintu dibuka. "Ada apa?" Akhirnya terdengar suara orang dewasa. mungkin ibunya anak itu.
Gak salah dugaan gue, suami istri dalam kamar, kamarnya dikunci. Anaknya diluar main hape. Ngapain lagi coba? kalian bayangkan sendirilah. males gue hahaha!
"Teplon, umi," Suara cadel si anak kecil lagi. Kemudian disambung dengan suara perempuan yang tadi.
"Oh, halo. Ini siapa ya?"
"Halo, Bu. Ini Zian. Calon mantunya pak Surya. Sekarang pak Surya sedang di IGD. Bisa minta tolong pak dokter untuk memeriksa? Tadi saya dipesan kalo ada apa-apa langsung telpon dokter Ahmad."
"Oh," Lalu terdengar suara perempuan di latar belakang menjelaskan apa yang baru aku bilang.
"Halo," Akhirnya suara laki-laki, "Fi rumah sakit mana?"
__ADS_1
"Di rumah sakit (nama rumah sakit) dok."
"Oke, saya langsung kesana."
* * * * *
Dokter Ahmad tiba setengah jam setelah aku telpon. Agak macet, katanya. Terserah, gak penting. Yang penting om Surya langsung dapat penanganan tepat karena rumah sakit ini gak ada medical record-nya."
Begitu tahu siapa om Surya, pihak rumah sakit terlihat segitu antusias. Proses pemeriksaan langsung diawasi oleh manager pelayanan. Bayangkan, pak manager mengorbankan tidurnya demi memastikan bahwa satu pasien mendapatkan pelayanan prima.
Dokter Ahmad menceritakan situasi dan kondisi kesehatan om Surya seperlunya. Ia minta pihak rumah sakit melakukan operasi untuk mengeluarkan cairan yang menggenang di paru-paru. Karena itulah biang keladi henti napas tadi.
Pihak rumah sakit setuju, namun menolak dokter Ahmad untuk terlibat. Pak dokter yang penuh dedikasi ini tentu saja keberatan. Dia sudah menandatangani kontrak khusus dengan om Surya untuk menjadi penanggung jawab atas seluruh medis yang dilakukan pemimpin angkasa group itu.
Dan aku, makin kesal dengan perdebatan yang sebenarnya cuma menjaga pundi-pundi uang. Ketika pak manager datang. Saat itu juga fokus beralih pada bagaimana cara memancing uang lebih banyak lagi.
"Ok, bapak-bapak. Bisakah kita fokus pada kebaikan pasien? Apa yang paling dibutuhkan pasien saat ini?" aku berusaha menengahi.
"Operasi!" Dokter Ahmad menjawab cepat.
"Oke! Itu yang kita lakukan sekarang! Dimana ruang operasi?" Tanyaku langsung ambil alih kepemimpinan secara sewenang-wenang. Gak peduli muka pak manager cengok dengan mulut menganga.
"Siap!" dokter Ahmad ikut berseru. " Siapa dokter anestesi yang bertugas?" dia langsung memandang berkeliling.
Sementara pak manager segera aku hadang dengan kata-kata. "Soal biaya. Gak usah kawatir. Kirim aja semua tagihannya ke saya. Termasuk ganti rugi kalau ada."
Lelaki berkemeja abu itu tak berkutik, malah segera memburu dokter anestesi untuk segera menyiapkan ruang operasi. Pasti hujan uang sudah membayangi di pelupuk matanya. Kalian tahu kartun Spongebob? dia udah seperti si kepiting merah itu. Lupa aku siapa namanya. sebutkan aja di komentar ya, hahaha!
Di kursi ruang tunggu operasi, akhirnya bisa duduk bersandar. Lelah banget malam ini. Gak cuma badan, otak pun terasa luruh. Padahal besok harus presentasi, tapi kepala udah gak sanggup di ajak mikir.
Air mineral di tangan udah tandas beralih ke perut. Botolnya kosong sekarang, sekosong pikiran di benak. Masih gak ngerti apa maunya om Surya.
Tiba-tiba jadi ngerasa kaya bidak di papan catur. Apa yang sedang di rencanakan orang itu? Langkah apa yang sedang dibangunnya? Strategi apa yang sedang dijalankannya?
Pusing! Aku remas botol air mineral sepipih mungkin. Dengan satu kali lemparan. Plastik itu udah beralih ke tempat sampah.
udah gitu aja,
jangan lupa like ya,
__ADS_1
haha!